
Di kediaman megah kini seluruh keluarga tengah duduk dengan tanpa menyandarkan tubuh mereka di sandaran sofa. Semua mata hanya terfokus pada satu wajah, yaitu Saguna.
Oma Rosa yang tak bisa lebih sabar lagi terlebih ia melihat bagaimana lemahnya keadaan Arumi saat ini tanpa sang cucu berniat untuk menghiburnya sedikit pun.
"Saguna, ayo katakan segera. Oma penasaran siapa wanita itu? Dia bukan kekasihmu kan?" Pertanyaan Oma Rosa semakin menyakiti hati Arumi saat ini. Namun, bagaimana pun itu memang harus ia dengar saat ini.
Saguna menarik napasnya dalam lalu menghembuskan kasar, sungguh untuk melihat wajah sang kekasih ia sangat tak sanggup kali ini. Perlahan kepalanya menunduk dan mulai berbicara.
"Saat aku kecelakaan dan hilang ingatan, di desa terpencil itu ada keluarga yang dengan baik menolongku, Oma. Mereka merawatku hingga aku benar-benar sembuh meski ingatanku tidak ada. Mereka dengan baik memberikanku tempat tinggal dan memberiku makan. Hingga aku akhirnya menikah dengan anak dari salah satu keluarga itu. Selama kami menikah aku sama sekali tidak menyentuhnya. Hingga selama berbulan-bulan kami bersama, akhirnya aku memutuskan untuk memulai hubungan yang baik bersama wanita itu. Dan ternyata saat ingatanku pulih aku sudah berada di kota. Beberapa hari sebelum menjelang pernikahan sungguh aku ingin menemui wanita itu untuk menyelesaikan masalah, dan aku sudah memutuskan memilih Arumi." Saguna membuat semua orang ternganga kaget bukan main.
Terlebih Arumi yang membungkam bibirnya dengan kedua mata yang menatap Saguna tak berkedip. Bahkan air mata yang berjatuhan di pipinya hanya bisa ia biarkan begitu saja. Keadaan pun hening, semua masih menunggu penjelasan Saguna lebih panjang.
"Sayang, setiap aku mencarinya aku selalu tidak menemukan. Hingga pernikahanku dengan Arumi hendak berlangsung ternyata wanita itu berada di sana." jelas Saguna baru bisa ia kembali bernapas.
Dadanya begitu sesak saat menceritakan pada keluarganya terlebih di sini ada Arumi yang benar-benar syok mendengar sang calon suami ternyata sudah memiliki istri.
__ADS_1
"Sa, kita akan tetap menikah kan? Kita akan tetap melanjutkan pernikahan kita kan? Kau akan tetap memilih aku kan, Sa?" Arumi sungguh berharap begitu besar pada Saguna.
Hancurnya perasaan wanita itu membuatnya tak perduli lagi dengan sayatan luka yang Saguna beri padanya. Yang terpenting saat ini, Arumi akan tetap memiliki Saguna menjadi cintanya seumur hidupnya.
Saguna yang menunduk akhirnya menatap sang kekasih dengan tatapan sedih. Air mata dan wajah kacau Arumi sudah cukup membuat pria itu benar-benar sakit. Dan sekarang ia harus kembali menyatakan apa kesepakatannya bersama Gita di rumah sakit tadi.
"Namanya Gita," jawab Saguna tanpa menjawab pertanyaan Arumi barusan.
"Dia sedang mengandung anakku saat ini."
Semua yang syok bertambah membulatkan mata mereka. Bahkan Oma Rosa memijat kepalanya dan meneteskan air mata sembari menggelengkan kepalanya pelan. Andai Tuhan tidak menggariskannya panjang umur, mungkin ini adalah waktu yang pas untuk menghentikan detak jantungnya. Ia benar-benar tak menyangka hubungan sang cucu dengan istrinya sudah sejauh itu.
"Sayang, yang kuat. Mommy mohon kuatkan dirimu." Sekar memeluk erat tubuh Arumi yang terasa sangat dingin di pelukannya.
Tangisan demi tangisan Arumi terus menyertai setiap ucapan Saguna. "Maafkan aku, aku akui aku salah. Tapi ini semua terjadi di luar kendaliku. Bagaimana pun aku harus tetap bertanggung jawab dengan istri dan anakku. Tapi, aku sudah bersepakat dengannya. Selama ia hamil akan tetap di sini dan aku menjaga. Aku ingin memastikan apa benar aku bisa bersama mereka selamanya? Jika memang selama hamil hingga melahirkan hatiku tidak tumbuh sebesar pada Arumi, maka kami bersepakat akan pisah. Tapi aku mohon Arumi, jangan menungguku. Karena aku takut kau akan tersakiti dan kecewa kelak jika hatiku ternyata memilih tetap mempertahankan rumah tangga kami."
__ADS_1
Meski sangat sakit mendengarnya, namun Arumi merasa masih ada setitik kecil harapan untuknya membuat Saguna tetap memilihnya. Ia tak perduli jika ia harus menunggu, yang terpenting ia akan bersama Saguna kelak.
"Sa, aku mencintaimu lebih dari apa pun. Aku akan tetap menunggumu. Aku akan ikhlas selama apa pun itu." Senyuman menyakitkan Saguna lihat dari sorot mata Arumi.
Saguna terpejam seketika. Sungguh ia merasa menjadi pria sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin ia bisa melukai dua hati wanita yang sama-sama baik dan mencintainya.
"Mommy, Daddy, maafkan aku. Aku benar-benar salah, kalian boleh membenciku. Tapi aku mohon titip Arumi selama aku tidak bisa menjaganya bahkan jika kelak aku tidak bisa memenuhi harapan kalian untuk menikahi Arumi. Hatiku sangat mencintai Arumi. Tapi, aku adalah seorang pria. Dengan hati yang paling dalam aku meminta maaf membuat kalian kecewa. Di sana ada anak yang membutuhkan sosok ayah." Saguna sangat sopan bahkan ia sampai menangkupkan kedua tangannya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir kedua orangtua Arumi, untuk kedua kalinya mereka tersakiti dengan Saguna. Tapi, ingin marah dan memukul pun rasanya tidak akan mungkin. Fatir bukanlah pria yang tak bisa berpikir. Semua yang terjadi memang tanpa ada yang mau. Semua sudah garis dari sang kuasa yang bisa mereka terima dengan ikhlas.
"Oma, Paman, Bibi, aku minta maaf. Ini semua di luar keinginanku. Tapi aku harus segera kembali ke rumah sakit. Arumi, jaga dirimu baik-baik. Aku sungguh bersalah besar padamu." Hati Saguna sakit sekali saat berusaha kuat menatap wajah Arumi yang berhenti menangis.
Wanita cantik yang ingin sekali Saguna peluk saat ini, tetapi ia tidak ingin semakin berdosa. Mengingat beberapa waktu lalu ia selalu bermesraan dengan Arumi tanpa mengingat statusnya yang masih sah menjadi suami Gita.
"Sa, boleh aku memelukmu sebentar?" Pertanyaan Arumi menghentikan Saguna saat ingin beranjak dari duduknya hendak pergi.
__ADS_1
Diri pria itu mematung bingung. Menolak di depan seluruh keluarga sungguh Saguna tak kuasa. Namun, jika ia meneruskan hal itu sama saja ia kembali berdosa.
"Aku harus pergi, Arumi. Jangan sakit lagi, aku mohon." Dengan sigap Saguna beranjak meninggalkan kediamannya tanpa memperhatikan semua mata yang memandang punggung tegapnya.