Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Profesional


__ADS_3

Di ruangan yang tampak sunyi, pagi itu menjadi tempat dua orang saling berdiskusi. Tatapan dan setiap kata yang terucap terdengar sangat serius kali ini.


"Ini berkasnya, dan ini beberapa jalur yang bersangkutan. Saya yakin tidak hanya masalah ini saja. Pasti banyak masalah yang terjadi tanpa saya sadari terjadi selama ini akibat mereka." Saguna memberikan beberapa berkas hasil temuan Angga serta beberapa data orang yang terkait.


Pria dengan tampilan biasa jauh dari kata mewah itu menganggukkan kepalanya paham. "Siap Tuan, beri saya waktu untuk menyelesaikan ini semua." ucap pria yang tak lain adalah seorang intelejen kepercayaan Saguna.


Merahasiakan misi ini demi bisa mengungkap semuanya menurut Saguna akan jauh lebih baik, dari pada harus menangkap pelaku tanpa bukti yang banyak. Itu justru akan memudahkan pelaku bebas kembali. Indonesia tetaplah negara yang berdasarkan undang-undang. Tak bisa melakukan tuntutan yang berlebihan jika bukan kasus yang besar dan berlapis.


Setelah kepergian pria itu, kini Saguna hendak melanjutkan pekerjaan usai memastikan tak ada dokumen apa pun yang mencurigakan di atas meja kerjanya.


Tok Tok Tok


Terdengar ketukan pintu tiba-tiba di luar sana. "Tuan, ada Tuan Fatir yang ingin bertemu anda." Angga yang kebetulan berada di luar terpaksa harus mengganggu waktu sang tuan muda kala melihat Fatir yang meminta tolong.


Sebab ia tahu bagaimana dekatnya Saguna dengan pria yang hampir menjadi mertuanya itu. "Biarkan beliau masuk." jawab Saguna.


Tak lama Tuan Fatir muncul dengan senyum di wajahnya dan Saguna melihat di punggung pria paruh baya itu ada wanita cantik yang sudah jauh lebih segar dari hari kemarin.

__ADS_1


Bukan Tuan Fatir yang membuat Saguna fokus saat ini, mata pria itu fokus pada rambut indah hitam milik Arumi. Sungguh, kecantikan dan rambut panjang itu membuat Saguna sangat ingat setiap momen mereka dulu.


"Sa..." sapa Arumi dengan senyum hangatnya.


Saguna terdiam sejenak lalu memaksakan senyumannya.


"Dad, Arumi. ayo masuk." ujarnya mempersilahkan.


Ayah dan anak itu masuk dan duduk di sofa ruang kerja Saguna. Ketiganya duduk dengan wajah yang serius. Tak ingin berlama-lama, segera Tuan Fatir menyampaikan tujuannya datang pagi ini ke perusahaan The Winston.


"Jadi itu tujuan Daddy kemari. Daddy harap kamu bisa membantu Arumi untuk bersosialisasi di sini. Kamu yang paling tahu tentang Arumi, Saguna. Daddy sangat lega jika Arumi bisa memiliki banyak teman tanpa bergantung padamu selalu." Saguna akhirnya paham usai Tuan Fatir menjelaskan tujuannya untuk memasukkan Arumi ke kantor bekerja.


"Aku pasti akan sanggup, Sa. Kuliahku pun bagian keuangan bukan? Bahkan kau sudah banyak mengajarkan ku tentang pekerjaan yang berkaitan dengan keuangan perusahaan. Aku harap kau tidak lupa itu." ujar Arumi sontak membungkam bibir Saguna.


Ia akhirnya ingat jika dulu Arumi benar-benar seperti wanita yang memiliki perusahaan besar ini. Semua bahkan sering ia coba hanya untuk sekedar melepas rasa penasaran bekerja di perusahaan sang calon suami.


"Biarkan aku bekerja mulai hari ini, Sa. Aku tidak kuat jika di rumah terus." bibir Arumi tampak mengerucut sedih. Dan itu membuat Saguna tak tega untuk membuat wanita cantik itu kecewa.

__ADS_1


"Baiklah, biarkan Angga yang akan mengantarkanmu." ujar Saguna ingin menyelesaikan semua dengan cepat.


Sebab selain pekerjaan, pikirannya pun juga masih penuh dengan kejadian yang membuatnya pusing kali ini. "Yasudah kalau begitu Daddy kembali ke perusahaan dulu." ujar Tuan Fatir.


"Sa, ayo antarkan aku. Setelah itu kau bisa bekerja dengan tenang. Angga sedang turun ke lantai bawah dengan seseorang tadi." tutur Arumi memberi tahu pada Saguna.


Enggan membuang waktu, Saguna dengan sigap mengantar wanita itu keluar ruangan menuju ruangan yang tersisa satu kursi kosong di sana.


"Untuk sementara direktur keuangan akan membantumu di sini. Tapi setelah kau bisa bekerja dengan baik, maka ia akan aku alihkan ke cabang lainnya." ujar Saguna tampak formal.


Mendengar itu tentu saja Arumi sedih, matanya menatap dalam wajah tampan pria yang bersamanya saat ini.


"Sa, aku mohon jangan bersikap dingin seperti ini. Aku tidak bisa. Tolong bantu aku untuk tetap bersemangat." tutur Arumi di saat mereka berjalan menuju ruangan direktur keuangan itu.


Sungguh, Saguna tak ingin membahas apa pun itu selain pekerjaan.


"Kita sedang dalam jam kantor, Arumi. Aku harap kau mengerti itu." ujarnya dingin.

__ADS_1


Usai mengantar Arumi, Saguna segera kembali ke ruangannya tanpa perduli bagaimana tatapan sedih Arumi yang ia tinggalkan begitu saja.


"Apa kau hanya bersembunyi dari kata profesional, Sa? Apa dia benar menutupku untukmu?" gumam Arumi begitu sedih namun sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak jatuh merusak make up. Pertama datang tadi Arumi begitu bahagia melihat respon Saguna yang terpukau dengan rambut indahnya yang palsu itu.


__ADS_2