
Kejadian-kejadian di beberapa bulan lalu menjadikan amarah di dalam diri Saguna semakin berkobar saat ini. Mata teduh yang baru saja bahagia sebab menghabiskan makan siang dengan sang istri kini berubah menjadi merah.
Bahkan napas pria itu tampak memburu. “Kali ini aku tidak bisa bersabar lagi.” gumam Saguna berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Keputusannya telah bulat tidak akan menunda hal ini lagi. Namun, sebuah keputusan yang tepat adalah ia pulang menemui istri kecilnya.
Perjalanan yang di lalui Saguna dengan Angga yang mengantar tampak sangat hening.
“Tuan, apa sebaiknya kita membongkar ini semua lebih awal? Saya takut jika hal ini akan tercium oleh mereka.” ujar Angga memberikan saran.
Saguna pun mengepalkan tangannya. “Aku harus berbicara dengan Gita dulu, Angga.” Perkataan sang presdir pun mendapatkan anggukan dari sekertarisnya itu.
Sebuah ucapan yang menurutnya sederhana namun sangat dalam maknanya. Dimana Gita begitu memiliki peran penting untuk mereka.
“Baiklah, Tuan.” tuturnya.
Hingga sore itu pun mobil mewah milik presdir The Winston telah terparkir rapi di halaman rumah. Seperti biasa wajah cantik dengan senyuman lebar nan manis menyambut kepulangan sang suami.
Seolah Gita menunjukkan ia begitu bahagia dan tidak terjadi apa pun padanya. Semua ucapan dari Arumi sewaktu di kantor hari itu bahkan sampai hari ini Gita masih belum memberitahukan sang suami.
Sudah cukup rasanya ia menjadi orang di tengah-tengah hubungan keduanya. Dan Gita tak ingin lagi Saguna semakin marah pada sang mantan.
“Mas, sini tasnya aku bawakan saja.” sapa Gita.
Saguna menggandeng pinggang sang istri meninggalkan Angga tanpa kata. Hanya senyuman kecil yang terlukis di wajah tampan Angga kala itu.
“Cih pengantin baru kadaluarsa yang sudah bahagia…semoga kalian selalu di lindungi, Tuan. Sebab ada hati yang tersakiti di balik ini semua.” Doanya setengah tulus setengah menertawakan ucapannya barusan.
Sementara Saguna yang tidak melihat keberadaan sang mertua pun bertanya. “Dimana Ibu sama Bapak, Git? Kok sepi sekali?” tanyanya menatap seluruh sudut ruangan.
__ADS_1
“Tuh Mas, mereka lagi ramai berenang di belakang. Maaf yah, Mas. Aku nggak enak mau nolak permintaan Bapak. Katanya badannya pengen segar mandi dikolam biasanya kan mandi di sawah melulu.” Saguna yang mendengar pun sontak terkekeh geli.
Ia merasa lucu mendengar ucapan sang mertua yang sebenarnya memang kebenaran.
“Sudahlah, biarkan saja. Setidaknya kolam itu berguna juga. Kasihan para bibi membersihkan setiap hari tanpa ada yang memakainya.” tutur Saguna mantap.
Hingga keduanya terus melangkah menuju kamar untuk membantu sang suami membersihkan tubuh mereka.
“Gita, nanti sehabis mandi Mas mau bicara sama kamu. Setelah itu baru kita keluar bertemu ibu sama bapak.” Patuh Gita pun menganggukkan kepalanya.
Singkat cerita kini keduanya sudah duduk di atas tempat tidur. Gita merasa tak tenang menunggu suara sang suami berucap. Entah mengapa ia sangat penasaran.
Takut-takut jika ucapan Saguna mengenai hubungan mereka. Bagaimana pun masih ada rasa yang besar Gita rasakan ketakutan kala hati sang suami kembali pada Arumi. Mereka berhubungan sudah sangat lama.
“Heh…. Rasanya Mas sendiri sangat berat mengatakan ini, Git.” tutur Saguna menunduk. Perasaan yang tenang semula melihat sang istri kini berubah menagan gejolak amarah lagi.
“Mas, ada apa? Apa mas berubah pikiran?” tanya Gita sontak membuat kening Saguna mengernyit.
Merasa ucapannya sepertinya tidak tepat, Gita pun menggelengkan kepala. “Ehm tidak, bukan apa-apa. Mas bicaralah ada apa?” tanya Gita kemudian.
