
Air mata yang tak pernah terlihat jatuh akhirnya kini tampak menetes kala dua bola mata indah berwarna hitam legam itu menatap tubuh bayi mungil yang merah di dalam gendongan suster. Tangisan menggema tak membuatnya sadar dari kekagumannya akan sosok bayi yang sangat tampan.
Saguna menggendong sang bayi untuk memberikan adzan. Usai semua beres akhirnya sang anak kembali di bawa pihak rumah sakit ke ruang khusus bayi. Sembari menunggu Gita sadar, Saguna memilih terus menunggu istrinya. Ia ingin menjadi orang pertama yang Gita lihat saat membuka mata.
Satu kecupan, dua kecupan ia daratkan di kening mungil sang istri. Sungguh rasa bahagia yang ia dapat hari ini benar-benar tak pernah terbayangkan. Senyuman bahagia pun tak pernah pudar dari wajah tampan Saguna.
"Terimakasih, Git. Terimakasih telah melahirkan anak untukku." tuturnya membelai anak rambut Gita yang berantakan.
Beberapa jam berlalu akhirnya Saguna memutuskan untuk tetap di rumah sakit menjalani rawat inap demi kesembuhan sang istri.
"Oma," Saguna mendekati tempat dimana para keluarga hendak masuk ke ruang rawat. Gita sudah masuk terlebih dahulu di bantu para suster. Namun, Saguna yang ikut mendorong brankar sang istri terhenti begitu saja saat melihat sosok yang tak ia sangka akan hadir di depannya.
"Bunda..." Saguna terdiam berusaha menyadarkan dirinya. Benarkah wanita yang di depannya saat ini adalah sang bunda?
Senyuman lebar dari wanita cantik yang sudah lama berada di RSJ membuat Saguna benar-benar syok. Bahkan ia bingung harus berbuat apa saat ini.
"Sa...anak Bunda." ujar Mita mendekati sang anak.
Mendengar ucapan yang sangat nyata, Saguna berlari memeluk sang bunda. Ia menangis harus di waktu yang bersamaan dengan kelahiran sang anak.
"Bunda, ini benar Bunda?" tanyanya lagi sembari mengurai pelukannya.
__ADS_1
Mita tampak mengangguk. "Ini Bunda, Sa. Bunda datang atas permintaan Gita." ujarnya membuat kening Saguna mengernyit tak mengerti. Apa yang terjadi tanpa ia tahu sebenarnya?
Tak mendapat respon apa pun dari sang anak, Mita hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia memeluk erat kembali tubuh sang anak.
"Gita, istrimu. Bunda sudah memintanya untuk memberi tahu Bunda jika melahirkan. Dan Gita yang meminta Bunda merahasiakan kedekatan kami. Selama ini setiap kamu habis berkunjung, Gita akan datang membawakan makan untuk Bunda. Dengan dekorasi yang lucu-lucu. Awalnya Bunda tidak tahu siapa dia dan Bunda tidak bisa mengontrol emosi Bunda. Tapi, dengan segala kelembutan dan kasih sayangnya pada Bunda, Gita mampu menggeser nama anak Bunda satu-satunya untuk Gita. Dan Bunda sudah beberapa waktu lalu di nyatakan sembuh. Hanya menunggu keadaan Bunda benar-benar stabil. Gita tadi meminta Angga untuk mengurus Bunda keluar dari RSJ. Maafkan Bunda yah?"
Saguna terdiam berusaha mencerna setiap kata yang ia dengarkan saat ini. Gita telah lama mendekati sang Bunda? Itu artinya Saguna benar-benar sangat beruntung memiliki istri yang sangat perduli dengan keluarganya. Bahkan pada sang oma, wanita itu tak mendapat penolakan apa pun. Yang artinya Gita telah menjadi menantu yang tepat.
