
Siang berganti malam, waktu semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Kediaman The Winston tampak berbeda malam ini dari malam biasanya. Dimana kehangatan antara Saguna dan Gita tak lagi terlihat.
Sejak pulang dari kantor polisi, Gita pun tak berani bersuara. Sebab ia tahu sang suami sedang menurunkan emosi di dadanya. Selama ini Saguna diam bukan berarti ia tidak bisa marah. Namun, justru orang yang selalu bersikap tenang bisa saja sewaktu-waktu meledak amarahnya tanpa bisa di kendalikan.
Pelukan yang Saguna beri pada tubuh kecil sang istri montoknya itu tak mendapatkan penolakan. Dengan tenang Gita melayani keinginan sang suami di tempat tidur berpelukan dari siang hingga malam. Dan kini keduanya baru keluar kamar.
Begitu pun dengan Oma Rosa yang duduk di ruang keluarga menatap kedatangan sang cucu. Tak ingin bertanya lebih dulu sebelum sang cucu berucap sendiri.
“Oma, Paman telah melakukan penggelepan dana di perusahaan.” Ucapan pertama yang Saguna lontarkan membuat Oma Rosa menahan sesak di dadanya. Bibirnya masih tampak diam menunggu sang cucu kembali melanjutkan ucapannya.
“Sebelum menangkapnya, kami diam-diam melakukan penyelidikan lebih dalam. Ternyata semua uang itu mengalir ke rekening istrinya. Tidak hanya itu, penggelapan dana yang mereka lakukan sepertinya masih kurang untuk hidup mereka. Bahkan Pamanlah dalang yang membuatku kecelakaan beberapa bulan lalu. Rekaman cctv orang yang menyabotase mobil kami dapat tanpa sengaja di cctv perusahaan. Selanjutnya, orang itu kami tahan dan introgasi. Akhirnya kami menemukan jawabannya.” Panjang lebar Saguna bercerita tanpa menatap wajah sang oma yang benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa saat ini.
“Apa benar apa yang Oma dengar, Saguna?” tanya wanita paruh baya itu berusaha menyadarkan dirinya.
Tak berapa lama kemudian, Saguna bersuara lagi.
__ADS_1
“Apa pun yang terjadi, saya harap Oma tidak meminta saya menarik tuntutan itu. Sebab saya tidak akan pernah melakukannya, Oma.” tutur Saguna mantap.
Mengantisipasi agar sang oma tidak memberikan tawaran padanya dengan alasan mengatasnamakan keluarga.
Pelan Oma Rosa menggelengkan kepalanya.
“Lakukanlah sesuai dengan hukum yang berlaku. Oma tidak akan membela orang yang salah. Dia telah berkhianat, Sa.” ujar Oma Rosa geram mendengar semua dari bibir sang cucu.
Nyawa sang cucu hampir hilang karena pria yang tidak tahu diri itu.
Hingga akhirnya Gita pun mengajak semua untuk makan malam. Termasuk keluarganya yang masih berada di rumah itu.
“Bapak, Ibu, tidak bisakah kalian tinggal lebih lama di sini?” tanya Saguna yang merasa senang rumahnya terasa ramai.
Namun, sang mertua laki tampak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Saguna, di desa sawah sudah menunggu Bapak. Nanti waktunya habis panen dan nanam padi, kami kesini lagi jenguk kalian. Jangan khawatir sepi. Pasti kami sering kesini.” jawab Bapak.
Saguna pun mengangguk. Dan kini Oma Rosa tampak tersenyum melihat keluarga sang cucu menantu yang sederhana. Ia senang dengan pilihan Saguna.
“Oma tidak salah membiarkan kamu memilih, Sa.” ujar Oma Rosa membuat kening Saguna mengernyit.
“Maksud Oma?” tanyanya.
“Yah, Oma tidak pernah memaksa kamu harus menikah dengan siapa kan? Karena Oma yakin pilihan cucu Oma pasti yang tepat.” tuturnya sembari terkekeh.
Suasana makan malam pun tampak bahagia meski Saguna sempat kaget dengan kedatangan sang oma yang tiba-tiba.
“Sa…” tiba-tiba saja suara wanita dengan bergetar membuat semuanya menoleh ke arah pintu masuk utama rumah itu.
Wanita dengan wajah sembab masih terus meneteskan air matanya. Berdiri dengan sangat menyedihkan.
__ADS_1