
Perjalanan berikutnya di siang hari adalah perusahaan The Winston. Dengan perasaan bahagia, ia berjalan memasuki gedung tinggi yang tak asing lagi baginya. Beberapa pekerja di perusahaan sang suami tampak membungkuk hormat kala melihat kehadiran sang pemilik hati presdir mereka.
Menuju lantai presiden direktur perusahaan The Winston, langkah Gita terhenti kala melihat sosok Arumi yang memanggilnya.
"Gita." Orang yang memiliki nama itu pun menoleh ke belakang di mana wanita yang ia kenal sudah berdiri tak jauh dari jaraknya saat ini.
"Kak Arumi, sudah istirahat, Kak?" sapa Gita berbasa basi.
Tak ada jawaban yang ia dengar, namun Arumi melangkah mendekatinya. Arumi menatap tubuh Gita dengan tatapan dalam.
__ADS_1
"Apa kamu tahu aku begitu mencintai, Saguna?" pertanyaan Arumi mendadak membuat tubuh Gita menegang. Bahkan wanita itu tiba-tiba merasakan perut bagian bawahnya seperti kontraksi palsu.
Hanya anggukan samar yang Gita berikan saat ini.
"Kamu seorang wanita juga, tentu kamu tahu Gita bagaimana sakitnya di tinggal pria yang kita cintai. Itu yang ku rasakan sekarang. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa Saguna, Git. Bahkan aku memberanikan diri untuk bertahan dengan kehidupanku saat ini. Tapi entah aku akan bertahan selama apa? Aku mohon, mengerti keadaanku, Gita. Apa perlu aku bersujud di kaki dan mencium kakimu sekarang?" pertanyaan Arumi sontak membuat Gita mengangkat kepalanya tak setuju.
Badannya tampak gemetar menahan sakitnya mendengar ucapan tegas dari sang rival. Gita yang selalu bertutur lembut kini terdengar menegaskan jika ia tidak akan melepaskan Saguna dari genggamannya. Sungguh rasanya Arumi begitu menyesali keputusan Saguna kala itu untuk membatalkan pernikahan mereka. Andai saja Arumi berkeras mungkin ia masih bisa mengendalikan keadaan.
Meninggalkan Arumi, di sini Gita sudah mengembangkan senyuman seolah tak terjadi apa-apa. Ia menyapa wajah tampan sang suami yang baru saja melihat kehadirannya di ruangan itu.
__ADS_1
"Gita," sapa Saguna segera mematikan laptop dan menutupnya. Ia berjalan menghampiri sang suami. Ciuman tulus di punggung tangannya terasa begitu meneduhkan. Segera Saguna mencium kening sang istri.
Tangannya mengusap perut sang istri yang buncit. "Anak Ayah baik-baik saja kan? Tidak nakal kah hari ini?" tanyanya tersenyum pada sang istri.
"Anak kita pintar kok, Mas," jawab Gita.
Rasanya hari ini Gita sangat senang karena bisa memiliki waktu mendekati sang mertua tanpa Saguna tahu itu. Bahkan ia meminta pak supir untuk tidak memberi tahu Saguna lebih dulu karena Gita ingin memberikan kejutan pada sang suami.
Keduanya pun tampak menikmati makan siang bersama, dan berbincang hangat. Pikiran Saguna benar-benar tak terisi oleh nama Arumi lagi kali ini. Ia benar-benar telah lupa akan wanita yang begitu ia cintai saat itu.
__ADS_1