
Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar hampir 16 jam akhirnya telah berakhir di bandara Internasional soekarno hatta. Seorang wanita paruh baya mendapatkan sambutan dari dua orang pria bertubuh tegap di hadapannya.
"Selamat datang kembali, Nyonya." sapa keduanya menundukkan kepala.
Hanya anggukan samar yang wanita tua itu perlihatkan kini. Mereka pun memasuki mobil mewah setelah satu koper mini di letakkan di bagasi mobil itu. Kendaraan roda empat pun tampak melaju menuju kediaman sang cucu. Sungguh selama perjalanan perasaan wanita tua itu tak tenang.
Beberapa kali dering ponsel terdengar di dalam tas mewah yang duduk tegap itu di samping kursi membuat manik mata Oma Rosa melirik. Lalu kedua tangannya bergerak untuk meraih ponsel dan mengangkat panggilan.
Nama Arumi tertera di layar ponsel milik Oma Rosa. "Halo, Arumi." sapa Oma Rosa hangat.
Dengan antusias Arumi menjawab sapaan wanita di seberang sana. Wajahnya tersenyum bahagia. "Oma sudah sampai di bandara?" tanyanya antusias sekali.
"Iya, ini sudah di perjalanan." jawabnya.
Tanpa basa basi, Arumi sudah mengucapkan, "Oke Oma, hati-hati yah. Arumi akan meluncur ke rumah Saguna sekarang untuk menyambut Oma." Mendengar deheman jawaban dari sang oma Arumi segera menutup telepon tidak sabaran.
__ADS_1
Dengan semangat siang itu ia bergegas keluar kantor tanpa mengatakan apa pun. Arumi ingin menjadi orang yang paling antusias menyambut kedatangan Oma Rosa. Berharap semua akan segera berubah dengan adanya pengendali yang paling di hormati dan berkuasa.
"Aku tidak akan tinggal diam jika milikku di rebut. Aku berhak mempertahankan milikku. Aku tulus mencintai Saguna, aku tidak berniat jahat dalam hal ini. Oma pasti akan mengendalikan semuanya dengan baik. Aku yakin itu." tuturnya meyakinkan diri untuk agar lebih tenang menghadapi semuanya.
Sementara di kediaman Saguna kini tampak siang itu keluarga Gita tengah berbincang-bincang hangat di ruang keluarga. Sang paman dan tante, serta kedua orangtuanya sedang berdiskusi mengenai Shani.
"Bapak, Ibu, Mas Saguna benar. Biarkan Shani di sini, Gita juga suka kesepian. Nanti Shani bisa bekerja dan mengirimkan uang kalian juga. Setelah Gita melahirkan Gita janji akan bekerja lagi, Pak." ujarnya yang merasa tak enak sebab ia sudah lepas tangan dengan kebutuhan sang orangtua yang masih membutuhkan bantuan tenaganya dalam menghidupi keluarga.
Mendengar penuturan sang anak, Haidar seketika menggelengkan kepala menolaknya. "Tidak. Untuk apa kamu bekerja, Gita? Suamimu sudah jauh lebih besar mencukupi kebutuhan Ibu dan Bapak. Jangan memikirkan kami, sudah seharusnya Bapak malu dengan kamu dan suamimu itu." Kening Gita megernyit mendengar ucapan sang bapak.
Membantu? Gita sama sekali baru tahu jika suaminya telah membantu kedua orangtuanya. Sebab Saguna sama sekali tidak ada membahas apa pun mengenai bantuan yang ia berikan pada sang mertua.
"Iya, Nak. Suamimu sudah memberikan seluruh keperluan Bapak dan ibu sangat lengkap. Justru itu bukan kata cukup yang pantas kami ucapkan. Tapi bantuan yang benar-benar berlebihan. Sudah jangan lagi memikirkan bapak dan ibu. Saatnya kali ini kamu memikirkan kehidupan dan kebahagiaan kamu, Gita.” ujar Dewi menatap hangat sang anak.
Gita menghela napasnya. “Kak, aku benar nggak papa tinggal di sini?” tanya Shani membuat Gita menganggukkan kepala dan tersenyum.
__ADS_1
“Eh udah waktunya makan siang. Yuk kita makan sekarang. Gita telpo Mas Saguna bentar yah? Mastiin rantang makan siangnya sudah di makan atau belum.” Keluarga Gita yang mendengar hanya tersenyum.
Perhatian Gita pada sang suami benar menunjukkan betapa ia mencintai sang suami.
“Selamat siang.” Suara serak basah wanita di ambang pintu nyatanya membuat langkah Gita urung meninggalkan ruangan itu untuk mengambil ponselnya.
Semua mata menatap ke arah pintu utama yang memperlihatkan sosok wanita berdiri dan kini melangkah dengan elegan. Jangan lupakan satu wanita cantik di samping yang baru menyusul dari belakang dan dua pria bertubuh tegap di belakang mereka.
“Oma,” lirih terdengar suara Gita menyebut nama itu. Matanya menatap sang oma dengan menelan salivahnya susah payah.
Perasaan canggung dan takut membuat Gita tak bisa berkutik.
Begitu pun dengan seluruh keluarga Gita yang merasa sungkan seketika berdiri dari duduk mereka di sofa mewah nan mahal itu.
Sungguh keadaan terasa mencekam sebab Saguna masih berada di kantor tanpa tahu sang oma sudah datang. Bahkan keberangkatan wanita tua itu saja ia tidak tahu.
__ADS_1
Gita takut rasanya terlebih ia melihat sosok Arumi yang ia yakini lebih dekat dengan sang oma.
“Tenanglah Gita. Kau tidak perlu takut, yang lebih lama kenal tidak akan mengalahkan garis takdir.” batinnya memberikan semangat pada diri sendiri.