Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Tangisan Arumi


__ADS_3

Semua tampak kaget saat melihat Arumi sudah berlari ke arah meja makan, lebih tepatnya ke arah Saguna yang duduk bersampingan dengan Gita.


"Stok Kak Arumi!" Gita dengan kedua tangan yang sudah merentang menghalangi sang suami yang hendak di peluk membuat Arumi tak perduli.


"Minggir, Gita." Arumi mendorong Gita namun Gita rupanya lebih kuat meski tubuhnya lebih kecil dari Arumi dengan perut yang buncit.


Sekuat tenaga Arumi ingin mendorong, namun bukannya menyingkir. Gita justru semakin kokoh saat Saguna memegang tubuhnya. Meminta perlindungan takut jika Arumi akan memeluk tubuh Saguna. "Sa, ijinkan aku bersamamu sebentar. Aku mohon, Mommy dan Daddy memaksaku untuk pergi besok. Aku mohon, Sa bantu aku." Arumi menangis terisak tanpa perduli jika semua mata memandang ke arahnya.


Oma Rosa yang melihat hal itu tampak menghela napas kasar. "Arumi, hentikan. Jangan seperti ini, perlakuan mu menunjukkan kamu itu tidak berpendidikan. Saguna adalah suami Gita saat ini, kamu harus paham itu." tutur Oma Rosa dengan tegasnya.

__ADS_1


Mendengar Oma Rosan yang justru menyudutkannya, Arumi benar-benar tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia menangis semakin pilu, dan Gita bisa merasakan sakit yang Arumi rasakan. Perlahan Gita pun luluh, ia menurunkan tangannya yang merentang dan mendekat pada Arumi.


"Kak, tenanglah. Jangan seperti ini, aku tahu kakak sedih.Tapi tolong kak, lihat bayi yang aku kandung saat ini. Dia butuh sosok ayah. Sama seperti kakak yang butuh Daddy dan Mas Saguna. Dia bahkan lebih tidak bisa apa-apa dari Kakak. Dia butuh ayahnya, Kak Arumi." Gita berucap seraya menggenggam lengan Arumi.


Takut-taku Saguna menarik sang istri ke dalam pelukannya. Ia merasa was-was jika Arumi sampai mencelakai istri dan anaknya.


"Arumi!" Tiba-tiba saja teriakan dari luar pintu membuat Arumi dan lainnya mendongak menatap orang yang datang. Rupanya mereka adalah kedua orangtua Arumi. Berlari secepat mungkin Mommy dan Daddy membawa sang anak keluar dari rumah itu tanpa mengatakan apa pun.


Sungguh, ini bukanlah yang Saguna harapkan. Ia benar-benar berharap Arumi akan bahagia dengan atau tidak bersamanya. Sayang, Arumi benar tidak sanggup menata hatinya usai di tinggal Saguna.

__ADS_1


Kepergian Arumi menyisakan ketegangan di ruangan makan itu. Hingga akhirnya haidar bersuara. "Gita, Saguna, siapa wanita itu?" tanyanya yang tak mengenali sosok Arumi.


Ia takut jika Saguna sebelumnya telah menikah dengan wanita lain. "Dia mantan Mas Saguna, Pak. Namanya Kak Arumi." jawab Gita cepat dan segera duduk bersama sang suami kembali.


Begitu pun dengan semuanya yang duduk tanpa memulai makan malamnya. "Maafkan saya, Pak, Bu." jawab Saguna merasa tak enak telah membuat keadaan kacau seperti ini.


"Kasihan dia, apa dia masih mengharapkan kamu, Nak? Sepertinya dia begitu mencintai kamu." ujar Dewi yang turut merasakan tatapan sedih Arumi tadi.


Saguna menghela napas kasar sebelum ia menceritakan sosok Arumi.

__ADS_1


"Dia wanita yang sempat saya janjikan untuk segera menikah setelah saat itu kami batal menikah, Bu. Tapi saya sadar dan Gita adalah wanita yang saya pilih untuk tetap bersama saya bahkan dengan anak saya. Dan saya memilih untuk melepaskan Arumi. Tapi, semua ternyata tidak semudah yang saya pikirkan. Arumi menolak perpisahan kami." Saguna merasa bersalah saat mengatakan itu. Sebab semuanya bermula dengan ucapannya yang meminta waktu pada Arumi untuk meyakinkan dirinya hingga Gita melahirkan.


Dan ternyata waktu lebih cepat menjawab sebelum batas yang Saguna ucapkan, hatinya telah mantap memilih Gita.


__ADS_2