“Mas mendapati seseorang melakukan penggelapan dana perusahaan dari beberapa tahun lalu. Bahkan Mas baru tahu saat ini setelah sekian lama. Dan parahnya lagi korupsi itu di lakukan semakin besar semenjak Mas tidak berada di kantor dan lupa ingatan.” Mendengar ucapan sang suami sontak Gita pun membungkam mulutnya kaget.
Meski ia tidak tahu seberapa dalam mengenai perusahaan, namun yang namanya korupsi tentu itu tidaklah asing.
“Mas, maafkan aku dan keluargaku yah? Andai kami langsung membawa Mas kembali mungkin tidak akan terjadi seperti ini.” Ia merasa bersalah.
Ternyata kecelakaan dan amnesia Saguna saat itu bukan hanya merugikan Gita sementara dengan menikah terpaksa. Nyatanya Saguna mendapatkan banyak kerugian saat ini.
Saguna tak menyalahkan sang istri. Ia pun menggeleng pelan. “Kamu tidak salah apa-apa, Git. Justru Mas bersyukur dengan adanya kejadian itu maka Mas tahu siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang memanfaatkan posisi.”
__ADS_1
Gita memeluk tubuh wangi suaminya demi memberikan ketenangan. Inilah yang Saguna maksud tadi pada Angga. Membicarakan pada sang istri, tentu ia akan bisa berpikir lebih tenang kala pelukan hangat itu menyentuh tubuh hingga relung hatinya.
Malam itu Saguna mencurahkan semua masalahnya pada sang istri, beberapa kali Gita tampak terkejut dan ikut marat. Mata jernih wanita mungil itu bahkan memerah mendengar bagaimana kejamnya orang yang sudah berbuat jahat pada suaminya.
“Mas, aku mendukung apa pun keputusanmu. Aku yakin kamu pasti bisa menyelesaikan ini semua dan serahkan semua pada pihak yang berwajib. Jangan pernah kotori tanganmu dengan hal yang tidak berguna.” tutur Gita sembari menggenggam tangan sang suami membawanya pada perut buncit yang ia miliki.
“Ada anak kita yang menginginkan sosok ayah yang baik.” lanjut Gita dan Saguna pun mengangguk samar.
Usai keduanya berbicara barulah Saguna mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirim pada orang kepercayaannya.
“Ayo sudah tenang kan?” ajak Gita menggandeng sang suami menuju ruang keluarga.
Ternyata di sana sudah ada keluarga yang baru saja mandi di kamar mereka. Wajah segar dan bahagia tercetak jelas di wajah kedua mertua Saguna dan sang adik ipar.
“Bang Jupri, eh salah. Kak Saguna, boleh Shani ikut tinggal di sini dan cari kerjaan? Shani malas mau kembali ke desa.” Gita yang mendengar ucapan sang adik terkekeh saja.
“Shan, jangan sembarangan. Jangan buat beban kakak mu.” Tegur Dewi yang tak enak hati pada sang menantu.
“Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula Gita kasihan kesepian juga di rumah kalau saya bekerja. Biar Shani nanti saya dan Gita yang bertanggung jawab. Soal pekerjaan pasti akan saya urus juga.” Saguna tak menampakkan kemarahannya lagi. Pikirannya jauh lebih tenang dan memasrahkan semuanya pada orang-orangnya.
Benar kata Gita, ia tak boleh mengotori tangannya untuk hal yang tidak penting. Dan bisa di handle oleh orang lain.
Shani yang mendengar ucapan sang ipar sontak kegirangan. Tak ia sangka jika kunjungannya ke kota justru mendapatkan kehidupan yang baru untuknya.
Malam itu mereka nikmati dengan keadaan yang hangat. Rumah Saguna semakin ramai saja. Bahkan hubungannya dengan Haidar sudah terjalin baik saat ini. Tak ada tatapan galak dan ucapan pedas yang pria paruh baya itu keluarkan pada sang menantu.
Jika Haidar mengingat beberapa waktu lalu, sungguh ia rasanya tak punya muka untuk menampakkan diri pada Saguna.
“Ya Tuhan, apa yang telah ku perbuat pada menantuku dahulu? Aku terlalu kejam padanya. Bagaimana jika dulu ia benar-benar terkena penyakit sebab kecelakaan itu? Bahkan aku melarangnya di bawa ke rumah sakit.” Haidar bergumam dalam hati.
__ADS_1
Sungguh rasanya ia begitu menyesal. Kini ia bisa melihat bagaimana tulusnya Saguna menatap sang anak yang duduk di samping suaminya itu.
“Gita sangan di cintai dengan tulus oleh si Jupri. Bahkan tanpa memandang status sosial kami yang miskin ini.” Haidar tak tahu lagi dengan kata apa ia menyesali perbuatannya.