Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Rasa Yang Belum Jelas


__ADS_3

Ketika di hadapkan dengan dua pilihan, seringkali rasa bingung dan bimbang menentukan salah satunya menyelimuti hati dan pikiran. Ada beragam penyebab seseorang menjadi bingung memutuskan sesuatu untuk hidupnya. Akan tetapi beberapa kondisi menyebabkan harus memilih satu di antara keduanya. Hal ini yang Saguna rasakan saat ini untuk kedua kalinya.


Keputusan beberapa waktu lalu ia rasa cukup menenangkan dirinya sementara waktu. Namun, saat ini ia ternyata salah. Keputusan awal nyatanya tak cukup menyelesaikan bahkan kini dua wanita yang ada di hidupnya sudah saling bertatap muka.


Arumi menangis di papah Gita untuk segera bangun meski beberapa kali wanita itu memberontak. Sakit tentu saja Arumi rasakan, bagaimana bisa ia yang menangis sepanjang hari di rumah mengurung diri kini mengetahui sang kekasih tengah berpelukan dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya.


"Kak Arumi, mari saya bantu duduk. Kita bicarakan bersama dengan baik-baik." ucap Gita lemah lembut.


Saguna mendengar suara itu tentu hanya bisa menatap dalam diam. Posisi Arumi dan Gita tidak ada yang salah menurutnya. Hanya saja keadaan yang membuat Saguna harus menghadirkan dua wanita itu di hidupnya. Dan kini ia sudah tidak tahu apa yang terjadi ke depannya.


"Arumi, Gita benar. Kita bicarakan di sana dengan tenang. Aku mohon jangan seperti ini." Saguna berucap tanpa berniat menyentuh atau menenangkan Arumi.


Entah apa yang ia rasakan, kesedihan tentu saja terlihat saat Saguna tahu Arumi datang dan melihat mereka berpelukan sangat erat. Namun, ada sesuatu yang Saguna rasa saat ini pada Arumi. Meski ia sendiri sangat sulit mengartikan rasa itu.


"Sa...kita masih bersama kan?" Pertanyaan Arumi lolos begitu saja saat ia sudah di bantu duduk oleh Gita.

__ADS_1


Keadaan hening beberapa saat hingga Gita berinisiatif meminta pelayan membawakan air minum. "Bibi, saya minta tolong air minum yah?" tuturnya di iringi senyum pada pelayan.


"Baik, Nyonya muda." jawab pelayan dengan sopannya.


"Kak, ayo minum dulu." Gita dengan telaten menyodorkan segelas air pada bibir Arumi dan beruntung Arumi yang menangis terisak mau menerima itu.


Perlakuan lembut Gita tak lepas dari tatapan dalam Saguna. Wanita cantik berhati lembut dan tulus yang kini mengandung benihnya sungguh Saguna begitu sangat menyukai itu. Hatinya sangat sadar bagaimana Gita menjadi seorang istri yang sangat penting di hati pria itu.


Satu gelas air minum tandas di tangan Gita dan ia letakkan di meja. Barulah setelah itu Arumi menatap wajah Saguna.


Mata pria itu beralih menatap ke arah sang istri yang duduk di sisi Arumi. Di depannya kini Saguna bisa melihat dua wanita pemilik hidupnya tengah berdampingan duduk. Sama-sama cantik, sama-sama anggun, lembut dan sangat mencintainya.


Yah, Saguna yakin bagaimana cinta Gita padanya meski mereka tak pernah saling mengungkapkan. Bagi Saguna ungkapan cinta tak ia butuhkan melainkan dengan semua pengabdian Gita padanya sudah cukup menjelaskan bagaimana wanita itu menjalankan perannya sebagai istri selama ini.


"Semua masih seperti keputusan awal, Kak. Usia kehamilanku saja masih sangat kecil." Gita bersuara tanpa berniat membiarkan keadaan hening begitu saja.

__ADS_1


Hingga akhirnya lamunan Saguna buyar mendengar itu semua. "Arumi, maafkan aku. Kehamilan Gita adalah yang utama saat ini. Aku berhak menjadi ayah yang siaga untuk anak kami. Tatalah hidupmu tanpa aku, maafkan aku yang tidak bisa menjadi pria yang selalu melindungimu. Saat ini aku adalah suami Gita. Entah ke depannya...maka dari itu aku mohon dengan sangat berdirilah di kakimu sendiri. Aku dan Gita akan berusaha membantumu bangkit kembali. Jangan seperti ini, aku minta maaf aku benar-benar salah, Arumi."


Luruh air mata Arumi mendengar penuturan Saguna yang cukup panjang itu. Meski yang ia bisa cerna hanya perkataan maaf berulang kali. Sayangnya, perasaan Gita sudah terlanjur terpuruk. Sungguh tak pernah ia membayangkan bagaimana hidupnya tanpa sosok Saguna.


Selama enam bulan saja ia kehilangan pria itu sangat menyakitkan baginya. Bagaimana mungkin Arumi melanjutkan hidup tanpa Saguna ke depannya dan selamanya? Tidak. Arumi tidak ingin membayangkan hal itu terjadi. Hanya Saguna dan kedua orangtualah yang Arumi miliki saat ini.


"Tidak, Sa. Aku tidak bisa. Aku akan menunggu dan aku yakin kau akan kembali padaku. Sa...pernikahan kita akan tetap berlanjutkan?" Arumi kini bersimpuh di kaki Saguna.


Di sana ia menangis tanpa menghiraukan keberadaan Gita. Hatinya sangat sakit dan itu tak bisa ia tahan lagi sakitnya.


"Arumi, bangunlah. Jangan membuat dirimu mengemis seperti ini, aku tidak pantas untukmu, Arumi. Aku sudah menikah." Saguna akhirnya tanpa sadar mengatakan seolah dirinya tak akan bersama Arumi ke depannya meski ia tidak bersama Gita.


Dan kata Saguna yang terakhir cukup membuat Arumi mengartikan pernikahan Saguna adalah hal yang berarti untuknya dan tidak boleh Arumi mengganggunya.


"Sa...tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku sudah melakukan sesuai yang kau minta. Aku tidak datang padamu selama pernikahan. Hari ini aku sungguh tidak berniat mendatangimu. Aku hanya ingin berkenalan dengan dia. Sungguh, Sa...aku tidak berniat melanggar perjanjian kita. Aku mencintaimu, Sa. Aku mohon jangan seperti ini padaku, Sa. Aku sakit." Arumi terus menjelaskan. Sungguh ia takut jika Saguna marah lantaran Arumi datang ke kediaman Saguna dan Gita hari ini.

__ADS_1


__ADS_2