Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Sapaan Hangat


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit jiwa, tampak Gita di sambut dengan senyuman tak sabar wanita yang bernama Paramita Sari. Yang akrab di panggil dengan Mita.


“Gita,” Semua kaget melihat wanita yang di rawat di kamar kecil itu tampak antusias saat petugas RSJ membuka kunci kamarnya.


“Bunda, selamat pagi.” Gita pun sudah memeluk wanita itu dengan sangat erat.


“Kenapa lama datangnya? Bunda lapar banget.” Wanita paruh baya itu menunduk sedih mengelus perutnya yang katanya lapar.


“Itu ada makanan. Bunda tidak mau makan itu?” tanya Gita saat melihat piring bubur isinya masih utuh.


Tak menjawab, Mita hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin makan makanan buatan orang lain.


“Saguna mengantarnya.” ujar wanita itu.


Kini Oma Rosa bisa melihat wanita yang sebelumnya sangat menakutkan sudah nampak jauh berubah. Ada perasaan senang melihat perubahan drastis sang menantu.


“Mita,” sapa Oma Rosa yang tidak mendapatkan jawaban. Mita hanya menunduk tanpa bersuara apa pun.

__ADS_1


Sementara Gita mencegah Oma Rosa bicara dulu. “Oma, boleh Gita suapi Bunda makan dulu? Setelah itu kita bicara di taman.” tutur Gita meminta ijin dan Oma Rosa tampak setuju.


“Taman? Main di taman?” tanya Mita dengan wajah girangnya. Ia tertawa senang mendengar kata taman.


Gita pun tersenyum. “Iya Bunda. Kita akan ke taman setelah Bunda makan dan menghabiskannya.” tutur Gita.


Dengan semangat wanita itu pun menghabiskan makanan yang Gita suap padanya.


“Sebelumnya dia sangat depresi dengan hilangnya Saguna. Saya tidak menyangka lama tidak melihat, dia sudah jauh lebih baik.” tutur Oma Rosa bercerita pada kedua orangtua Gita dan juga Shani yang mendadak kurang bicara.


Terlalu banyak hal yang terjadi membuat gadis itu tampak bingung merespon dengan cara apa. Akhirnya ia memilih menjadi penyaksi kejadian saja.


“Bunda minum obat dulu yuk?” Gita menyodorkan obat yang sudah di beri pihak RSJ.


Gelengan kepala Mita tentu saja membuat Gita sedih. “Bunda, harus minum obat biar kuat main di taman. Gita sedang hamil. Kalau Bunda sakit di taman siapa yang bantuin Bunda? Kan Gita nggak kuat.” bujuknya memasang wajah sedih.


Mita terdiam beberapa saat, matanya pun tampak menatap dalam kedua bola mata sang menantu. Tangannya ia gerakkan meraih wajah Gita. “Anak Bunda jangan sedih. Bunda mau minum obat kok.” ujarnya memberi semangat pada Gita kembali.

__ADS_1


Kini semua pun tampak duduk menikmati suasana taman pagi itu yang sejuk. Pepohonan yang rindang membuat mentari tak begitu menembus tubuh yang duduk di taman.


Mita yang bermain seorang diri hanya jadi pemandangan mereka semua.


“Bundamu sudah jauh lebih baik. Saguna pasti senang melihatnya.” ujar Oma Rosa yang tahu setiap pagi sang cucu pasti datang kemari.


Gita tersenyum. “Maaf Oma, Mas Saguna belum tahu sepertinya. Sebab kata penjaga RSJ, Bunda selalu diam setiap Mas Saguna datang.” jawab Gita tak tega rasanya melihat sang suami yang datang tanpa bisa melihat perubahan sang bunda.


Mendengar itu tentu saja Oma Rosa mengerutkan keningnya tak percaya.


“Benarkah itu, Gita?” Pertanyaan Oma Rosa membuat Gita menganggukkan kepalanya.


“Iya, Oma.”


“Mau sampai kapan kamu merahasiakan ini dari Saguna?” Kini bukan Oma Rosa yang bertanya. Melainkan Haidar.


“Pak, Gita ingin saat keadaan Bunda semakin baik baru Gita ikut bersama Mas Saguna kemari dan memberikan kejutan.

__ADS_1


Gita membayangkan akan hari yang sangat ia nantikan. Menjenguk mertua dan memperlihatkan kedekatannya dengan sang suami. Sudah bisa ia bayangkan bagaimana Saguna akan sangat syok melihatnya.


__ADS_2