
Tanpa permisi daun pintu yang terbuka lebar segera Saguna tutup. Bahkan saat menatapnya pun ia tak menoleh ke arah Arumi.
Pintu tertutup rapat meninggalkan sosok Arumi dan Angga di sana. Begitu jelas Angga melihat Arumi menarik napas panjang.
“Apa aku salah?” Arumi berucap lirih pada dirinya sendiri. Ia menahan dadanya yang sakit. Namun tak mampu menahan air matanya lagi.
Meski sedikit kesal, rasanya Angga tahu bagaimana di posisi Arumi. Wanita yang cukup lama setia pada sang presdir nyatanya kini terlupakan begitu saja.
“Nona Arumi, sebaiknya kita pergi dari sini.” tutur Angga dengan pelan. Bagaimana pun ia sendiri tahu sebaik apa Arumi. Wanita yang cantik dan sangat mencintai Saguna.
Sungguh, rasanya dunia tidak adil pada Arumi.
“Angga, Saguna tidak melupakan aku kan? Saguna masih mencintai aku kan, Angga? Dia tidak lupa dengan pernikahan kami kan, Angga?” Pertanyaan yang Arumi lontarkan membuat Angga meneguk kasar salivahnya.
“Tentu saja tidak, Nona. Tuan hanya sedang membatasi sebagaimana mestinya seorang suami. Tenanglah, bertahanlah selagi Nona masih kuat. Tetapi jika tidak, carilah kebahagiaan anda, Nona. Masih banyak pria di luar sana yang akan sangat mencintai wanita sebaik anda.” Penuturan Angga di awal sungguh membuat Arumi lega. Namun, di akhir kalimat justru Arumi tak lagi ingin melihat Angga.
Wanita cantik itu berjalan cepat memasuki ruang kerjanya.
__ADS_1
Sementara di dalam ruang kerja, Saguna memeluk erat tubuh Gita. Ada rasa bersalah mendengar bagaimana Arumi berkata pada istri kecilnya barusan.
“Maafkan aku, Arumi. Aku egois. Tapi saat ini aku sudah yakin jika pernikahan ku dan Gita akan tetap bertahan selamanya.” batin Saguna yang kini menyadari kala keadaan membuat dua wanita sama-sama sedih. Justru ia mengikuti kata hati yang lebih mengutamakan sakit di hati Gita.
“Gita, maafkan Mas. Arumi tadi datang tanpa Mas tahu. Tadi pagi dia bersama Daddy nya datang kemari untuk meminta Mas menerima Arumi bekerja di kantor ini.” Tanpa mau ada salah paham, Saguna menjelaskan dengan detail.
Mendengar itu, Gita tersenyum. Ada perasaan lega mengingat sang suami jujur padanya. Namun, di saat bersamaan Gita merasakan ada hawa persaingan saat ini. Arumi bekerja di perusahaan sang suami, itu artinya mereka akan bertemu setiap hari.
Tak ingin gegabah, akhirnya Gita dengan tenang berucap pada Saguna. “Tidak apa-apa, Mas. Tidak perlu meminta maaf. Itu bukan sebuah masalah. Tapi, apa boleh Gita minta sesuatu sama Mas?” tanyanya dengan penuturan yang sangat sopan.
“Boleh setiap siang aku datang membawakan Mas makan siang? Kita makan berdua, rasanya Gita tidak selera makan jika di rumah tidak ada Mas.” ucapnya terdengar sangat manja.
Yah, setidaknya dengan datang setiap waktu istirahat sang suami, Gita tak akan memberikan waktu untuk Arumi dan Saguna bertemu. Beda halnya di waktu bekerja.
“Boleh. Apa yang tidak boleh untukmu. Tapi, jika sudah besar dan mendekati hari lahiran, berdiam dirilah di rumah.” Ucapan Saguna lantas membuat wajah Gita meredup senyumannya.
Itu artinya suaminya belum aman, Saguna pun sadar dengan perubahan wajah sang istri.
__ADS_1
“Mas yang akan pulang, Gita. Kita makan siang bersama di rumah. Selama hamil besar nanti Mas akan bekerja setengah hari saja dari perusahaan.”
Senyuman pun mengembang dengan begitu lebar. Entah mimpi apa, Gita sungguh tak menyangka Saguna akan semanis ini dengannya. Meski ada sedikit rasa penasaran tentang Arumi, namun Gita tak ingin merusak hati suaminya. Tidak baik membahas wanita lain di sela perbincangan hangat suami istri.
Saguna lupa dengan Arumi, itu tentu saja akan jauh lebih baik.
“Terimakasih yah, Mas.” Dengan keberanian Gita membalas memeluk dengan erat tubuh tegap suaminya.
Hingga akhirnya percakapan pun berakhir saat perut Saguna terdengar berbunyi, “Mas sudah lapar cium aroma masakan di rantang itu.”
Gita segera melepaskan pelukan dan menata makanan di atas meja dan mulai menikmati makan siang bersama suami tercinta.
Hilang sudah pikiran tentang Arumi yang kini menangis di ruangannya seorang diri.
Harapannya bekerja di perusahaan bisa menghabiskan waktu bersama Saguna, dan mengenang kembali moment mereka untuk hari pertama hancur.
“Tidak, Arumi. Ini hari pertama mu bekerja. Yah, kau tidak boleh seperti ini terus. Saguna adalah cintamu. Gita hanya ujian untuk hubunganku.” ucapnya memberikan semangat pada diri sendiri.
__ADS_1