Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Uang Yang Didonasikan


__ADS_3

Evander mengendarai mobilnya menuju ke rumah sahabatnya. Dia itu seorang Dokter Psikiater. Evander sudah tak sabar ingin menceritakan semua yang dirasakannya saat bertemu kembali dengan Almira. Sahabat Evander bernama Taka Aldiano. Mereka sudah lama bersahabat sejak Evander berkonsultasi pribadi padanya. Sampai di rumah sahabatnya, Evander segera turun dari mobil, berjalan menuju pintu rumahnya.


Tok! Tok! Tok!


Evander mengetuk pintu rumah Taka. Kebetulan Taka sedang ada di rumah. Dia mempersilahkan sahabatnya itu masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan Taka tinggal sendiri di rumah itu. Mereka duduk di sofa ruang tamu sambil berbincang.


"Tumben kamu datang kesini, biasa aku yang harus menemuimu."


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Evander terlihat memiliki masalah, membuat Taka ikut berpikir. Apa yang sedang membuat sahabatnya gundah gulana. Tidak biasanya Evander asal menemuinya tanpa direncanakannya terlebih dahulu. Apalagi pekerjaan Evander cukup banyak. Sebagai seorang CEO dari perusahaan besar, dia tak punya banyak waktu luang. Untuk menemui Taka, biasanya Evander menunggu hari libur.


"Hal apa?" Taka penasaran. Sepertinya Evander ingin bercerita hal yang penting. Sampai menemuinya tanpa janjian terlrbih dahulu.


"Kemarin aku bertemu Almira, dia interview di perusahaan milikku."


"Terus, apa yang mau kau tahu?"


"Dulu waktu kami bercerai, aku memberi uang sebesar 4 Milyar untuk kompensasi perceraian. Tapi kenapa dia masih mencari kerja? padahal uang itu cukup besar."


"Walaupun dulu aku yang memilih Almira di kencan aplikasi itu, tapi sebelum menyiapkan kencan butamu dengannya, aku sudah mencari tahu latarbelakang Almira terlebih dahulu. Maka dari itu aku yakin Almira gadis yang cocok untukmu. Dia baik, penyayang, pintar, dan pekerja keras."


"Lalu uang 4 Milyarnya kemana?"


Evander masih penasaran mengenai uang 4 milyar yang diberikannya pada Almira saat bercerai. Dia ingin tahu dikemanakan uang yang diberikannya. Uang itu sangat banyak. Tidak mungkin habis begitu saja. Seharusnya cukup untuk mencukupi kebutuhan Almira.


"Mungkin Almira menyumbangkannya atau kau bisa menyuruh orang untuk menyelidiki hal ini."


Evander terdiam memikirkan ucapan Taka. Walaupun dipikirannya dipenuhi pertanyaan yang membuatnya ingin tahu jawabannya.


"Apa yang dikatakan Taka benar, apa aku harus menyelidikinya?" batin Evander. Dia tahu betul Almira wanita yang baik. Selama jadi istrinya juga selalu menjalankan tugasnya sebagai istri meski Evander selalu acuh dan dingin padanya.

__ADS_1


"Dulu aku pernah bilang padamu, jangan ceraikan Almira karena traumamu. Tidak semua wanita seperti ibumu."


Evander diam. Dia mengingat kembali saat-saat dia menceraikan Adelia. Dia tak berpikir akan jadi seperti ini.


"Aku selalu berharap setelah menikah dengan Almira, akan menyembuhkan traumamu dan mengembalikan kepercayaan mu terhadap wanita."


Taka tahu betul keadaan Evander. Dulu Taka yang menyarankan Evander untuk menikahi seorang wanita sebagai terapi supaya Evander bisa menghilangkan traumanya terhadap ibunya. Tapi Evander malah menutup dirinya dari Almira. Kalau bukan karena Ayah Evander, Almira mungkin sudah sangat tersiksa dengan sikap Evander. Bahkan dulu Evanderlah yang menceraikan Almira.


"Evander, kembalinya Almira dalam hidupmu mungkin sebagai kesempatan untukmu memperbaiki semuanya. Jangan sia-siakan kesempatan ini hanya karena traumamu itu! Traumamu tak akan sembuh jika kau tidak berusaha untuk menyembuhkannya sendiri. Aku hanya sebatas dokter psikiatermu yang hanya bisa mendengarkan masalahmu dan memberikan saran. Selebihnya kaulah sendiri yang harus bisa melawan traumamu itu. Bukalah lembaran baru, bawa Almira kembali. Aku yakin hanya dia yang akan mengerti dan memahamimu."


