
Ruangan yang sangat sempit dan pengap rasanya menjadi tempat seorang pria menundukkan kepalanya. Penyesalan tak akan bisa mengembalikan semuanya. Sungguh ingin rasanya ia kembali pada waktu dimana semuanya masih baik-baik saja.
“Maafkan Paman, Saguna. Paman sungguh khilaf. Paman benar-benar menyesali semuanya.” Pria itu tertunduk menahan air mata yang hendak berjatuhan.
Yah, pria yang menjadi tikus berdasi itu rupanya adalah sang paman sendiri. Sungguh Saguna telah mempertimbangkan semua ini beberapa waktu hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap menjalankan keadilan.
Tak perduli lagi dengan ikatan keluarga yang mereka miliki, membiarkan orang berbuat salah tentu saja sama halnya dengan mendukung kejahatan itu terus berlangsung.
“Khilaf dengan mencoba melenyapkan nyawa saya. Apa itu termasuk kata khilaf? Sebanyak itu yang saya berikan fasilitas untuk kalian sekeluarga. Masih kurang? Sungguh saya tak habis pikir.” Saguna tampak menggelengkan kepalanya setelah cukup lama pria itu terdiam mencermati wajah pria paruh baya di depannya.
Tak bisa berkata apa pun, Paman Saguna segera duduk berjongkok di kaki sang keponakan. Ia bahkan menangkupkan kedua tangan memohon.
“Saguna, Paman mohon ampuni Paman. Tolong jangan hukum Paman, Saguna. Paman akan memperbaiki semuanya. Tolong, Saguna. Beri Paman kesempatan kedua…” ia meneteskan air mata yang tidak bisa lagi ia tahan.
Namun, Saguna yang terus berdiam diri justru menggenggam tangannya dengan kasar. Wajahnya memerah ingin memukul wajah pria di depannya kini.
__ADS_1
Rasa hormat dan kasih sayang yang ia harapakan dari pria ini sungguh membuatnya jijik sekali.
“Lupakan maaf itu dan jalani hukuman yang pantas anda dapatkan.” Mendorong kasar tubuh pria yang berjongkok di depannya.
Saguna berdiri hendak keluar. Namun, langkahnya terhenti kala mendengar suara dari orang yang ia kenali.
“Sa…” Oma Rosa tampak mengerjapkan mata melihat sang cucu yang bersama seorang pria yang sangat ia kenali.
Satu persatu Oma Rosa menatap dua pria itu bergantian.
“Ya Tuhan? Apa Paman orang yang Saguna ceritakan selama ini?” tanya Gita tak menyangka.
“Saguna, katakan pada Oma apa yang terjadi?” Suara Oma Rosa sudah tampak meninggi. Dadanya terasa tiba-tiba sesak melihat salah satu keluarganya berada di kantor polisi.
“Dana? Apa yang kamu lakukan? Apa kamu telah berbuat jahat?” Oma Rosa akhirnya bertanya pada Paman Dana.
__ADS_1
Namun, secepat kilat Saguna sudah menjawab. “Orang yang ku percaya menjadi pengganti Ayah, rupanya orang yang ingin mencabut nyawa keponakannya sendiri. Oma, kita pergi dari sini. Orang seperti dia tidak pantas untuk berada di keluarga kita.”
Usai mengatakan itu, Saguna pun bergegas meninggalkan ruangan dengan Gita yang membawa Oma Rosa dalam kebingungan.
Oma Rosa tak bisa berpikir saat ini. Yang ingin ia tahu adalah Saguna menceritakan semuanya dengan jelas. Dan itu adalah di rumah.
Yah, akhirnya mereka pun pergi kembali ke rumah setelah keadaan sangat mengejutkan terjadi di kantor polisi.
***
Sementara di kediaman Arumi.
“Dad, tolong jangan seperti ini. Arumi mencintai Saguna, Dad. Arumi mohon.” Wanita cantik yang mulai berisi badannya menangis sesenggukan mendengar sang Daddy memutuskan agar mereka harus berangkat keluar negeri besok.
“Arumi, sudah cukup Daddy dan Mommy memanjakan kamu selama ini. Tapi tidak kali ini, Arumi.
__ADS_1