Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Sembilan Bulan


__ADS_3

Waktu yang berjalan dengan cepat, menumbuhkan rasa cinta semakin besar. Kini tak terasa waktu telah tiba di usia kehamilan Gita yang ke sembilan bulan. Tubuh mungil dan perut yang sangat besar sangat menggemaskan.


Wajah cantik dan pipi yang begitu tembem membuat wajah tampan Saguna tersenyum pagi itu.


“Mas…kenapa tersenyum?” tanya Gita yang baru membuka matanya. Samar-samar ia melihat mata sang suami menyipit.


“Aku jelek yah?” Beberapa kali tangannya memeganf pipi perut serta rambutnya memastikan semua tidak ada yang berantakan di mata sang suami.


Gelengan kepala Saguna berikan untuk sang istri.


“Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang buruk atau pun jelek. Aku bahagia memiliki istri secantik kamu, Git.” ujar Saguna sontak saja membuat Gita menunduk memperlihatkan wajahnya yang merah.


Malu, sungguh ia sangat malu. Anda saja kepalanya bisa lepas mungkin sudah terbang kesana kemari lantaran kegirangan. Untuk pertama kalinya Saguna memuji dirinya dengan tatapan yang penuh cinta.


“Sudah yah? Aku mau siapin sarapan buat Mas. Siang banget lagi aku bangunnya.” Gita bertutur dengan gugup meninggalkan sang suami secepat mungkin.


Saguna hanya diam tersenyum tanpa menghalangi langkah sang istri. Ia memilih untuk mandi dan bersiap ke kantor.

__ADS_1


“Saguna, mengapa masih ke kantor? Bukankah kamu bilang hari ini sudah menemani istrimu?” Oma Rosa yang baru keluar dari kamar bertemu sang cucu yang baru selesai bersiap usai mandi.


Keduanya sama-sama tampak ingin menuju ke ruang makan.


“Oma, iya Oma. Hari ini aku hanya ke kantor sebentar setelah itu menemani Gita di rumah. Lagi pula aku harus ke RSJ dulu Oma.” ujarnya yang mengingat akan tetap mengunjungi sang bunda di pagi hari.


Seperti yang sudah-sudah ia lakukan mengunjungi sang bunda tanpa membawa Gita. Terlebih saat ini Gita sangat besar perutnya. Ia takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada istri kecilnya itu.


“Yasudah makanlah yang banyak. Gita masak setiap hari enak-enak. Lihat Oma timbangannya jadi naik pasti ini.” Oma Rosa tampak memperhatikan lipatan perutnya yang memang lebih berisi dari sebelumnya.


“Selamat makan Oma…Mas, sini biar aku ambilkan.” Gita hendak berdiri mendekati Saguna dan meraih piring, namun pria itu dengan cepat mencegahnya.


“Sayang, duduklah. Biar Mas ambil sendiri. Perut kamu pasti sangat berat rasanya.” tutur Saguna memperhatikan perut yang sebentar lagi mengeluarkan generasi penerus Winston.


Gita tersenyum dan mulai menikmati sarapannya bersama sang suami. Usai makan Saguna menuju dapur seperti biasa untuk membuatkan susu hamil sang istri.


Oma Rosa merasa beryukur melihat kehangatan keluarga sang cucu. Meski di dalam hatinya ada perasaan sedih melihat Paman Dana berada di penjara. Sedangkan Tante Siti entah berada di mana saat ini.

__ADS_1


Sebab, semenjak Paman Dana di penjara. Wanita itu tidak pernah menjenguk lagi sampai saat ini.


Singkat cerita, Saguna segera melajukan mobil menuju ke kantor. Sementara Gita pun memilih masuk ke rumah bersama Oma Rosa.


“Git, kenapa harus sedih? Kamu tetap mau ke RSJ, yah? Nanti saja setelah lahiran…” ujar Oma Rosa yang tahu jika Gita ketagihan menjenguk sang mertua.


“Tapi kasihan Bunda Oma. Bunda pasti nungguin. Bagaimana kalau Bunda tidak makan, Oma?” tanya Gita dengan harap-harap cemas.


Oma Rosa pun menghela napasnya kasar. Sayangnya, belum sempat perbincangan mereka kembali berlanjut. Gita tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.


“Oma…perut Gita sakit. Argh!!” pekiknya benar-benar tidak tahan.


Mendengar itu jantung Oma Rosa yang sudah di ujung usia hampir saja terkena serangan.


“Gita! Kamu…ya Tuhan, ketuban kamu sudah pecah.” Sontak saja wanita paruh baya itu benar-benar panik.


Tangannya gemetar menghubungi sang cucu. Namun, Saguna yang fokus mengendarai mobil tidak melihat ponsel yang terus menyala di sakunya. Sebab benda pipih itu dalam mode silent usai tidur semalam ia lupa mengaktifkannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2