Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Kecanggungan


__ADS_3

Pagi menjelang siang, tampaknya Gita begitu memikirkan sang suami. Masakannya sudah selesai di temani oleh beberapa pelayan di rumah megah itu. Namun, memakan sendirian bukanlah sesuatu yang nikmat menurutnya. Entah mengapa rasa napsu makan wanita itu menghilang.


"Nyonya, ada apa? Nyonya sakit?" pertanyaan pelayan membuat lamunan Gita buyar seketika. Ia pun menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Eh Bibi, tidak. Makanan ini sangat menggugah selera, tapi mengapa saya tidak bisa memakannya yah?" tanyanya seolah bingung dengan kemauan dirinya sendiri.


Pelayan tersenyum mendengarnya. "Itu pasti bawaan bayi, Nyonya. Pasti mau makan sama Tuan." Gita tersipu malu mendengar gurauan sang pelayan. Pelan ia pun memudarkan senyuman itu dan memikirkan ucapan pelayan tadi.


"Apa iya begitu, Bi? apa aku pergi saja ke kantor Mas Saguna?" ragu Gita memantapkan diri untuk pergi siang itu dengan masakan yang sudah di bantu pelayan menata ke dalam rantang. Ia pun bersiap dengan cepat sebelum jam makan siang tiba.


Sebab Gita ingat jika sang suami mengatakan tak ingin Gita kelelahan dan ia akan makan siang bersama sekertarisnya Angga di restauran saja.


Sedangkan di ruangan milik Saguna, kini pria itu baru saja mendapatkan telepon seseorang.


"Ya, berikan saja seluruh rekaman cctv itu padanya. Saya yang memerintahkannya." ujar Saguna saat bagian petugas cctv langsung di hubungkan oleh Angga pada pemimpin The Winston.


Rasanya Saguna mulai mencurigai ada sesuatu lagi yang telah di dapatkan intel kepercayaannya kali ini hingga menjadi lebar ke bagian cctv perusahaan. Meski dadanya tengah bergemuruh, sekuat mungkin pria tampan itu menahan amarah. Ia tidak boleh gegabah kali ini.


Tak lama berselang, terdengar ketukan pintu di luar sana. Sedikit Saguna mengernyitkan dahinya heran. Angga selalu membuka pintu usai mengetuk dari luar. Ini pertanda yang datang bukanlah sang sekertaris. Siapa yang berani mengganggunya di jam kerja kecuali Angga? begitu pikir Saguna.

__ADS_1


Tok tok tok


Ketukan pintu pun kembali terdengar lagi hingga kini Saguna beranjak dari duduknya membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, sosok wanita cantik dan anggun terlihat mengembangkan senyumannya di sana. Sayang, senyuman itu seketika pudar kala tak mendapat sapaan seperti yang ia harapkan.


"Sa..." Suara lembut Arumi mendekati Saguna.


Satu langkah Saguna mundur ke belakang. "Ada apa, Arumi?" tanyanya dengan wajah datar berusaha menjaga jarak dari sang mantan.


Arumi sedih dengan keadaan mereka saat ini, namun ia berusaha tenang dan mengerti. Itu artinya Saguna adalah pria yang baik dan menghargai pernikahannya.


"Kita makan siang? tenang tidak berdua. Angga kita ajak saja." ucapnya dengan penuh semangat.


"Tuan, sudah waktunya makan siang." Angga pun turut hadir di depan pintu itu tanpa sadar seolah mendukung ajakan Arumi.


Arumi masih dengan tersenyum menganggukkan kepalanya mengajak sang kekasih yang tak lain adalah suami Gita.


"Em, aku masih ada pekerjaan. Arumi sebaiknya pergilah dengan Angga. Setelah usai pekerjaan aku akan..."


"Mas..." Suara wanita yang hanya satu di dunia ini berani memanggil seorang presdir dengan panggilan Mas, tiba-tiba membuyarkan percakapan mereka bertiga.

__ADS_1


Saguna menatap ke depan, Arumi dan Angga sama-sama menoleh ke sumber suara di belakang mereka. Gita datang dengan rantang di tangannya serta seorang karyawan yang turut mengantar wanita hamil itu menuju ruang presdir.


Gita menghilangkan senyuman sesaat kala menyadari wanita berambut panjang itu adalah Arumi. Entah mengapa dadanya tiba-tiba sesak sekali. Saguna sadar akan perubahan raut wajah Gita.


"Apa Mas Saguna melarang ku kemari siang ini karena ada Kak Arumi?" batin Gita bertanya-tanya.


Tiba-tiba kepercayaan dirinya yang begitu tinggi hilang saat mengingat percakapan singkatnya pagi tadi dengan sang suami. Bahkan pikiran Gita sudah melayang ke mana-mana.


Arumi pun juga sama, pikirannya kacau kala melihat bagaimana Gita memegang rantangan makan untuk Saguna.


"Mari Nona Arumi." Angga berusaha mencairkan suasana saat menyadari keadaan di depan ruangan sang presdir tengah beku. Ia tak ingin membuat sang presdir semakin kacau, sebab Angga tahu banyak masalah yang Saguna hadapi saat ini.


"Gita, sayangnya kami sudah akan pergi makan bersama. Sebaiknya kamu pulanglah. Kasihan kan bayi di dalam perutmu jika kelelahan. Bagaimana kamu begitu egois kesana kemari tanpa memikirkan janin itu?"  Semua wajah terkejut mendengar penuturan seorang Arumi.


Sungguh, Saguna sendiri tak mengerti apa yang membuat Arumi bisa berucap seperti itu. Tanpa sadar ucapannya tengah mengusir Gita secara halus. Gita yang mendengarnya sontak menundukkan kepala menahan sakit di hati. Belum saja terjawab apa yang membuat Saguna, Arumi dan Angga berdiri di jam makan siang itu. Kini Arumi seolah menjelaskan jika mereka memang sudah berjanjian untuk makan siang bersama.


Ingin menjawab, sayang Gita belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia tak ingin terlalu percaya diri jika Saguna lebih memilih makan siang dengannya di bandingkan dengan Arumi. Sebab, Saguna sendiri pun sudah melarang Gita untuk datang ke kantor siang ini.


"Maafkan saya, Kak. Saya tidak bermaksud untuk egois. Bagaimana pun juga saya sangat menyayangi anak saya..." belum usai Gita berbicara, Saguna sudah berjalan mendekat pada sang istri.

__ADS_1


Tangannya merangkul pundak Gita dan membawanya masuk ke dalam ruangan kerja melewati Arumi dan Angga.


__ADS_2