
Pagi itu di rumah, Gita nampak menimbang-nimbang keputusannya yang sedari semalam menyerang isi kepala wanita berbadan dua itu. Rasa mual dan pusing tak lagi ia hiraukan. Meski berkali-kali Gita ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut, nyatanya ia tetap fokus pada pikirannya.
“Apa tidak marah Mas Saguna jika aku pergi tanpa bicara padanya?” gumamnya gelisah mengingit ujung kukunya.
“Ah sudahlah, aku yakin jika bicarakan baik-baik dia akan memaafkan aku.” Dengan keputusan yang mantap ia bergegas merapikan penampilan usai mengganti pakaian. Merias wajah sedikit dan mengambil tasnya.
Supir yang berada di kediaman sang suami sudah berlari menghampiri sang Nyonya muda.
“Nyonya, mau kemana?” tanya pak supir sopan.
“Pak, kita ke rumah sakit jiwa tempat Mamah di rawat yah?” ujar Gita namun ucapannya menggantung saat sadar melupakan sesuatu.
“Tunggu sebentar, Pak. Saya mau siapkan makanan dulu untuk Mamah.” ujar Gita bergegas menuju dapur.
Waktu yang beranjak siang rupanya sudah Gita yakini akan tidak begitu parah rasa mual di perutnya. Hingga saat mereka tiba di rumah sakit jiwa, wanita itu langsung di bawa oleh petugas rsj untuk menuju ruangan sang mertua.
Tangisan pilu jelas membuat hati Gita terenyuh. Takut-takut ia bersuara.
“Mamah,” panggilnya lembut. Masih berada di luar ruangan. Gita tersenyum kala melihat wajah wanita itu berbalik padanya.
__ADS_1
Mata yang sembab dan menghitam sungguh miris rasanya.
“Mamah mau boneka? Gita bawa boneka sama sisis buat boneka nih?” Tunjuk Gita masih dengan senyuman di wajah.
Hening tak ada respon, Gita berinisiatif lagi menunjukkan rantang masakan yang ia buat sendiri.
“Ini makanan enak loh, Mah. Bentuknya lihat seperti boneka kan?” Rantang di tangan Gita terpaksa ia buka saat masih di luar ruangan. Ia menunjukkan pada sang mertua bagaiaman ia merangkai makanannya dengan karakter yang menarik di dalam rantang itu.
“Lapar, sayang di makan tapi.” Untuk pertama kali suara wanita itu keluar.
Rasanya Gita sangat senang. “Mamah mau makan? Besok aku buatkan lagi yang seperti ini? Atau Mamah mau boneka lainnya?” tanya Gita mulai merasa ada udara segar ia hirup.
“Mau! Mau! Itu makan mau.” Teriaknya.
“Bisa tolong di buka pintunya?” Tanya Gita memohon. Segera petugas Rsj membuka pintu dan Gita masuk ke dalam.
“Mah, jangan sakiti aku yah. Ada cucu Mamah di sini. Mamah makan yang tenang yah?” Gita bersuara lembut dan duduk di hadapan sang mertua.
Belum sempat Gita menyuapi, rantang itu sudah lebih dulu di rebut oleh wanita itu. Ia makan sangat hati-hati agar tak merusak penataan makanan di rantang itu.
__ADS_1
Ada perasaan sangat bahagia saat Gita melihat sang mertua tak menolak kehadirannya.
“Semoga dengan jalan ini akan semakin menguatkan hubunganku dengan Mas Saguna. Aku berusaha mempertahankan rumah tanggaku dengan cara yang baik. Meski pun aku menjadi orang ketiga di hubungan Kak Arumi dan Mas Saguna. Tapi dia ayah anakku.” gumam Gita.
Tak lupa ia pun memberikan sebotol jus mangga yang sudah ia beri susu untuk sang mertua.
Wanita di depannya begitu lahap memakan bahkan ia sadar ini pertama kalinya ia sangat senang dengan makanan yang dapatkan.
“Lagi, besok lagi.” ujarnya masih belum jelas.
“Enak, makanannya enak sekali. Kamu anakku kan? Iya kamu anakku yang berubah jadi porenjes perempuan. Hehehe.” Gita hanya tersenyum dan mengangguk mendengar penuturan sang mertua. Rupanya wanita itu masih ingat jika anaknya adalah seorang laki-laki.
“Iya aku anak Mamah juga. Anak perempuan Mamah. Besok dan seterusnya aku akan bawain makan dan jus buat Mamah yah? Mamah harus cepat sembuh. Di sini ada cucu Mamah yang akan lahir.” Gita meletakkan tangan sang mertua pada perut buncitnya.
Tiba-tiba saja ada air mata yang menetes di kedua pipi wanita gila itu. Gita yang bahagia tak mendapat penolakan segera memeluk sang mertua.
“Mah, aku janji akan sayang sama Mamah seperti pada Ibu. Mamah bantu Gita untuk bertahan jadi istri Mas Saguna yah, Mah. Gita sangat takut setelah lahiran Mas Saguna akan meninggalkan Gita dan mengambil anak ini.” Ia benar-benar mengatakan dengan perasaan yang tulus.
“Mengambil anak? Tidak! Itu tidak boleh. Tidak boleh orang mengambil anak.” Ucapan ambigu dari sang mertua membuat Gita sadar jika ia tidak boleh sembarangan bicara. Pikiran yang tidak stabil sang mertua bisa saja semakin memperburuk keadaannya usai mendengar kata yang tidak seharusnya ia dengar.
__ADS_1