
Setelah kejadian hari itu, bahkan sudah seminggu berlalu. Saguna merasa takut jika harus membawa sang istri bertemu dengan sang bunda.
“Bang Jupri, sarapannya sudah siap.” Gita datang membuka pintu kamar dengan celemek di tubuhnya.
Saguna menoleh menatap sang istri. Ia tersenyum. Sungguh hatinya selalu menghangat tiap kali menatap wajah sang istri yang semakin cantik.
“Iya baiklah. Terimakasih yah. Bagaimana nanti siang kita jalan-jalan?” Saguna berkata tanpa sadar membuat hati Gita ded-degan.
“Jalan-jalan?” tanya Gita mengulang pendengarannya. Saguna tersenyum padanya lalu mengangguk.
“Iya, kehamilan kamu sangat membuat aku bahagia. Aku tidak mau di masa kehamilan kamu berpikir yang berat. Bagaimana? Mau kan?” tanya Saguna sebelum ia merapikan dasi di leher.
Penampilan yang rapi sudah cukup pagi itu membuat suami Gita bergegas keluar kamar setelah mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.
Gita sangat senang, ia mengikuti langkah sang suami seraya membawa jas mewah Saguna.
__ADS_1
“Lain kali kalau ke kantor panggilnya jangan seperti itu yah?” Akhirnya Saguna berhasil mengingatkan sang istri yang sering kali membuatnya menjadi kasihan jika istrinya mendapat anggapan aneh dari karyawannya.
Meski ia sendiri sudah mengancam seluruh pekerja di kantor agar tidak melakukan apa pun pada Gita yang polos. Sungguh, Saguna mengkhawatirkan sang istri.
“Memangnya…kenapa Bang? Gita lupa terus namanya Bang Jupri.” keluhnya yang selalu sulit menyebut nama yang menurutnya seperti tepung itu.
“Terserah kamu saja, Gita. Yang penting jangan itu.” jawab Saguna mengusap lembut kepala sang istri.
“Mas aja gimana? Itu Gita pasti ingat, Bang Jupri.” jawabnya bersemangat.
Saguna sampai menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.
Keduanya pun duduk di meja makan, hingga pagi itu sarapan tiba-tiba terhenti saat terdengar suara di ambang pintu.
“Tuan, berkas yang saya berikan apa belum anda periksa?” Pertanyaan Angga yang tiba-tiba membuat Saguna mengernyitkan kening.
__ADS_1
Satu minggu ia sudah di beri waktu namun sampai hari ini Saguna benar-benar belum membacanya. Angga yang baru pulang menangani proyek besar kini harus kembali mengingatkan.
“Belum. Ada apa? Kau juga baru pulang, biar kita periksa bersama. Karena aku tidak bisa lama-lama di perusahaan.” Saguna dengan acuhnya berkata. Ia merasa santai sebab semua di perusahaan sudah terkendali dengan sempurna sebelum ia mengurus pernikahan bersama Arumi saat itu.
Mendengarnya, Angga mendesis kesal. Bagaimana mungkin hal sepenting itu yang ia dapatkan justru seperti tak ada harganya di mata sang boss.
“Tuan, di perusahaan hari ini beberapa investor akan datang. Dan semuanya karena berkas itu.” Sontak Saguna mengernyitkan kening.
Sungguh pikirannya yang kacau membuat pria itu sulit fokus bekerja. Bahkan untuk membaca berkas pun ia tidak bisa fokus.
Baru saja memiliki dua wanita yang belum sama-sama menjadi istri, ia sudah stress. Bagaimana jika Saguna berpoligami? Tidak. Ia tidak akan mau menjadi pria beruban dimasa mudanya.
“Investor? Berkas apa, Angga? Mengapa aku tidak mendengar apa pun dari mu?” Seketika wajah Saguna menegang.
Gita yang melihat ketakutan sang suami segera mengusap lengan Saguna.
__ADS_1
“Sabar, Mas.” Belum sempat lagi Gita berucap, Saguna sudah berdiri mengambil semua barang yang ia perlukan dan mencium kening sang istri tanpa mengatakan apa-apa.
Gita tentu paham keadaan sang suami. Ia tak ingin membebani keadaan Saguna. Dan memilih mengantarkan hingga di depan pintu utama.