Istri Kecilku Istri Keduaku

Istri Kecilku Istri Keduaku
BAB 9


__ADS_3

oke pagi sudah terlihat dengan cerah secerah wajah gadis yang bangun dari tidurnya karna tergaggu oleh ayam yang sudah berkokok, mengganggu saja aliass minta ditabokin.


ia melihat kesamping ternyata ada mamanya belum bangun, mamanya itu tertidur pulas, ia pandangi wajah mamanya, jujur Zahra tidak pernah memandangi wajah orang sedekat ini bahkan Mama yang sudah melahirkannya sedekat ini.


" ehhhhhm....kau sudah bangun nak " ucap Mama Dina


" iya ma...aku mandi dulu ya " ucap Zahra


" iya mandi lah dulu mama mau ke dapur untuk ngecek sudah beres belum " ucap Mama Dina


Zahra pun mandi lalu bersiap siap, ia memakai baju berwarna perak setelah siap Zahra pun turun. saat Zahra mau duduk disalah satu tempat duduk tangannya dicekal oleh Cha Eun Woo


" tunggu sebentar nona, saya mau ngomong sesuatu sama kamu " ucap Cha Eun Woo


" oh ya silahkan tuan " ucap Zahra sambil tersenyum


" wanita ini seakan tak pernah kehilangan senyumnya dalam keadaan apapun bahkan dalam keadaan hatinya kering dan rapuh sekalipun ia tetap tertawa " Bathin Cha Eun Woo


" saya mau bilang, bagaimana jika saya rela menjadi seorang mualaf hanya untuk menikahi anda apakah anda mau menikah dengan saya " ucap Cha Eun Woo yang sudah seperti petasan yang membuat jantungnya hampir meledak, tapi secepat kilat ia rubah kembali ekspresinya


" tuan saya pasrahkan jodoh saya sama yang diatas, jika saya berjodoh dengan anda maka saya akan terima jadi jawaban saya sesuka jodoh saya, jikapun saya terima anda tapi jika bukan jodoh akan sangat menyakitkan akhirnya " ucap Zahra.


" hahaha.......anda memang pandai berkilah lidah nona " ucap Cha Eun Woo


" yasudah kalau begitu silahkan makan tuan, makanannya sudah dihidangkan " ucap Zahra


Zahra dengan tenang menjawab pertanyaan Cha Eun Woo lalu berjalan ka arah meja makan dan berprilaku seperti biasanya, walaupun sebenarnya jantungnya sudah tak bisa di ajak kompromi, tapi ia harus bisa menguasai keaadaan.


semua yang melihat itu pun menatap cengo, siapa sih Zahra ini sebenarnya, ia mempunyai hati sekuat baja yang sangat sulit di tebak dan di kuasai bahkan untuk meluluhkannya itu sulit dan dengan mudah bahkan dalam hitungan detik ia bisa menetralisir kembali ekspresi wajah nya yang kaget menjadi biasa saja.


 


setelah kejadian pagi tadi, Zahra tetap biasa saja dan sekarang hari sudah malam dan sudah waktunya tidur.


 


_____^^^^^^^^^^^^^^_______


hari ini Zahra akan pulang kembali ke medan bersama rombongannya.


" ma Zahra pulang ya, Mamah sehat slalu ya ma jangan semua semua itu dipikirin nanti Mama sakit, hidup itu dibawa santuy, nanti kalau aku ada waktu aku kesini sendiri atau ngga sama pak Hendri " ucap Zahra


" iya sayang, kalian disana juga jangan terlalu keras bekerja nanti kalau kalian bekerja terus siapa yang mau habisin duit kami para orang tua ini " ucap Mama Dina

__ADS_1


" hahaha..... mama bisa aja sih " ucap Zahra


" yaudah Zahra pamit ya ma " lanjut Zahra


" aku juga pamit ya ma, nanti kalau ada waktu aku bakal usahain aku pulang " ucap Hendri


" iya iya... tapi sini dulu dong peluk mama " ucap Mama Dina, ia memeluk kedua anaknya dengan erat lalu mencium pucuk keduanya dengan air mata yang mengalir, setelah itu Zahrapun menaiki kretanya karna memang pemboncengnya sudah stand by.


