Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Pelukan dan Sapuan Lembut Yang Entah Kemana


__ADS_3

Pagi yang sangat di nantikan oleh seorang gadis cantik yang tengah meratapi kesedihannya pagi ini bagai mimpi yang sangat tak terduga. Wajah pucat mata sembab serta penampilan yang kacau sungguh menjadi pemandangan seorang pria yang kini menatapnya dari arah samping.


"Arumi..." pelan namun tetap terdengar jelas suara itu hingga nama yang di panggil perlahan menoleh ke samping dengan wajah yang masih sendu. Ia tahu itu adalah halusinasi seperti biasanya.


Langkah kaki Saguna satu persatu ia pandangi hingga mata milik Arumi kini menunduk ke arah samping guna melihat kaki yang kian dekat dengannya. Air mata yang semula mengering kini sudah menetes dan jatuh di lantai sisi tempat tidurnya.


Beningnya lantai marmer kamar itu menjadi saksi kala Saguna melihat dua tetes air mata yang melebar di bawah sana.


"Arumi, apa kau baik-baik saja?" pertanyaan Saguna membuyarkan kesedihan gadis itu.


Suara yang begitu ia rindukan terdengar nyata di sisi telinganya. Senyuman pun perlahan terbit di wajah cantik Arumi kini.


"Sa...kau kah itu?" tanya gadis itu perlahan turun dari tempat tidurnya dan mendekat pada pria yang berdiri tegak di depannya dengan wajah yang turut tersenyum getir.


Sungguh, inilah yang sangat Saguna takutknya jika sang kekasih kembali lagi depresi dan ia kembali lagi untuk kedua kalinya tak bisa melakukan apa pun. Bahkan sekedar untuk mengusap air mata gadis di depannya pun ia tidak akan sanggup.

__ADS_1


Dari arah pintu dua wajah sepasang suami istri yang sudah tak lagi muda itu ikut sedih menyaksikan bagaimana anak mereka di dalam sana meneteskan air mata sembari menggantung tangannya ingin menyentuh wajah tampan milik Saguna.


"Anak kita kasihan sekali, Pah...apakah harus kita menjodohkan Arumi dengan pria lain?" tanya Sekar, ibu dari Arumi pada sang suami yang langsung menggelengkan kepala mengerutkan keningnya dan memejamkan matanya sejenak.


Sebagai seorang ayah pun ia kini tak tahu lagi harus melakukan apa saat ini untuk sang anak.


Dari arah pintu mereka kembali mendengar isakan Arumi. Jelas mata mereka melihat bagaimana Arumi terisak kala tangannya tak sampai menjangkau wajah sang kekasih. Saguna mundur saat tangan kurus itu sudah hendak memegang wajahnya. Arumi hanya ingin memastikan jika di hadapannya benar adalah sang kekasih kali ini bukan halusinasi.


"Sa...kau menolakku?" tanya Arumi memeluk tangannya sendiri saat tangan itu tak mampu menggapai wajah Saguna.


"Maafkan aku, Arumi. Aku mohon mengertilah keadaanku. Aku masih memiliki ikatan dengan Gita. Bagaimana mungkin aku menyentuhmu?" tanya Saguna berusaha dengan suara selembut mungkin memberi pengertian pada Arumi.


Arumi sayangnya sulit mengontrol hatinya kala itu. Ia hanya berpikir ingin memeluk Saguna demi melepaskan beban sakit di hatinya.


"Aku merindukanmu, Sa. Aku sangat merindukan mu. Aku mohon peluk aku saja , Sa. Aku sakit." Arumi sangat terlihat mengemis pada Saguna.

__ADS_1


Tanpa terasa Saguna meneteskan air matanya melihat bagaimana keadaan Arumi saat ini. Bahkan hatinya turut sakit melihat dan mendengar bagaimana Arumi mengemis padanya.


"Aku benar-benar jahat, Arumi. Aku tidak pantas membuatmu mengemis seperti itu. Aku mohon jangan seperti ini." Saguna hanya mampu berdiri tanpa berniat menggenggam tangan Arumi atau pun mengusap punggung wanita yang rapuh itu.


Sadar jika tak akan selesai, Saguna memaksakan dirinya untuk segera pergi dari kamar itu tanpa melakukan apa pun dengan Arumi yang terduduk di lantai kamarnya menangis.


Tak mampu Saguna berucap, pria itu hanya meneteskan air mata sembari keluar dan meninggalkan kediaman Arumi. Sekedar berpamitan pun pria itu tak sanggup bersuara. Ia melewati begitu saja kedua orangtua Arumi dan masuk ke dalam mobilnya.


"Arumi!" Sekar menangis berteriak memeluk tubuh sang anak. Begitu pun dengan sang daddy yang turut membantu anak mereka bangun dan kembali duduk di ranjang.


"Saguna jahat, Mom. Saguna jahat pada Arumi, Dad." Hancurlah perasaan wanita itu kala untuk pertama kalinya Saguna tak bisa menyentuhnya.


Kemana pelukan hangat yang selalu ia dapatkan tiap kali bertemu Saguna? Kemana sapuan lembut tangan yang berada di rambut pendeknya itu? Kini semua telah menjadi milik wanita lain.


Bahkan senyuman dan kekuatan yang Arumi bangun saat di kediaman Saguna dengan harapan akan bisa bersatu setelah kelahiran anak mereka, nyatanya tak mampu membuat Arumi sekuat itu sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2