
Entah apa yang menjadi pemula, yang pasti saat ini sosok yang mulanya berniat mencari ketenangan justru sudah bergerak dengan pelan di atas tubuh sang istri yang tengah hamil itu. Suara dari mulut keduanya serta tempat tidur yang bergerak seirama dengan permainan nyatanya mengiringi permainan mereka hingga tuntas.
Sumpah demi apa pun, bukan ini awal mula tujuan Saguna menuju ke rumah menemui sang istri. Namun, ia sadar sentuhan yang ia dapatkan barusan mampu membuat pikirannya jauh lebih tenang siang itu. Kemarahan dan kekalutan yang menyergap pikirannya hilang entah ke mana. Yang tersisa kini hanyalah rasa lelah usai melakukan penyatuan yang cukup lama terhenti itu.
"Istirahatlah, Mas. Aku ambilkan minum sebentar yah?" ucap Gita lembut ingin beranjak dari tempat tidurnya. Namun, belum saja ia beranjak dari tempat tidur yang berantakan itu. Tangan kekar Saguna sudah melingkar di pergelangan tangannya menahan pergerakan itu.
"Tetaplah di sini, Git. Aku membutuhkanmu. Ayo kemari." pintahnya memohon dengan sorot mata yang jelas Gita tahu ada kesedihan di sana.
Tidak tega menolak, Gita segera kembali berbaring di samping sang suami dan memeluk tubuh polos suami tampannya itu. Jujur, Gita tak bermaksud untuk jahat pada sang suami atau pun Arumi. Di dalam lubuk hati yang terdalam, Gita begitu sangat bahagia kali ini. Sekian lama Saguna akhirnya sudi menyentuhnya lagi. Dan entah mengapa hal itu membuat keyakinan dalam diri Gita semakin bertambah untuk memiliki Saguna seutuhnya.
"Maafkan aku yang egois, Kak Arumi. Aku mencintai suamiku. Dan aku patut mempertahankan pernikahan ini..." lirih Gita jelas merasa bersalah pada Arumi yang bahkan hampir gila menunggu Saguna kembali padanya.
__ADS_1
Beberapa menit terjadi keheningan, hingga akhirnya Gita pun mendengar suara dengkuran halus dari sosok sang suami yang mendekapnya begitu erat. Pelan tangannya mengusap lembut kepala sang suami. Wajah tampan dan putih bersih tanpa bulu yang panjang di rahangnya membuat Gita tanpa sadar tersenyum-senyum.
"Suamiku tampan sekali...wajah kamu benar-benar sempurna Mas. Semoga anak kita nanti mirip kamu yah? Pasti lucu sekali." tutur Gita yang mulai mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya juga.
Mereka yang tidur tidak tahu bagaimana nasib Arumi saat tiba di rumahnya hari itu. Ia bahkan tak lagi menangis. Melainkan memohon pada kedua orangtuanya untuk membantunya bisa bergaul dengan dunia luar.
"Dad, Arumi mohon. Bantu Arumi bisa kerja di perusahaan Saguna. Dengan begitu Arumi bisa melihatnya setiap waktu. Arumi yakin semakin kami jarang bertemu, Saguna bisa melupakan Arumi..." mohon gadis itu bahkan sampai menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Daddy dan mommynya hanya bisa saling pandang tanpa bisa berucap apa pun. Mereka benar-benar sedih melihat sang anak sampai begitu usahanya memperjuangkan kekasih yang bahkan sudah menjadi suami wanita lain.
Arumi menatap wajah sang mommy saat ini. Ia tahu kedua orangtuanya tak akan mampu berkeras padanya sebab Arumi memiliki kelainan jantung sejak lahir. Itulah sebabnya ia selalu saja berada di rumah tanpa memiliki teman lainnya.
__ADS_1
Nyatanya hal ini masih di rahasiakan keluarga dari Saguna. Sebab semua Arumilah yang meminta. Ia tidak ingin Saguna tahu kekurangannya.
"Dadd, biarkanlah. Dan Arumi harus berjanji pada mommy dan daddy tidak akan mengganggu mereka. Hanya sebatas ingin melihat Saguna saja. Okey?" tanya Sekar memastikan anaknya tak akan melakukan hal nekat.
Segera Arumi mengangguk cepat. Ia tersenyum dan sangat bahagia merasa mendapatkan dukungan dari sang mommy.
Sementara Tuan Fatir tampak menghela napasnya kasar. "Baiklah, besok Daddy akan bicarakan dengan Saguna. Sebab dialah pemilik perusahaan itu meski Daddy memiliki saham di sana. Rasanya tidak etis jika Daddy langsung main masukkan kamu, Arumi." Mendengar ucapan sang daddy, Arumi segera bangkit dari duduknya dan memeluk kedua orangtuanya bersamaan.
"Arumi janji, Dadd, Momm. Semua akan baik-baik saja. Arumi hanya mengingatkan Saguna dengan semua kenangan kami. Setidaknya ia tak akan lupa dengan semua yang kita lewati selama ini. Arumi yakin Saguna sangat mencintai Arumi sampai saat ini." tuturnya penuh keyakinan.
Tak ada lagi rasa gelisah yang ia rasakan seperti saat kepulangannya dari kediaman Saguna. Melihat bagaimana Saguna memeluk Gita, cukup menyadarkan Arumi. Waktu dan tempat sangat berpengaruh dengan keteguhan hati Saguna.
__ADS_1
Dan ia tak akan berdiam diri saja menunggu kelahiran bayi Gita. Ia harus tetap mempertahankan namanya di hati pria yang sangat ia cintai itu.
"Maafkan aku, Gita. Aku tidak bermaksud jahat padamu dan bayimu. Tapi aku yang lebih dulu bersama Saguna. Aku tidak bisa merelakannya begitu saja. Aku dan Saguna saling mencintai bahkan jauh sebelum kau mengenalnya. Maafkan aku..." gumam Arumi sembari masih memeluk tubuh kedua orangtuanya itu.