" kami pulang tante " ucap mereka semua serempak


" iya hati hati dijalan ya " ucap Mama Dina sambil melambaikan tangannya.


SKIIP SAMPAI MEDAN


setekah mengendara selama 3 jam akhirnya mereka semua pun sampai, Zahra sudah menghantar Cha Eun Woo kembali ke hotel lalu ia pulang sekarang hari sudah malam dan Zahra lebih memilih istirahat setelah mebersihkan badannya Zahra pun tidur


__________^^^^_____


 


Terlihat hari ini Zahra tengah sibuk mempersiapkan apa saja yang akan ia bawa ke hotel, pasalnya hari ini ia akan seperti biasa berjaga di depan saat tamu penting datang dan kali ini Windi dan Hendri ada kepentingan yang urgent jadilah dia yang menggantikannya. Zahra menyiapkan semuanya sambil mengumpat.


 


pasalnya karna kedatangan tamu yang mendadak itu dia harus mempersiapkan semua kebutuhannya nanti agar perfect, walaupun ia malas, ia gimana ngga males plus merepet merepet, baru aja ia istirahat berapa jam, jam 4 harus bangun untuk persiapan perfect agar tak mencoreng nama hotel, jadilah badannya yang sudah remuk kian makin remuk berkeping keping


" tapi kata pak Hendri namanya kalo ngga salah Rashid bin Humaid al Ghurair, beh....gila itu kan yang dulu buat gue kesengsem sampe kayak orang gila karna dia tampan " bathin Zahra


 


dan akhirnya Zahra pun pergi setelah setengah jam ia pun sampai dan langsung siap siap barulah ia dengan jalan sigap langsung ke penjagaan depan.


 


saat ia sampai di depan tak lama 2 mobil pun sampai ia berhenti tapi sebelum itu Zahra sudah menghalangi mobil tersebut dengan tangannya


" hey what's wrong miss, why are you blocking my car ( hei ada apa nona mengapa anda menghalangi mobil saya) " ucap pria tersebut membuka kaca mobilnya lalu membuka kacamatanya dan pria itu adalah Rashid bin Humaid al Ghurair


Zahra bukan tak tau siapa yang ada di dalam mobil tersebut, justru ia cukup tahu, mengapa pula ia tak tahu Zahra tanpa lihat orangnya jika sudah lihat mobilnya pun sudah paham yap mobil yang identik dan khas dengan ukiran RRR dan warna hitam orange itu pasti milik pria arab satu ini, tapi ya mau gimana peraturan tetap wajib di jalankan tak pandang ia kelas atas atau kelas bawah.


" show you card sir ( tunjukkan kartu anda tuan) " ucap Zahra dengan datar


" haiis..." erang pria tersebut

__ADS_1


sambil mengacak acak isi jok mobilnya


" this is our card, also the card of the person on the back of the car (ini kartu kami semua, juga kartu orang yang ada di mobil belakang" ucap Rashid


" oh thank you sir please come in (oh terima kasih tuan silahkan masuk ) " ucap Zahra


" yes you're welcome " balas pria tersebut lalu mereka semua turun dari mobil


" oke excuse me sir " ucap Zahra


" ya " singkat pria tersebut


Zahra berjalan ke arah taman belakang untuk mengecek kerja para pelayan hotel tapi saat itu juga ia melihat semua orang berkumpul ia pun mendatanginya, bahkan tamu hotel yaitu Rashid al Ghurair dan keluarganya pun juga ikut melihat


" ada apa ini, kenapa berkumpul seperti ini " ucap Zahra, si pelayan yang dimarahi karena satu kesalahan itu pun datang mendekat ke arah Zahra


" ini nona, tadi nyonya menyuruh saya membersihkan kotoran ini dan saya menurutinya tapi nyonya tidak memperbolehkan saya membawa secop sampah dan malah menyuruh saya untuk menyapu semua halaman yang sudah bersih ini nona, sementara itu semua adalah pasir masa saya mau nyapu pasir dan alhasil saya ngga mau nona dan nyonya malah memarahi saya dan bahkan menampar saya " ucap si pelayan itu menjelaskan kronologi kejadian mengapa orang bisa berkumpul semua


