Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Lebih Cepat Mendekati


__ADS_3

"Belum Bu," ucap Almira. Untuk saat ini hatinya sedang bed rest. Belum ada yang mengisi hatinya. Dia memilih memprioritaskan keluarga.


"Sama dong, Sultan juga belum punya," sahut Nita.


Almira dan Sultan hanya diam. Pembicaraan ini membuat mereka malu.


"Apa Almira punya niatan untuk menikah kembali?" tanya Nita mulai mendekati tujuannya.


"Ee ... belum Bu," ucap Almira mulai canggung.


"Obrolan ini membuat Almira malu dan canggung, sebaiknya aku pergi membiarkan Ibu dan Almira mengobrol berdua," batin Sultan.


"Ibu aku ke kamar sebentar," ucap Sultan.


"Iya," sahut Nita.


Sultan meninggalkan Nita dan Almira mengorbol berdua. Dia tahu ini akan bertambah canggung jika dia tetap ada di sana. Sementara itu Nita masih mengajak Almira berbincang. Dia ingin mendekatkan Almira dengan Sultan. Siapa tahu Almira mau membuka kembali hatinya dan memberi Sultan kesempatan.


"Almira menurutmu Sultan bagaimana orangnya?" tanya Nita. Dia ingin tahu perasaan Almira untuk Sultan anaknya.


"Kak Sultan baik, ramah, dan penyayang," ucap Almira.


"Kalau seandainya saja Almira bisa menjadi menantu ibu lagi, pasti ibu sangat senang," ucap Nita.


Almira bingung harus menjawab apa. Jika dia menolak atau membantah sepertinya tak sopan dan tidak pantas untuk melakukan hal itu pada orang yang lebih tua.


"Apa yang harus ku jawab?" batin Almira.


"Sultan sudah berubah nak, dia akan berusaha membahagiakanmu asal kau mau memberi kesempatan kedua untuknya," ucap Nita.


"Maaf sebelumnya Bu, Ibu saya sedang sakit, saya hanya ingin fokus dulu pada ibu, adik, dan pekerjaan saya," ucap Almira dengan sopan.


Almira memang sudah memutuskan untuk fokus pada keluarganya. Dia belum ingin memiliki pendamping dalam waktu dekat ini. Apalagi kegagalan di masa lalunya membuatnya harus lebih hati-hati lagi saat memutuskan menikah.


"Oh begitu ya, tapi tidak apa-apakan kalau Sultan berusaha mendekatimu kembali?" tanya Nita. Pertanyaannya makin menyudutkan Almira. Wajah cantik di depannya tampak tegang.


Deg


Pertanyaan yang membuat jantung Almira berdetak kencang. Jawaban yang sulit diucapkan olehnya. Kembali dekat berarti siap membuka luka lama dan mengobatinya perlahan-lahan.


Iya Bu," ucap Almira ragu.


Setelah mengobrol dengan Nita, Almira pamit pulang karena sudah malam.


"Saya pulang dulu ya Bu," ucap Almira.


"Biar Sultan mengantarmu pulang," sahut Nita.


"Makasih sebelumnya Bu, tapi saya bisa naik taksi," ucap Almira.

__ADS_1


Sultan masuk ke ruang makan saat Almira pamitan.


"Almira biar aku yang mengantarmu pulang," ucap Sultan.


"Iya Almira, sudah malam. Biar Sultan mengantar pulang."


"Baik Bu," ucap Almira. Dia tidak bisa menolak lagi.


Sultan mengantarkan Almira kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Almira terlihat murung. Mungkin karena ucapan ibunya membuatnya sepeti itu.


"Almira tidak usah dipikirkan apa yang ibuku katakan, lakukanlah semua yang ingin kau lakukan jangan terbebani," ucap Sultan.


"Terimakasih Kak Sultan," ucap Almira.


"Iya," ucap Sultan. Dia mengantarkan Almira sampai ke dalam rumahnya. Dia juga berpamitan pada ibu dan adiknya.


