
Tak terasa hari-hari yang berlalu, akhirnya menjadikan Saguna sosok yang semakin tegas. Hati yang semula gundah kini sudah mantap memilih wanita yang akan ia jadikan masa depannya. Istri yang tak memiliki kekurangan apa pun dimata Saguna, yaitu Gita.
“Mas, hati-hati yah.” ujar Gita siang itu kala mengantar kepergian sang suami bekerja.
Keduanya baru saja meresmikan perikahan secara hukum di kua. Yah, seperti permintaan Gita sebelumnya jika tak ada acara besar mau pun sederhana.
Semua wajah menatap kagum sosok Saguna kini. Shani, Dewi, Haidar, Vita, dan juga Pardan tampak berdiri di depan rumah megah itu.
“Bapak, Ibu, Bibi, Paman, saya pergi dulu ke kantor. Secepatnya saya akan pulang.” tutur Saguna dengan wajah yang berbinar.
Hatinya benar-benar lega mengingat hari ini pernikahannya bersama sang istri sudah benar-benar sah. Setelah sekian lama ia di rundung kebimbangan antara Arumi atau Gita, kini terjawablah sudah.
Kepergian Saguna membuat Gita berniat membawa para keluarga untuk masuk ke dalam rumah.
“Pak, Bu, Paman, Tante. Ayo masuk ke dalam. Kita makan siang bersama dulu.” Dengan perut yang kian besar, Gita berjalan bersama sang adik.
Shani begitu terkagum-kagum kala memandangi setiap sudut rumah sang kakak. Sungguh semua seperti mimpi untuknya.
“Wah Kak, Bang Jupri kaya banget ternyata. Pantesan waktu itu pakaiannya keren banget.” ujar Shani yang dengan polos memuji.
Gita tersenyum mendengarnya. Hingga akhirnya mereka pun tiba di ruang keluarga dengan Gita yang pergi menuju dapur untuk membantu para pelayan.
__ADS_1
“Aduh, Nyonya Jangan. Biar kami yang siapkan. Tolong mengerti kami, Nyonya. Tuan muda bisa akan sangat marah.” Para pelayan nampak panik saat Gita mulai mengambil sesuatu di dalam kulkas.
Sontak saja pergerakannya pun di tahan oleh sang ibu.
“Git, duduklah. Biar Ibu yang bantu menyiapkannya. Saguna bisa marah nanti. Kasihan mereka.” tutur Dewi memperingati sang anak.
“Maaf Nyonya. Biarkan kami saja.” Mendengar ucapan Dewi, pelayan segera bersuara jika tak ada yang beloh turun ke dapur sesuai ucapan Saguna.
Hingga akhirnya mereka pun kembali duduk di sofa untuk saling berbincang.
Sementara di tempat yang berbeda, Arumi begitu marah. Informasi yang ia dengar di perusahaan jika Saguna benar-benar telah melangsungkan pernikahan di kua membuatnya murka.
“Argh! Ini tidak benar! Ini tidak boleh terjadi! Tidak!! Saguna milikku.” Wanita cantik itu terus berteriak histeris di dalam kamar.
Ia terus menangis sembari menunggu jawaban dari sambungan telepon yang ia lakukan.
“Halo…” serak terdengar suara khas wanita tua membuat Arumi mengusap air matanya.
“Oma, tolong Arumi.” ujarnya yang semakin merasakan dada yang begitu sesak.
Di seberang sana, Oma Rosa yang merupakan oma Saguna seketika mengernyit penasaran. “Arumi, ada apa? Kau menangis?” tanyanya takut-takut jika sesuatu yang buruk terjadi.
__ADS_1
“Oma, Arumi nggak kuat. Arumi nggak kuat, Oma.” rengeknya pasrah jika sang oma mengatakan ia wanita manja.
Yang terpenting saat ini Arumi hanya ingin mendapatkan pembelaan dari sang oma.
“Apa yang terjadi, Arumi?”
Pertanyaan itu pun akhirnya Arumi jawab dengan sangat detail. Ia menceritakan semuanya tanpa terlewatkan. Bahkan segala perjuangannya pun ia ceritakan pada sang oma. Dan yang terakhir ia mengatakan jika Saguna telah melakukan pernikahan di KUA dengan Gita.
“Apa? Menikah di KUA? Bagaimana bisa?” Pertanyaan Oma Rosa yang sangat tergambar jelas tak baik-baik saja membuat perasaan Arumi sedikit tenang.
“Baiklah. Hari ini juga Oma akan terbang ke Indonesia. Sudah dulu, Oma harus menyiapkan semuanya.” ujar Oma Rosa mengakhiri panggilan itu.
Barulah Arumi berhenti menangis. Harapannya kini adalah bertemu dengan Oma Rosa dan melihat bagaimana wanita tua itu melakukan sesuatu yang ia sendiri pun tidak tahu.
Sementara di kantor, Saguna tengah memijat kepalanya menahan sakit kala mendengar bagaimana dana yang menghilang tanpa hasil.
“Ini Tuan, rincian beberapa tahun yang sudah memakai harga di luar daftar. Dan ini ada rekaman cctv yang tidak sengaja kami dapatkan di kantor saat mencari jejak penggelapan dana yang berkaitan dengan siapa saja.” Mendengar ucapan sang kepercayaan, Saguna mengerutkan dahi.
“Tidak sengaja, rekaman apa ini?” Tanyanya sembari mengambil flashdis dan memasukkan pada bagian laptop.
Lima detik, sepuluh detik hingga 6 menit video itu terputar. Manik mata Saguna membola melihat layar laptop itu.
__ADS_1
“Siapa dia? Cepat cari orang ini!” Teriak Saguna sangat murka usai melihat tayangan di video yang sangat tak ia sangka-sangka selama ini.