
Hari yang seharusnya Saguna lakukan dengan sangat baik, nyatanya dari pagi sampai siang ia justru hanya terduduk melamun di ruang kerjanya. Ketukan pintu di depan ruangannya pun sudah berjalan dua kali dan ini ketiga kalinya baru pria tampan itu tersadar.
"Permisi, Tuan." Angga setengah membungkukkan tubuhnya saat tangannya berhasil membuka daun pintu lantaran tak mendapatkan jawaban juga.
Saguna menatapnya dengan tatapan yang terbaca. Pelan Angga melangkah menuju meja kerja sang tuan. Ragu hatinya mengatakan, jelas ia tahu keadaan sang tuan sangat tidak baik kali ini.
"Tuan, saya ingin memberikan laporan dari tim..." belum sempat Angga menjelaskan tujuannya datang. Saguna sudah bergerak memijat pelipisnya yang sangat sakit.
"Aku percaya kau bisa mengatasi semuanya, kalau tidak bisa minta bantuan Paman Dana. Aku harus pergi, Angga." Tanpa bisa berkata apa pun Angga terdiam, Saguna menghela napas seraya meninggalkan ruangan kerja.
"Meminta bantuan pada Tuan Angga?" batin Angga menggelengkan kepalanya frustasi.
"Tuan, ini sangat penting." gumamnya kala mata pria itu menatap berkas yang ada di genggamannya saat ini.
Di sisi lobi tampak wanita cantik dengan penampilan sederhana berdebat dengan seorang resepsionis meski tak berdebat besar.
"Maaf, Mba. Di sini tidak ada namanya Jupri. Adanya hanya Jeje. Itu pun bukan pria. Sedangkan Mba panggilnya Bang Jupri." sopan resepsionis berusaha menjelaskan.
"Mba, saya lupa nama lain Bang Jupri. Pokoknya semacam Sagu...gitu." Gita kembali lupa bahkan ia beberapa kali memejamkan mata demi mengingat nama sang suami.
Bahkan sang resepsionis dalam hati bergumam. "Apa yang di maksud Tuan Presdir Saguna? kayaknya tidak mungkin." batinnya bermonolog.
Sejenak Gita menoleh pada mobil di depan sana. "Yasudah saya tanya ke Pak supir dulu deh, Mbak." baru saja Gita hendak melangkah ke luar loby perusahaan, suara bariton Saguna tiba-tiba saja menggema.
"Gita!" panggilnya berjalan dengan cepat.
Gita dan resepsionis berpenampilan menarik itu menoleh ke arah yang bersamaan.
__ADS_1
"Bang Jupri, akhirnya..." Senyuman Gita dan suara yang keras melengking itu membuat beberapa mata di loby perusahaan milik Saguna menoleh tak percaya.
"Bang Jupri?" begitu pertanyaan yang muncul di benak mereka semua.
Bahkan sepasang mata yang tak jauh dari sana sampai membungkam bibirnya menahan tawa. Angga rupanya sudah ikut menyusul ke bawah berusaha mengejar Saguna. Nyatanya ia di buat kaget dengan ekspresi Gita saat bertemu sang suami.
"Haduh...Tuan, sia-sia lahirmu di luar negeri kalau nama mu saja sampai seburuk itu." kekehnya dalam hati tanpa berani berniat untuk mengutarakan isi hatinya pada sang tuan.
"Git, mengapa tidak langsung masuk saja ke atas?" tanya Saguna kala matanya melihat rantangan bekal yang di bawa sang istri di dalam genggamannya.
Merasa bersalah karena menahan wanita yang berbicara dengan sang presdir, akhirnya resepsionis itu menunduk seraya meminta maaf sebelum terlambat.
"Maafkan saya, Tuan Presdir. Tadi Mba ini mengatakan nama lain. Dan saya tidak tahu jika yang di maksud adalah anda. Jadi saya meminta detail nama yang akan di tuju baru saya mengijinkannya masuk." Gita dan Saguna menoleh pada wanita itu yang menunduk penuh rasa bersalah.
