
Arumi menghempaskan pintu mobil setibanya ia di rumah dan berlari menangis memasuki rumah. Tak perduli jika sang mommy berteriak memanggilnya.
"Arumi!" Sekar berjalan setengah berlari mengejar sang anak. Namun, Arumi yang cepat menjauh berhasil menutup pintu kamar.
Dari luar Sekar dapat mendengar teriakan sang anak yang seperti mengamuk di dalam kamarnya. Pecahan kembali menggema hingga keluar kamar. Beberapa kali Sekar di buat terkejut mendengar banyaknya barang yang terlempar di dalam sana.
Sudah bisa ia bayangkan jika sang anak saat ini tengah menyulap kamarnya menjadi kapal pecah. "Ya Tuhan sampai kapan anakku akan seperti ini?" tangis wanita itu membayangkan masa depan sang anak yang masih di pertanyakan hingga saat ini.
***
Berbeda halnya dengan kediaman Saguna saat ini. Tak terasa waktu sudah kian beranjak sore. Merasa tidak tenang berlama-lama di perusahaan akhirnya Saguna memutuskan untuk segera pulang. Selama di perjalanan pun ia tak hentinya membayangkan wajah sang istri yang terus tersenyum manis kepadanya.
__ADS_1
"Apa aku membelika Gita bunga saja yah? Iya aku rasa itu akan sangat bagus idenya." gumam Saguna namun di dengan oleh Angga.
"Bunga itu sudah biasa, Tuan. Saran saya Nyonya muda akan sangat lebih suka jika anda memberikan pakaian yang tidak pernah ia beli. Seperti gaun-gaun indah mungkin." Saran dari Angga menurut apa yang ia lihat.
Selama bersama, Saguna dan Gita tampak tak pernah berbelanja gaun. Bahkan pakaian Gita masih terkesan sederhana untuk menjadi istri seorang presdir. Sangat berbeda dengan Arumi yang tampail kekinian.
Mengangguk kala mendengar saran sang sekertaris. Akhirnya Saguna setuju, tentu ia ingin sang istri tampil cantik untuknya.
Hingga keduanya menunggu selama hampir satu jam barulah Saguna dan Angga berhasil membawa beberapa paper bag untuk sang nyonya di rumah.
Namun, saat tiba di halaman rumah kening Angga dan Saguna mengernyit saat melihat ke arah halaman parkir mobil yang berada di luar garasi. Itu pertanda mobil tersebut habis di gunakan.
__ADS_1
"Dari mana mereka? Apa Gita keluar tanpa ijin dariku?" tanya Saguna yang tidak Angga jawab.
Lalu di detik berikutnya Angga bersuara. "Mungkin orangtua Nyonya muda habis berjalan ke tempat keluarganya, Tuan." jawab Angga.
Baru saja saguna hendak turun dari mobil, ponsel di sakunya sudah berdering. Segera ia pun menjawabnya. Dan tak lama setelah itu Angga melihat wajah tegang sang tuan. Bahkan rahang yang tampak mengeras mendengar penuturan dari seberang sana yang tak bisa di dengan Angga dengan jelas.
"Baiklah. Selesaikan dia urus semuanya saya akan segera ke sana." perintah Saguna sembari mematikan ponsel miliknya sepihak. Tak perduli jika di sana seseorang masih ingin bicara.
"Angga, masuklah ke dalam bawa semua ini untuk istriku. Aku harus segera ke kantor polisi saat ini." ucap Saguna terburu-buru hingga Angga kembali bertanya.
"Tuan, ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Menyusullah jika sudah selesai. Minggir." Kasar Saguna mendorong tubuh sang sekertaris keluar mobil dan Angga pun tidak bisa menahan diri lagi. Segera ia bergegas ke bagasi untuk mengambil barang sang nyonya.