Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Berterus Terang


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin, kini hari kedua dimana Arumi bekerja kembali. Penuh semangat wanita itu memoleskan make up tipis di wajahnya. Serta menyemprotkan beberapa kali wewangian di tubuh maupun pakaian.


Senandung lagu yang ia nyanyikan seakan menambah rasa semangatnya.


“Arumi, sarapan bersama yuk?” Sekar membuka pintu kamar sang anak seraya memejamkan mata dan menutup hidungnya.


“Mom, ada apa?” tanya Arumi melihat ekspresi aneh sang ibu.


“Kamu pakai parfum sepertinya kebanyakan sayang. Mommy pusing menciumnya.” Sekar tahu keadaan anaknya saat ini sedang tidak terkendali.


Arumi hanya tersenyum sembari mengambil tas kerja dan mengajak sang ibu keluar dari kamarnya.


“Yuk sarapan, Mom. Masa sih wanginya kecium? Arumi saja kurang terasa ciumnya.” celetuknya yang tak mendapat jawaban dari sang ibu.


Setibanya mereka di meja makan, sudah ada sosok pria yang tak lain adalah Fatir. Pria paruh baya itu bisa melihat keceriaan sang anak yang semakin hari semakin lebar saja tersenyum.


Tentu sebagai orangtua rasanya sangat gelisah. Ia tahu bagaimana pun anaknya berusaha, pernikahan tak akan semudah itu untuk terlepas. Apalagi ada anak yang harus Saguna pikirkan masa depannya.


“Arumi, bagaimana besok kita pergi liburan ke luar negeri? Daddy dan Mommy sudah lama tak berpergian dengan anak satu-satunya kami?” Sesuai dengan rencana Sekar dan Fatir semalam.

__ADS_1


Mereka akan mengajak Arumi liburan dalam waktu yang belum bisa di tentukan. Setidaknya, Arumi bisa mengobati luka di hatinya.


Mendengar penuturan orangtuanya, mendadak wajah Arumi suram. Ia terdiam seribu bahasa. Menerima, sama saja jika ia memberikan waktu untuk Saguna semakin melupakan dirinya.


Jika menolak, sama saja Arumi melukai hati kedua orangtuanya.


Pada akhirnya gadis itu pun menganggukkan kepala meski rasanya sangat berat.


“Iya, Mom, Dad. Arumi mau. Tapi dengan syarat.” tuturnya.


Kening Fatir mengernyit mendengar ucapan sang anak. Sementara Sekar menatap suaminya penuh tanya.


“Syarat?” Keduanya serentak bertanya.


Fatir tampak menghela napas kasar. Ia menggeleng, tanpa bisa memaksa anaknya. Liburan tiga hari sama saja tidak liburan. Bahkan ia awalnya berniat untuk membawa Arumi berbulan-bulan.


“Itu waktu yang sangat singkat, Arumi…”


Tanpa mau mendengar apa pun lagi, Arumi sudah melanjutkan sarapan dan setelahnya ia bergegas pergi ke kantor. Harapannya malam ini agar cepat pagi dan bertemu Saguna lagi akhirnya pun terkabul.

__ADS_1


“Sa,” panggil Arumi kala melihat Saguna sudah turun dari mobil. Pria itu menarik dasi demi merapikan dan menghentikan langkah.


“Arumi.” ucap Saguna tetap baik. Meski tak sehangat biasanya.


“Sa, aku ingin bicara bersamamu sebentar. Aku sangat rindu,” Jika biasanya Saguna sangat halus dan menerima apa pun permintaan wanita di depannya ini. Tidak untuk saat ini.


Ia sudah yakin dengan hatinya. “Arumi, tolong profesional. Kita sedang jam kerja sebentar lagi.” Saguna berusaha untuk menghindar, sayangnya Arumi sudah memeluk tubuh tegap Saguna dari belakang.


Inilah hal yang sulit Arumi kendalikan. Semua rencana yang ingin ia susun dengan baik, sulit melawan keinginan hati setiap kali melihat Saguna.


“Arumi, lepaskan.” Saguna mencengkram kuat dan secepat kilat pria itu berhasil melepaskan tangan Arumi dari pinggangnya.


Ada amarah yang Arumi tangkap di wajah Saguna.


“Sa, aku sakit seperti ini. Aku tidak bisa kau perlakukan seperti ini. Aku mohon kembalilah padaku, Sa. Aku tidak kuat.” ujar Arumi memohon dengan sangat.


Sayangnya Saguna tak bisa luluh lagi. Cintanya untuk Arumi sudah hilang tak bersisa. Setiap hari semua cintanya pelan-pelan terkikis dan pindah pada sang istri.


Jika di bilang egois, itulah Saguna. Ia sama pada manusia umumnya yang sulit menempatkan hati pada siapa.

__ADS_1


“Maaf, Arumi. Menjauhlah. Aku terlalu menyakitimu. Tapi inilah yang harus aku katakan. Gita, wanita satu-satunya yang akan ada di hidupku selamanya. Aku tak bisa memberikan harapan apa pun lagi padamu. Maafkan aku…”


Bagai di cabut nyawa, Arumi diam tak bergerak. Matanya menatap kosong tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tubuhnya mematung menahan getaran yang bergejolak. Hanya air mata yang bergerak jatuh ke pipinya.


__ADS_2