Gita tersenyum. "Nggak papa yah, Bang Jupri? Kan aku yang salah." Gita dengan lemah lembutnya masih tetap tersenyum membuat Saguna hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Melihat kepergian sang tuan dengan Gita menuju ruangan, niat Angga terhenti untuk membicarakan lagi soal temuannya barusan. "Sudahlah sepertinya Tuan sudah mulai tenang. Sebaiknya saat jam istirahat siang usai baru aku menemui beliau lagi." ujarnya mantap dan kembali ke ruangan untuk meletakkan berkas dan menuju keluar demi mengisi isi perutnya.
Tanpa Gita dan Saguna tahu, kepergiannya menjadi waktu beberapa pekerja di perusahaan itu terkekeh membahas hal yang baru saja terjadi.
"Tuan Presdir namanya gemesin juga yah?" mereka terkekeh di meja resepsionis. Di sana terdiri dari dua orang resepsionis dan empat orang staff dari bidang lainnya.
"Tampannya tiba-tiba terjun bebas gara-gara nama Jupri hahaha." mereka tampak menahan perut membayangkan wajah Saguna yang tampan maksimal jadi memakai pakaian usang dan celana yang sangat tidak pantas ia kenakan. Mungkin itu akan cocok.
"Bisa runtuh marga Winston ya...haduh lagian siapa sih perempuan itu? Adiknya atau sepupunya?" mereka kali ini penasaran dengan sosok Gita yang sangat cantik bahkan dengan akrabnya Saguna tadi menggandeng tangan wanita itu memasuki ruangan kerjanya.
"Entahlah. Atau jangan-jangan itu perempuan yang di bilang-bilang batalin pernikahan Tuan dan Nona Arumi?" mereka pun ingat dengan desas desus beberapa waktu lalu kala pernikahan yang meriah tak jadi berlangsung.
__ADS_1
***
"Dia siapa, Bang Jupri?" pertanyaan Gita terlontar kala mereka kini menata seorang wanita yang di ruangan dengan rambut yang acak-acakan duduk di pojokĀ kasur berkuran cukup satu orang saja.
Selepas makan masakan sang istri, Saguna memang membawa Gita sesuai dengan rencananya menuju sebuah rumah sakit jiwa di mana sang ibu di rawat sejak kepergiannya yang kecelakaan.
"Dia Bunda Mita, Bundaku. Wanita yang melahirkan aku." Pandangan Saguna tak lepas menatap punggung sang bunda.
Gita mendengarnya sangat kaget hingga membuka mulutnya tak percaya. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini di rumah sang suami. Ia selalu bertanya dalam hati di mana kedua mertuanya. Dan siang ini ia mendapatkan jawaban satu pertanyaannya.
"Aku akan masuk lebih dulu. Tetaplah di sini sampai aku memanggilmu." ujar Saguna yang takut jika Gita kenapa-napa. Mengingat sang bunda sepertinya sedang tidak stabil.
"Bunda..." suara Saguna menghentikan tangis wanita itu yang bersuara lirih.
Ia membungkam bibirnya seraya menoleh ke belakang. Sosok tampan yang sangat ia tunggu kedatangannya kini akhirnya tiba juga.
Senyuman Saguna lihat dengan jelas, hatinya tenang melihat sang bunda tampaknya sudah jauh lebih mengenalnya saat ini. Dengan senang, Saguna pun menganggukkan kepalanya pada sang istri di luar sana seolah memberikan isyarat jika Gita boleh masuk menyusulnya.
"Bunda..." Gita turut memanggil wanita itu pelan dengan wajah yang tersenyum tulus ingin berkenalan dengan sang mertua.
Namun Saguna mau pun Gita sama-sama tak menyangka jika kehadiran Gita kali ini membuat wajah tersenyum Mita berubah penuh amarah.
"Pergi!" Dorongan keras yang membuat Saguna hampir saja tak bisa meraih tubuh sang bunda, membuat Gita mundur secara refleks dan sangat syok.
Ia ketakutan melihat sang mertua yang hendak menyerangnya dengan sangat menakutkan.
"Bang Jupri..." lirih Gita memanggil sang suami sembari memegang perutnya yang merasakan nyeri di bagian bawah perut.
__ADS_1