"Bu, Almira, Sakira, aku pulang dulu," ucap Sultan.


"Iya, hati-hati dijalan," ucap Nawang, Almira dan Sakira.


Sultan berjalan keluar daru rumah Almira, dia masuk ke dalam mobilnya kemudian Sultan pergi meninggalkan tempat itu. Dia kembali pulang ke rumahnya.


***


Almira masuk ke kamarnya, Sakira mengikuti kakaknya untuk tahu apa yang terjadi antara kakaknya dengan Sultan. Dia kepo karena melihat kakaknya jalan lagi dengan Sultan mantan suami pertamanya.


"Kak habis kencan sama kak Sultan?" tanya Sakira.


"Wah, Kak Sultan gercep duluan nih," ucap Sakira.


Almira hanya menggeleng dan menghela nafas ringan.


"Tadi pagi kakak juga menemani Queenza ke sekolahnya untuk lomba memasak," ucap Almira.


"Kirain Kak Sultan aja yang sudah gercep duluan, ternyata Kak Devan juga," sahut Sakira.


"Tadi sore kakak bener-bener canggung banget. Kakak bertemu tiga mantan suami kakak sekaligus dalam satu tempat," ungkap Almira. Entah perasaan campur aduk apa yang dia rasakan saat reonian dengan ketiga mantan suaminya.


"Yang bener? cerita detailnya dong kak, penasaran nih," ucap Sakira penasaran.


"Sepulang dari sekolah Queenza, Devan mengantar kakak pulang ternyata Sultan sudah di depan rumah, terus gak lama Evander datang. Kakak bingung harus ngomong apa."


"Wah seru kalau bisa ngelihat langsung, tapi kak jangan mudah goyah, biarbagaimanapun mereka pernah menyakiti hati kakak. Biar mereka totalitas usahanya dulu, jangan mau dengan mudah balikkan. Mereka harus merasakan sakitnya dulu kakak diceraikan. Mendingan kakak sama Kak Rey yang jelas-jelas baik. Kapan-kapan aku bawa Kak Rey ah, biar tambah panas dan seru perebutannya."


"Apa sih kamu? malah nambah masalah," sahut Almira.


"Kak Rey itu baik banget, temen-temen kampusku aja pada ngefans sama Kak Rey, ganteng dan keren banget orangnya. Tar kapan-kapan aku pertemukan kakak dengannya, soalnya dia udah kenal kakak katanya."


"Kenal, darimana?" tanya Almira.

__ADS_1


"Mungkin kakak lupa tapi dia ingat kakak, dulu katanya satu sekolah SMA dengan kakak," jawab Sakira.


"Mungkin ya, kakak gak kenal dengan Rey." Almira merasa ragu. Mungkin lupa atau tidak begitu kenal sebelumnya. Atau Almira benar-benar tidak mengenal Rey. Mungkin karena karena sudah bertahun-tahun lamanya. Atau karena Rey bukan teman sekelasnya atau teman seangkatannya.


"Iyalah, dulu kan kakak paling cantik di SMA tentu kak Rey kenal kakak. Dia itu penggemar kakak waktu SMA. Cuma dia gak berani deketin kakak sebelum dia punya masa depan yang baik." Sakira kembali menjelaskan.


"Udah ya, kakak capek, ngantuk," ucap Almira tak ingin ambil pusing.


"Uuu ... kakak masih seru nih ceritanya," keluh Sakira. Dia terus mengoceh sementara Almira mendengarkan sambil tidur. Almira malas mendengarkan perjodohan dari adiknya yang tak habis-habis. Yang terpenting bagi Almira sekarang adalah memiliki pekerjaan agar bisa memiliki uang untuk biaya hidupnya dan keluarganya serta untuk biaya berobat ibunya.


