
Pagi yang cerah namun tak secerah suasana hati seorang gadis yang kini tampak duduk menatap hampa beberapa pesawat yang sedang bersiap menunggu giliran terbang.
Air mata menetes kembali di kedua pipinya. Berat rasanya meninggalkan negara tempat ia di besarkan dan tempat ia berbahagia menemukan sang pujaan hati.
“Sayang, kamu pasti bisa. Yang kuat dan ikhlas. Kita mulai semuanya dari awal bersama.” ujar sang mommy menggenggam erat tangan Arumi.
Tak lupa wanita paruh baya itu mengembangkan senyumannya penuh kasih sayang.
“Mom,” tutur Arumi menangis memeluk sang mommy terisak. Sungguh rasanya begitu berat meninggalkan semuanya.
Arumi bahkan tak bisa lagi untuk melihat wajah tampan dan menenangkan milik Saguna.
“Sa, aku harap kamu akan tetap ada dan baik-baik saja sampai aku kembali lagi. Kelak jika aku tak kuat hidup sendiri, aku mohon jangan benci aku ketika aku kembali lagi. Aku benar-benar bodoh, tapi aku tidak bisa melawan perasaanku yang ingin bersamamu. Aku mencintaimu, Sa.” gumam Arumi memejamkan mata.
__ADS_1
Ingin rasanya ia tidur selama perjalanan agar saat terbangun nanti, dirinya sudah berada di tempat yang jauh dan meninggalkan semua memory lamanya di negara Indonesia.
Pelan, pesawat mulai melaju di lapangan bandara. Arumi masih memejamkan mata dan kini pesawat yang membawanya mulai terbang di atas awan. Setetes air mata kembali jatuh lagi.
Sekar, sang mommy bahkan bisa merasakan getaran tubuh sang anak saat ini. Ia semakin mengeratkan pelukan dan mengusap kepala Arumi. Sebagai wanita, ia tentu bisa merasakan apa yang sang anak rasakan.
Mencintai seseorang tentu menjadi hal yang paling berat saat harus melawan hati sendiri demi keberlangsungan hidup yang baik.
***
Tentu setelah kepergian Saguna ke kantor.
“Gita, kamu bahaya ke tempat ini. Oma saja tidak berani setelah kejadian waktu Saguna menghilang.” tutur Oma Rosa yang mengingat dirinya hampir di serang oleh ibu Saguna.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Oma. Kasihan Bunda kalau tidak ada yang menjenguknya. Pelan-pelan Bunda pasti akan membaik dengan kita yang terus datang menghiburnya.” ujar Gita tersenyum mengingat dirinya sudah berdamai dengan sang mertua.
“Kenapa kamu tidak memberi tahu Saguna kita kemari? Apa ini bukan pertama kalinya?” tebak Oma Rosa yang di angguki oleh Gita.
“Iya, Oma. Setiap pagi Gita kemari. Tapi Oma jangan cerita ke Mas Saguna. Biarkan kita beri kejutan.” tutur Gita begitu antusias.
Oma Rosa tersenyum menatap cucu menantunya kini. Pilihan Saguna benar tidak salah. Gita wanita yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi.
“Apa jika Oma juga sakit kamu akan memperlakukan Oma dengan baik kelak?” tanya Oma Rosa yang tergerak ingin tahu bagaimana nasibnya ke depan kelak.
Gita pun mengangguk. “Tentu saja, Oma. Gita akan sama memperlakukan orang-orang yang Gita sayang. Oma sudah menerima Gita dan keluarga dari awal tentu Gita sangat bersyukur.”
Terharu, Oma Rosa mendengar penuturan sang cucu menantu. Ia tampak mengusap lembut rambut Gita yang lembut.
__ADS_1
“Oma jadi tidak takut lagi tua. Hehehe terimakasih Tuhan memberikan cucu menantu yang baik seperti Gita. Aku sangat bahagia membayangkan hari tuaku kelak.” ujar Oma Rosa membuat semua yang ada di dalam mobil terkekeh tak terkecuali kedua orangtua Gita.