Istri Kecil Tuan Presdir

Istri Kecil Tuan Presdir
Harapan Gita


__ADS_3

Rintihan dan tangisan dari Gita saat itu membuat Saguna seketika terkejut dan sangat khawatir. Matanya membulat dan segera melepas tubuh sang ibu. Ia beralih meraih tubuh sang istri yang terduduk di lantai lantaran tak siap mendapat serangan tiba-tiba.


“Gita! Gita!” panggil Saguna.


Tanpa bertanya apa pun, ia menggendong sang istri menuju ke mobil. Bahkan teriakan beberapa dokter di rumah sakit jiwa itu tidak ia hiraukan sama sekali.


“Bang, sakit.” Gita merintih di perjalanan menuju rumah sakit. Tangannya beberapa kali meremas perut bagian bawah. Keringat pun Saguna lihat dengan jelas basah di seluruh kening sang istri.


Bolak balik Saguna menatap dan memegang tangan Gita. Sungguh, ia benar-benar panik saat ini.


“Gita, bertahanlah. Jangan banyak bersuara. Bertahanlah, Git.” Saguna begitu terdengar memohon. Matanya tanpa sadar berembun karena sangat mencemaskan keadaan sang istri dan juga janin darah dagingnya.


Perjalanan mereka tempuh cukup singkat. Siang itu Saguna menelpon pihak rumah sakit terdekat untuk mengurus kedatangannya bersama sang istri.


Tanpa berkata apa pun, di seberang sana seluruh tenaga medis yang di tugaskan untuk menyambut kedatangan Saguna segera bersiap.


Tak jarang juga beberapa kali Gita meringis menahan sakit namun tak bersuara sekencang awalnya. Lantaran ia tahu sang suami tengah menyetir.

__ADS_1


“Gita, Sayang. Bertahanlah. Demi anak kita aku mohon bertahanlah. Kita akan segera sampai.” Begitulah ucapan Saguna yang reflek namun membuat Gita seketika hilang sakit di perut.


Pikirannya justru terfokus pada satu kata yaitu, ‘sayang’


“Bang Jupri bilang apa barusan? Sayang? Apa itu benar untukku?” batin Gita bertanya-tanya.


Beberapa saat kemudian, Gita pun sadar dari lamunan kala merasakan sentuhan tangan sang suami yang menggendongnya. Ternyata mereka telah sampai di rumah sakit.


“Cepat periksa istriku!” Suara tegas Saguna membuat seluruhnya menunduk patuh meski mereka cukup terkejut. Bukan tidak tahu jika pria di depannya adalah orang yang sangat di segani di tambah berita tentang pernikahannya dengan sang kekasih yang gagal.


Lalu siapa wanita ini yang di sebut istrinya? Pertanyaan hanyalah tinggal pertanyaan tanpa bisa di dengarkan.


Akhirnya pintu ruangan pemeriksaan pun tertutup. Di sana Gita langsung mendapatkan pemeriksaan dengan sangat baik. Sementara Saguna di sini tampak memijat keningnya pusing.


“Ya Tuhan…maafkan aku. Gita maafkan aku. Tidak seharusnya aku teledor menjagamu di sana. Sungguh aku tidak menyangka respon ibu akan seperti itu.” tuturnya mengusap wajah kasar.


Lamunan Saguna tiba-tiba saja buyar kala ponsel dalam saku celananya berdering. Keningnya mengernyit saat mendapat telepon dari rumah sakit jiwa.

__ADS_1


“Halo,” segera pria itu mengangkat panggilan tersebut.


“Tuan, Nyonya sangat histeris. Kami baru saja memberikan obat penenang.” jelasnya memberikan kabar. Saguna yang tengah duduk, kembali memijat keningnya semakin kasar.


Di sini ada wanita yang mengandung anaknya tengah membutuhkan dia. Di sana sang ibu sangat kasihan.


“Baiklah, yang terpenting Bunda saya tenang dulu. Nanti saya segera kesana kembali.” Panggilan pun terputus dan Saguna melihat dokter yang memeriksa sang istri baru keluar.


“Dokter, bagaimana istri saya? Anak saya bagaimana juga Dokter?” Saguna tanpa sabar langsung bertanya.


“Beruntung dua-duanya anak dan istri Tuan baik-baik saja. Jadi, tadi hanya kontraksi kecil saja. Tapi demi keselamatan keduanya ada kalanya harus di jaga lebih ketat lagi, Tuan. Yah mengurangi resiko apa pun itu.” Saguna mendengarkan dengan menganggukkan kepala saja.


“Baik, Dok.” Setelahnya ia pun pergi ke ruangan di mana sang istri berada. Gita tersenyum samar melihat kehadiran sang suami.


Entah mengapa hatinya menghangat ketika ingat ucapan sang suami di tengah kepanikan tadi.


“Bang Jupri…semoga saja hatimu mulai terketuk dengan namaku, Bang. Di perutku ada anak kita yang akan kita besarkan bersama kelak, Bang.” ujarnya dalam hati tanpa berani berucap apa pun lagi.

__ADS_1


“Gita, apa yang masih sakit? Katakan padaku.” tutur Saguna mengusap perut sang istri yang tampak menggunung.


Gita menggeleng pelan, “Udah nggak sakit, Bang. Tadi dokternya kasih pereda sakit kok.”


__ADS_2