"Sa, Gita adalah wanita yang baik dan tulus. Jangan pernah sia-siakan dia. Bunda tahu, Arumi juga wanita yang sangat baik. Tapi, Gita adalah istrimu, dia adalah ibu dari anakmu. Jangan perlakukan dia dengan tidak adil. Lupakan semua yang bukan menjadi hak takdirmu."
Patuh, Saguna pun menganggukkan kepalanya. Ia hanya tersenyum mendengar nasihat sang bunda. Hingga akhirnya mereka semua masuk ke ruang rawat dimana Gita kini samar-samar membuka matanya pelan.
Banyak wajah yang ia lihat berdiri tersenyum. Satu wajah tampan yang begitu ia rindukan saat terpejam tadi.
Saguna memeluk tubuh Gita. "Terimakasih, Gita." ujarnya.
Saat berpelukan, Gita menggerakkan matanya menatap satu wajah wanita yang ia nantikan kehadirannya saat sebelum operasi.
"Bunda..." ujarnya tersenyum dan Saguna sadar lalu segera melepaskan pelukan itu.
"Sayang, maafkan Bunda yang telat datang yah?" Mita memeluk Gita dengan sangat akrab.
__ADS_1
Sumpah demi apa pun, kini tak ada kebahagiaan yang Saguna harapkan selain kebahagiaan di hari ini. Kelahiran sang anak serta kesembuhan wanita yang paling ia cintai.
"Sayang, terimakasih telah merawat Bunda dengan cintamu." ujar Saguna membuat Mita dan Gita melepaskan pelukannya.
"Bunda juga ibuku, Mas. Jangan berterimakasih. Yang terpenting kita semua bisa sehat menemani pertumbuhan anak kita." ujarnya melihat sang baby yang sudah berada di box bayi tengah terlelap.
Di saat itu pula sang dokter meminta Gita untuk belajar mengasihi anaknya. Meski awalnya kesulitan perlahan ia pun bisa melakukan. Dan semua tampak terkekeh melihat hal itu.
"Oma senang, kalian semua bisa berkumpul. Setidaknya semuanya sudah pada titik bahagia. Saguna, Oma berikan peringatan. Jangan sampai meneteskan air mata Gita satu titik pun. Kalau sampai kamu melakukan itu, Oma akan meneteskan darahmu satu liter bandingannya." Semua tertawa termasuk Gita saat mendengar ancaman Oma Rosa yang sangat mengerikkan.
Sedangkan di luar sana, Angga tampak menunduk hormat saat menyambut kedatangan keluarga Gita yang terlambat. Sebab perjalanan yang memang membutuhkan waktu panjang. Meski menggunakan helikopter tetap saja masih memakan waktu. Namun, tidak selama perjalanan darat.
"Git," panggil kedua orangtuanya serentak saat melihat sang anak sudah menggendong bayi mungil di sana.
"Bapak, Ibu." Gita menyahut dan meneteskan air mata. Sontak saat itu juga kedua orangtuanya memeluk Gita dengan tangis haru mereka.
Kini berakhirlah perjuangan Gita menjadi istri yang di ragukan statusnya. Perjuangan untuk mempertahankan haknya menjadi istri berakhir bahagia. Sebab ia percaya, apa yang di perjuangkan dengan benar dan melakukannya dengan tulus, akan ada cinta yang tumbuh melebihi cinta yang ingin ia dapatkan. Memperjuangkan Saguna, justru tidak hanya sang suami yang ia dapatkan.
Gita mendapatkan anak, mendapatkan dukungan dari sang oma serta kasih sayang yang besar ia dapatkan juga dari sang Bunda mertua.
The End
__ADS_1
--------------------------------------------------
Terimakasih untuk para semua pembaca setia Istri Kecil Tuan Presdir. Saya sangat senang bisa menulis novel ini meski alurnya lebih cepat dari novel sebelum-sebelumnya. Jangan lupa kunjungi novel auhtor yang lainnya yah. Salam sayang...