" Nyonya Dila yang terhormat, anda tidak seharusnya berprilaku seperti itu kepada pelayan saya, ini bukan kawasan kekuasaanmu jadi kau tak ada hak untuk mengatur cara kerja ataupun teknik mereka bekerja, ini wilayah saya dan saya yang berhak, tapi jika ini dirumah anda barulah anda berhak, ingat itu jika saya tahu bahwa anda membuat kelakuan seperti ini saya bisa keluar dari batasan saya dan jika hal itu terjadi maka jangan menyesal " ucap Zahra dengan nada datar dan sinis


" hey saya istri yang punya hotel ini, jadi saya berhak dong " ucap nyonya Dila


" hei sadar dong, anda hanya istri keduanya dan jangan lupa anda bisa seperti ini karna menjadi pelakor terlebih dahulu, dan ingat jika suami anda pemilik hotel ini bukan berarti anda juga ikut memilikinya tapi saya calon pemiliknya bahkan seluruh asetnya juga sudah diserahkan kepada saya, dan saya sudah tidak sabar menunggu dimana semua itu menjadi milik saya dan megusir sampah seperti kau dan anak mu itu dari rumahku dan saat hari itu tiba akan dengan senang hati aku melakukannya jadi tunggu saja hal itu tiba " ucap Zahra


" halah kamu kan bisanya ngancem doang " ucap Nyonya Dila dengan gaya sombongnya padahal sejujurnya ia sudah sangat takut tapi sudah tak mungkin mundur karna ia tau Zahra bukan orang yang hanya omong saja tapi sangat tepat dengan omongan dan ancamannya


" jangan pernah menganggap remeh omongan saya, karna saya bukan tipe orang pembual dan pengancam di mulut saja " ucap Zahra sambil menjunjuk Nyonya Dila laulu meninggalkannya pergi


pelayan yang melihat hal itu sudah menjadi hal biasa tapi Rashid dan rombongannya cengo. dan jika ditanya apa sikap alami seorang wanita pasti jawabannya hanya satu suka ngegosip dan saat ini itulah yang dilakukan istri dari Rashid yang bernama Khawlah dan temannya Maryam yang kesini juga bareng suaminya yaitu Suhail al Dhaheri.


" lihat lah betapa sinisnya ucapan wanita itu ia sangat keren, aku yakin jika dia menjadi istri kedua suamiku, semua wanita yang mau menjadi istri ketiga suamiku bakal tak ada kalau pun ada pasti babak belur " ucap Maryam dalam bahasa arab


( maklumlah ya, aku malas ngetik bahasa arab ribet 😄😄😄😄😄😄 )


" heh ngimpi lah kamu, dia itu bakal jadi istri kedua suamiku, lihat aja nanti " ucap Khawlah tak mau kalah


" ya sudah kita lihat aja siapa yang menang " ucap Maryam sambil melipat tangannya didada lalu pergi meninggalkan Khawlah sendiri.


"ck... dasar Maryam " ucap Khawlah sambil menghentakkan kakinya kelantai dan jalan menyeimbangi langkah Maryam dengan cemberutnya.


" aku harus pancing Rashid agar ia mau bicara tentang gadis tadi dan jika ia tertarik aku yakin dia bakal pepet terus tuh gadis, karna Rashid kan orangnya gas terus " bathin Khawlah dalam hati


" aku harus ngomong sama Suhail agar dia mau sama gadis itu, ya kali aku dirumah sendiri kalau ada temen kan enak masak bareng apa apa bareng, pokoknya aku harus menang, aku harus gerak cepet jangan sampe si Khawlah satu langkah di depanku " bathin Maryam dalam hati lalu tak sengaja mereka berdua tatapan, bukan tatapan jatuh cinta ya tapi tatapan iblis yang terlontar dari mata mereka masing masing yang seakan akan mengisyaratkan " gue menang dan kamu pasti kalah" dan kembali menatap kedepan.

__ADS_1


__ADS_2