***


Evander sangat kesal harus bertemu kedua rivalnya dalam satu tempat. Dia jadi tidak bisa memberikan Almira bunga yang sudah dibelinya. Evander mengendari mobilnya menuju tempat


bekerja Taka sebagai dokter psikiaternya. Taka lah tempat Evander bercerita segala masalahnya. Mereka tidak seperti hubungan Dokter dan pasien tapi lebih kepada sahabat. Evander turun dari mobilnya masuk ke klinik milik Taka. Sang Dokter duduk di kursi kerjanya sedangkan Tristan duduk di depannya.


"Evander malam-malam begini mau Konsul?"


"Bukan sekedar konsul, tapi lebih dari itu."


Taka tersenyum melihat wajah Evander yang terlihat kesal. Baru kali ini Evander terlihat seperti itu. Wajahnya seperti orang yang sedang cemburu.


"Pasti masalah Almira ya kan?" Taka menebak.


"Ya, sore ini aku datang ke rumah Almira untuk memberikannya bunga. Tapi ternyata sudah ada kedua mantan suami Almira di sana."


"Jadi kamu punya dua rival sekaligus, dan kamu tidak jadi memberikan Almira bungakan?"


"Betul."


"Evan ... Evan ... dulu kamu punya kesempatan yang besar untuk memiliki Almira sepenuhnya tapi kamu sia-siakan. Sekarang jalanmu untuk bisa bersama Almira akan sangat susah dengan dua rival sekaligus."


"Sial, setelah agenku mencari tahu latar belakang kedua mantan suami Almira, ternyata mereka orang yang berpengaruh juga. Mantan suami pertamanya Sultan adalah Dokter Jantung yang menangani ibu Almira. Mantan suami ketiga Devan seorang dosen, dia punya anak yang sangat disayangi Almira."


"Wah-wah sainganmu berat juga Evan."


"Masalahnya yang Sultan akan sering bertemu Almira setiap ibunya chek up, belum lagi dia sudah start lebih dulu dengan mengajak Almira makan bersama ibunya."


"Ha ... ha ... lucu. Kau seperti orang yang cemburu, padahal dulu kau tidak peduli dengan Almira. Rivalmu yang lebih berat itu Devan, karena dia punya anak yang bisa membuat Almira tidak tegaan. Dan bisa jadi Almira akan memilih Devan demi anak itu. Sementara kau dan Sultan lajang tidak ada beban jika Almira melepas kalian."


"Sudah jangan mengomel terus padaku, sekarang apa saranmu?"


"Aku ini bukan dokter cinta yang tahu solusi untuk permasalahan cinta. Tapi kalau menurutku pribadi lebih baik kau berusaha dulu sebaik mungkin bagaimana hasilnya itu terserah Almira nantinya. Berikan ketulusanmu pasti Almira juga akan melihat itu. Selebihnya tidak ada lagi yang bisa diperbuat walaupun kau banyak uang. Karena cinta tidak bisa dibeli dengan uang. Itu urasannya dengan hati dan membuatnya kembali mencintaimu bukan hal yang mudah. Jadi berjuanglah, semangat sahabatku!"


Evander hanya diam. Dia bukan satu-satunya orang yang akan mengejar cinta Almira tapi masih ada Sultan, Devan dan Rey. Rey adalah penggemar Almira waktu SMA. Dia seorang polisi yang baik, sabar, ramah, penyayang, ganteng dan keren. Usianya lebih muda dari Evander, Sultan dan Devan. Rey berusia 32 tahun beda satu tahun dengan Almira. Sepertinya Almira akan berada dalam dilema cinta antara Evander, Sultan, Devan, dan Rey.


Evander pulang ke rumahnya setelah konsultasi pada Taka. Dia melempar buket bunga yang tadi tak jadi diberikan pada Almira. Evander memegang keningnya dengan kedua tangannya.


"Dulu, aku bodoh. Sekarang benar-benar sulit untuk mengejar Almira lagi. Mantan-mantan suaminya bukan orang sembarangan. Pasti mereka punya nilai lebih dimata Almira. Gimana caranya Aku mendekati Almira kembali?" ucap Evander.

__ADS_1


"Lebih baik aku sholat, mungkin pikiranku lebih tenang" batin Evander.


__ADS_2