
Satu tarikan napas dalam Oma Rosa perlihatkan saat Gita tampak berjalan ke arahnya dengan Ragu. Manik mata Oma Rosa tertuju pada satu persatu anggota keluarga sang cucu menantu.
“Oma datang?” sapa Gita kikuk yang bahkan tak bisa menata kalimat tanyanya kali ini.
Jelas Gita melihat Arumi yang menyembunyikan senyum ganjil di wajah cantiknya. Sungguh Gita sedang bersiap menerima apa pun yang terjadi saat ini.
“Mas Saguna, pulanglah!” jerit Gita dalam hatinya. Sayang dunia mereka adalah dunia nyata yang tak mungkin membuat jeritan dalam hati bisa terdengar oleh orang lain terlebih dengan jarak yang sangat jauh seperti Gita dan Saguna saat ini.
“Bagaimana bisa sih kalian menikah tidak mengabari Oma? Apa kamu tidak menganggap Oma lagi, Gita?” Satu kalimat tanya yang terlontar dari bibir Oma Rosa membuat semua menatap tak percaya. Bahkan nada ucapan barusan terdengar sangat lembut pada Gita yang berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
“Oma…” Gita menggantung ucapannya tak tahu harus mengatakan apa.
“Iya. Oma tahu, bahkan Arumi yang memberi tahu. Kalau saja tidak di beri tahu Arumi Oma sampai di hari terakhir pun tidak tahu jika kalian sudah meresmikan pernikahan secara hukum. Heh ada-ada saja.” Gerutuan Oma Rosa seketika membuat Gita tersenyum kikuk serta menghela napasnya kasar.
Sungguh ini jauh dari dugaan mereka semua. Dan di belakang Oma Rosa Arumi sudah tampak jelas menunjukkan wajah yang benar-benar tak bisa di artikan. Semula Gita bisa melihat jika Arumi sendiri tampak syok serta memerah di bagian matanya.
“Bagaimana kandungan kamu? Sehat saja kan? Saguna jadi suami yang siaga tidak?” Antusias Oma Rosa bertanya sembari mengusap perut buncit Gita hingga ia tidak sadar dengan kehadiran Arumi yang begitu kecewa melihatnya.
“Astaga bagaimana bisa mulut ini tidak berperasaan? Tapi rasanya aku senang sekali memegang perut ini. Saguna memang cucuku yang bijak. Tidak salah aku membiarkannya mengambil keputusan sendiri.” Oma Rosa tampak bergumam saat tangannya menikmati elusan pada perut Gita.
__ADS_1
“Oma, itu Bapak dan Ibu dari kampung. Sama adik Gita juga. Kalau Paman dan Tante ini pasti Oma sudah mengenalnya.” Satu persatu anggota keluarga Gita pun bersalaman tanda kenal pada Oma Rosa.
“Oma mau minum apa? Biar Gita buatkan.” tutur wanita hamil itu yang ingin segera beranjak namun tak jadi ia lakukan saat Oma Rosa justru menahan dan membawanya duduk di sofa bersama yang lain.
“Eh ayo duduk. Kok pada berdiri semua?” ucap Oma Rosa yang melihat keluarga Gita kikuk untuk duduk bersama orang besar.
“Kamu duduk saja sama Oma. Biarkan pelayan bekerja jangan makan gaji buta.” tutur Oma yang membuat Gita terkekeh.
Perlahan namun pasti semuanya tampak mulai saling berbincang dengan kekehan di akhir. Gita pun turut tertawa mendengar Oma yang rupanya menceritakan kisahnya dulu saat hamil pertama. Ada gurat kerinduan, serta kesedihan merasa kehilangan di wajah wanita tua itu.
__ADS_1
Namun, suasana ramai yang tercipta mampu menghalau semua rasa campur aduk di dada Oma Rosa.
Tanpa ia tahu jika di sini Arumi menangis sepanjang perjalanan pulang. Dirinya menyerah kali ini, sebab harapan terakhirnya pun ternyata sudah tak bisa ia andalkan lagi.