Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Kehancuran Arumi


__ADS_3

Perasaan gelisah dan juga tegang membuat Gita berusaha mengontrol dirinya. Jika ia sendiri sulit untuk mengontrol dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mengontrol sang suami. Cukup lama ia mendapat pelukan sebagai tempat bersandar dari sosok Saguna hingga akhirnya pria itu sendiri yang mengurai pelukannya.


"Mas...duduk di sini sebentar. Biar Gita ambil air hangat dulu yah?" tanpa menunggu jawaban sang suami, ia pun beranjak menuju dapur. Gerakan cepat dan sigap membuatnya tak membutuhkan waktu lama membuatkan suaminya air hangat.


Segelas teh hangat ia beri pada Saguna lalu duduk di samping pria itu. Menunggu Saguna berbicara rasanya Gita tidak sabar. Ia pelan memijat lengan sang suami sembari bertanya dengan nada yang lembut.


"Ada masalah apa? Boleh Mas bicara denganku?" tanyanya tanpa nada memaksa.


Hening tak ada sahutan dari bibir Saguna. Sebagai wanita sungguh Gita peka dengan apa yang di rasakan suaminya. Ini pasti bukan masalah yang hanya bisa di selesaikan dengan kekuasaan. Pasti ada yang membuat Saguna sulit untuk memutuskan sesuatu.


Di lihatnya Saguna menunduk memijat keningnya erat. Namun, Gita masih tetap menunggu.


"Masalah keuangan di perusahaan membuatku pusing, bahkan pelakunya tertuju pada Paman Danu. Aku sulit percaya ini semua." ujar Saguna akhirnya mengungkapkan isi hatinya pertama kali pada sang istri.


Sontak mata Gita membulat penuh bahkan dadanya tiba-tiba terasa sulit sekali bergerak untuk menghirup oksigen. Ia mengusap punggung tegap suaminya yang kini sangat rapuh. Tangannya sebelah meletakkan gelas yang sudah kosong dan kembali Gita memeluk sang suami.

__ADS_1


Sakit sekali, tentu Gita bisa membayangkan apa yang Saguna rasakan saat ini.


"Mas, apa itu sudah pasti? Apa Mas tidak mau mencari tahu lebih detail. Dunia bisnis terkadang memang kejam. Ada baiknya Mas harus lebih mendalami lagi sebelum mengambil kesimpulan. Gita tidak berani berkomentar apa pun, sebab rasanya pasti sangat menyakitkan." tuturnya sangat hati-hati pada sang suami.


"Aku belum mencari tahu, Gita. Hanya saja beberapa laporan mengarah pada Paman Danu. Aku sulit percaya ini semua. Bahkan perusahaan ia yang kelola selama aku lupa ingatan saat itu. Ini tidak mungkin rasanya..." Kepalanya menggeleng seakan menolak semua kenyataan yang ia tahu saat ini.


"Bagaimana hancurnya hati Oma jika sampai tahu ini semua?" Hancur perasaan Saguna tak bisa lagi ia menjelaskan apa yang ia rasakan pada sang istri.


Keluarga yang sangat ia hormati apakah begitu tega menghianatinya sekejam itu? Apakah kurang semua yang Saguna berikan pada keluarganya. Bahkan selama ini apa yang ia punya, semua akan di rasakan keluarga besarnya juga. Tak ada batasan untuk ia memfasilitasi keluarganya. Karena harta baginya adalah sebuah keluarga, sedangkan uang hanya pelengkap kebutuhan mereka saja.


Tanpa keduanya sadari jika di arah pintu utama ada sepasang mata yang sudah meneteskan air mata dengan tubuh yang bergetar. Sejak sepuluh detik lalu ia baru tiba di halaman rumah megah yang ia rindukan. Yang dulu sering kali menjadi tempatnya keluar masuk tanpa batas.


"Aaaaaaaa!!" Suara teriakan histeris menggema saat itu juga di ambang pintu rumah milik Saguna.


Wanita dengan penampilan yang tidak begitu rapi sudah berteriak histeris terduduk di lantai pintu itu. Ia memukul kepalanya sendiri dan dadanya bergantian demi melampiaskan sakit di hatinya.

__ADS_1


Berniat ingin mencurahkan hatinya pada wanita yang ia anggap sangat baik dan berhati lembut itu justru membuatnya harus melihat kenyataan pahit.


"Arumi!"


"Kak Arumi!"


Kompak Gita dan Saguna menyebut nama wanita yang sudah tak lagi tenang itu.


Keduanya berlari menghampiri Arumi yang histeris di depan pintu.


"Kamu jahat, Sa...kamu jahat!" Arumi menangis tanpa bisa menahan sakit di hatinya. Tangannya yang berusaha Gita pegang justru di hempaskan kasar oleh Arumi.


"Kalian jahat padaku. Kalian jahat! Apa salahku?" tangisnya sungguh menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.


Gita tak bisa bersuara, matanya pun turut meneteskan air mata yang tulus. Ia tahu bagaimana Arumi menahan sakit.

__ADS_1


__ADS_2