Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Pagi Yang Indah


__ADS_3

Hari yang menjadi sakitnya sosok Saguna kini telah berganti menjadi malam yang sunyi. Kediaman yang megah itu tampak sunyi saat sepasang suami istri itu masih tidur lelap dalam selimutnya. Lelah tentu saja, Saguna sangat lelah di mana tubuhnya yang lemas harus ia bangunkan demi menuntaskan hasratnya pada sang istri.


Samar-samar dengkuran napas ketenangan dari sang suami membuat Gita mengerjapkan matanya. Ia menyipitkan mata guna menghalau silau lampu kamar mereka saat pertama membuka mata.


"Hah sudah jam delapan malam?" Terkejut Gita seketika bangun dari tidurnya. Pantas saja saat tidur tadi ia merasakan perutnya yang perih ternyata waktu makan malam telah terlewatkan tanpa mereka sadari.


"Nyonya! Tuan!" Di depan pintu kamar itu terdengar suara yang entah sejak kapan mengetuk dan memanggil nama penghuni kamar utama. Gita menoleh menatap ke arah pintu.


"Iya, Bi." teriaknya sembari berjalan membuka pintu usai memastikan tubuhnya memakai bathrobe dengan sempurna.


"Makan malamnya sudah dingin, Nyonya. Apa kami panaskan lagi?" Pelayan berbicara sembari menundukkan kepalanya.


Gita menggeleng pelan. "Tidak usah, Bi. Biarkan saja dingin kami akan memakannya. Lagi pula tidak bagus makan yang di panaskan kembali." jawab Gita menolak halus.


"Apa kami perlu memasak yang baru lagi, Nyonya? Sebab dari tadi saya memanggil tak ada jawaban." jelas sang pelayan kemudian.


"Tidak perlu. Sebaiknya Bibi kerjakan yang lainnya saja. Kami akan keluar sebentar lagi." ujar Gita.


Malam itu pun mereka menikmati makan malam yang sudah agak dingin, sama halnya dengan suasana di rumah Arumi yang dingin. Namun, itu sudah cukup lebih baik dari hari sebelumnya. Di mana Arumi terus mengurung di kamar. Malam ini kedua orangtuanya dan pelayan bisa melihat wanita itu duduk di meja makan untuk pertama kalinya lagi.


"Dadd, besok biarkan aku pergi ke kantor sendiri saja." ujarnya di sela-sela menyuap makanan.


Fatir tampak menghentikan makan malamnya sejenak. "Arumi, besok Daddy baru akan bicara dengan Saguna. Sebaiknya tunggulah di rumah saja." tutur pria paruh baya itu merasa tak enak. Namun, untuk menegur sang putri secara langsung ia tak ingin membuat jiwa Arumi terguncang lagi.

__ADS_1


Sebagai orangtua, ia sangat senang malam ini bisa melihat anaknya makan di meja makan dengan tenang tanpa ada yang memaksa.


"Dadd, biarkanlah. Biarkan Arumi mendengarnya secara langsung besok. Apa pun keputusan Saguna pasti akan membuat Arumi puas. Dari pada mendengar dari Daddy." Sekar akhirnya ikut menimpali. Dan Arumi menganggukkan kepalanya.


Lagi-lagi Fatir menghela napasnya kasar. Ia hanya bisa mengangguk lirih pada akhirnya. "Yasudah, tidak apa-apa. Besok Daddy tunggu di sana saja." sahut pria itu tak ingin keras pada sang anak.


Harapan mereka satu-satunya dengan keinginan Arumi bekerja dan mengenal lingkungan di luar akan ada perubahan dari wanita itu. Memiliki lingkungan sendiri dan membuat Arumi pelan-pelan bisa melupakan sosok Saguna yang tak akan mungkin menjadi miliknya.


Hari berlalu hingga malam itu berganti menjadi pagi, di mana Arumi sangat menantikan pagi ini. Dengan penuh semangat wanita itu bangun lalu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Arumi berpakaian formal dan tentu beberapa cara ia lakukan demi membuat wajahnya tampil cantik natural. Yah, itulah yang ia tahu kesukaan dari Saguna sejak dulu.