"Aku ..., aku hanya lelaki lemah yang selalu dibayangi mimpi buruk. Apa Adelia akan mau bersamaku kembali setelah semua yang aku lakukan padanya?"


"Itu karena kau tidak pernah cerita pada Almira apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kalau kau cerita yang sebenarnya pasti Almira akan sangat mengerti dan mendampingimu sampai kau sembuh."


Evander mulai menyesali kesalahannya di masa lalu. Dia tahu telah menyakiti perasaan Almira hanya karena trauma di masa lalunya. Seharusnya dia tidak melakukan itu pada Almira. Tidak semua wanita seperti ibunya. Tapi traumanya membuat Evander sangat membenci wanita.


Evander kembali ke rumahnya, ayahnya sudah menunggunya di ruang tamu. Antony sudah lumpuh sejak lama. Dulu saat ada Almira, ayahnya sangat bahagia karena selalu ada yang memasakkannya, menemaninya jalan-jalan pagi dan memberikannya obat secara rutin. Almira selalu merawat Antony dengan baik. Antony sangat menyayangi Almira sebagai menantunya. Beliau sangat terpukul saat Evander menceraikan Almira.


"Iya Pa, apa Papa mau ke kamar biar ku antarkan?"


Antony melihat putranya terlihat lelah dan murung. Dia merasa putranya membutuhkan sosok istri yang bisa membuat hatinya tenang.


"Papa rindu dengan Almira, apalagi dengan masakannya."


"Oya papa sudah makan?" Evander mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, Evander bawa Almira kembali sebelum Papa mati."


"Papa jangan ngomong begitu! Evander akan berusaha membawa Almira kembali."


"Terimakasih nak."

__ADS_1


Evander tahu ayahnya begitu merindukan Almira. Almira adalah menantu kesayangan ayahnya. Sudah 6 tahun Almira pergi dari rumah itu. Rasanya rumah menjadi sepi dan sunyi.


Evander naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya. Dia melihat sarung dan sajadah yang jarang dipakainya. Selama ini dia sering melupakan Allah. Mungkin itu yang membuat hatinya tak tenang. Evander ingat sarung dan sajadah itu pemberian Almira. Dia menggenggam kedua barang itu. Mengingat Almira yang selalu mengingatkannya sholat.


"Almira, rumah ini sepi tanpa kehadiranmu, Papa merindukanmu, dia rindu masakanmu," batin Evander. Dia melepas jas kerjanya. Lalu masuk toilet untuk berwudhu dan sholat. Dia berdzikir dan mengaji, kegiatan wajib yang jarang dilakukannya, sibuk dalam kehidupan duniawi.


"Ya Allah jika Almira memang jodohku, dekatkanlah kami kembali. Mudahkanlah kami bersama kembali seperti dulu dalam ikatan pernikahan, amin."


Allah Maha Besar mendekatkan hambanya kembali dengan berbagai caranya yang indah.


***


Evander sedang mengerjakan semua pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. Semenjak perusahaannya semakin maju, pekerjaan Evander semakin banyak. Tak jarang dia harus membawa kerjaan kantor ke rumah. Perusahaan yang dulu dirintis ayahnya dari nol sekarang sudah sangat besar dan cabangnya dimana-mana. Saat Evander sedang menandatangani berkas-berkas itu, handphone Evander berdering. Evander langsung mengangkat telpon itu.


"Hallo."


"Saya sudah menyelidikinya Boss," ucap Agen rahasia yang disewa Evander untuk menyelidiki Almira.


"Bagaimana hasilnya?"


"Uang 4 Milyar itu didonasikan ke yayasan panti asuhan Boss."


"Terus apa informasi lainnya?"


"Setelah berpisah dengan Boss, Almira sempat menikah dengan Devan. Dia memiliki seorang anak dari istrinya yang sudah meninggal. Almira menikah dengan Devan selama dua tahun setelah itu mereka bercerai. Sekarang Almira tinggal di perumahan xxxx."


"Info yang bagus, selidiki lagi apakah Almira masih punya hubungan dengan Devan."


"Baik Boss."


Evander terkejut mendengar informasi dari agen yang dibayarnya. Evander tidak menyangka Almira mendonasikan uang 4 Milyar itu untuk panti asuhan. Dia mengira Almira sama seperti ibunya yang hanya menyukai uang dan kekayaan. Tapi ternyata Almira tidak seperti itu. Benar kata Taka kalau Almira wanita baik. Tidak seharusnya Evander menyia-yiakannya hanya karena traumanya.

__ADS_1


__ADS_2