"Rambut ini sangat buruk. Sepertinya aku harus menyambungnya. Yah, menyambung rambut sementara sampai panjang kembali." gumamnya saat menyisir rambut pendek itu.


Tanpa basa basi, Arumi menelpon seseorang yang rupanya hairstylish terkenal di kota itu. Memintanya segera datang dengan permintaan rambut yang berukuran panjang sekitar 60 cm.


Beberapa menit Arumi berkutat dengan ponsel miliknya, kini ia pun mendengar ketukan pintu di kamarnya. Kamar yang kedap suara membuatnya segera berjalan dan membuka pintu itu. Senyuman manis Arumi berikan di wajah cantik nan tirus itu.


"Ayo masuk." titahnya dengan ramah.


Dua orang ahli extention rambut segera masuk dan mulai mengerjakan sambungan rambut milik Arumi. Sesekali mereka tertawa dengan riang. Rupanya Arumi dulu sering kali memanggil mereka saat masih bersama Saguna sebelum pria itu menghilang beberapa bulan lamanya.


"Rambutnya sudah lama tidak kita pegang. Untung saja masih bagus meski sudah pendek, Nona." sahut sang ahli rambut.


"Yah, saya sudah sejak lama tidak mengurus rambut. Tapi kedepannya kalian akan dapat job rutin kesini lagi kok." jawab Arumi terkekeh.

__ADS_1


Bayangannya, ia akan berusaha kembali seperti dulu demi mempertahankan cinta Saguna padanya.


Hampir satu jam setengah mereka berbicara sembari menyelesaikan pekerjaan yang penuh teliti itu, kini akhirnya Arumi sudah berada di perjalanan menuju kantor The Winston.


"Aku akan usahakan apa pun, Sa. Aku sangat mencintaimu. Aku bukan wanita jahat, aku hanya mempertahankan apa yang menjadi hak ku." gumam Arumi sepanjang jalan menyetir mobil seorang diri.


Fatir dan Sekar sebenarnya khawatir, namun demi ketenangan sang anak. Mereka berusaha keras percaya jika Arumi akan baik-baik saja. Terlepas dari itu, Arumi tidak tahu jika kedua orangtuanya rupanya tengah meminta bodyguard bayangan yang harus mengawasi putri tunggal mereka.


Berbeda dengan kediaman Saguna pagi ini. Pria itu yang rupanya semalam kembali mengulang permainan panas itu sedikit ceria pagi ini.


"Gita, aku sepertinya akan pulang sedikit terlambat. Sebab aku harus ke tempat lain untuk menyelesaikan masalah di kantor." tutur Saguna yang tengah meminta izin sang istri. Semalaman ia bertukar peluh dengan sang istri, rupanya membuat pikiran pria itu berselancar kemana-mana. Dan pagi ini ia sudah mantap untuk mengusut tuntas secara diam-diam semua yang terjadi di kantor.


"Iya, Mas. Nanti siang aku antar makan siang?" tanya Gita dengan tersenyum penuh bahagia. Belaian sang suami sepanjang malam membuatnya sangat senang pagi ini.


Saguna pun menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Aku takut kau terlalu lelah, di rumah saja istirahat. Aku akan makan bersama Angga di restauran." jawab Saguna penuh pengertian.


Tak membantah, Gita hanya menurut saja. Ia mencium punggung tangan sang suami lalu melambaikan tangan menemani kepergian Saguna.


"Ada apa, Mas?" tanya Gita mengernyit heran melihat sang suami menghentikan langkah di depan mobil saat Angga sudah membuka pintu untuknya.


Saguna tak menjawab dan kembali melangkah mendekati sang istri. Tak ada ucapan yang pria itu lontarkan. Melainkan gerakan tubuh yang membungkuk dan mencium perut sang istri penuh cinta.


Bibir Gita menganga tak percaya. Ia tak bersuara sama sekali.

__ADS_1


"Anak ayah baik-baik tumbuh sehat yah? Jangan buat ibumu sakit dan lelah." Sungguh hati Gita terenyuh mendengar penuturan sang suami. Akhirnya ia hanya bisa menatap kepergian suami tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.


__ADS_2