
Sultan pulang dengan mobilnya selepas mengantarkan Almira. Mukanya sedikit cemberut karena kesal bertemu dengan Rey tadi. Sultan tak tahu kenapa ada rival lain lagi dalam memperebutkan Almira. Dulu Almira pernah jadi istrinya tapi sekarang mau menjadikannya istri kembali sepertinya tak semudah yang dibayangkannya. Rivalnya juga memiliki peran dan kelebihannya masing-masing. Evander seorang CEO dari perusahaan besar, Devan seorang Dosen Akuntansi di universitas ternama dan Rey seorang anggota kepolisian yang masih muda. Usaha Sultan mendekati Almira bisa saja gagal, Almira mungkin akan memilih selain dirinya.
"Rey sepertinya juga menyukai Almira, aku harus bersaing dengan tiga rival sekaligus. Bagaimana caranya aku mendekati Almira?" Sultan bingung, posisinya sekarang sulit, peluangnya satu banding empat. Almira juga belum terlihat merespon perhatiaannya.
Sampai di rumah Sultan langsung pergi ke kamarnya. Dia mencari kembali foto pernikahannya bersama Almira. Untung foto itu masih ada tersimpan di dalam kardus bersama beberapa barang Almira selama 6 bulan hidup bersamanya.
"Aku tak menyangka secara tidak sengaja melukai hati Almira selama 6 bulan lamanya. Aku bahkan masih kencan dengan Yulia saat aku menjadi suami Almira. Mungkin semua ini balasan atas kesalahanku," ucap Sultan. Dia hanya memandangi foto pernikahan itu penuh penyesalan. Waktu tak dibisa diulang oleh Sultan, kesalahan di masa lalunya pada Almira membuatnya begitu menyesal. Seandainya diberi kesempatan kedua, Sultan takkan menyia-nyiakannya. Dia akan memperbaiki semuanya dan mencintai Almira sepenuh hati.
Tak lama terdengar ketukan pintu kamarnya. Suara Ibu Hana memanggil Sultan. Segera Sultan berjalan menuju pintu, perlahan membuka pintu kamarnya. Nita sudah ada di depannya.
"Sultan kau tidak makan?"
"Belum laper Bu."
"Tumben pulang gak bawa mobil, kamu naik apa ke rumah?"
"Tadi aku pergi ke kantor tempat Almira bekerja, aku ingin mengantar Almira pulang, tapi kami justru naik busway, jadi mobil ada di parkiran umum dekat kantor Almira."
"Oh pantes, terus gimana, kamu udah bilang ingin rujuk sama Almira belum?"
Sultan terdiam. Jangankan bilang rujuk, mau pedekate saja ada gangguannya. Langkahnya semakin sulit, dia pesimis bisa rujuk kembali.
"Ibu tahu kamu pasti belum bilang minta rujukkan?"
"Iya Bu, ternyata yang mau deket sama Almira bukan aku aja, dua mantan suaminya juga mendekati Almira, belum lagi ada seorang lelaki yang juga mendekati Almira."
"Ini namanya kamu dapet balasan dari kesalahanmu di masa lalu, coba aja dulu kamu gak mentingin Sera, Almira masih jadi istrimu, mungkin ibu juga udah punya cucu."
Sultan merasa apa yang ibunya katakan benar, semua ini terjadi karena kesalahannya. Apa yang dia perbuat di masa lalu akan dia dapatkan hasilnya di masa sekarang, dulu dia menyakiti hati Almira, kini dia tersiksa karena kesulitan mendapatkan Almira kembali.
"Aku minta maaf Bu, seharusnya dulu aku lebih dewasa dan tahu mana yang benar, seharusnya aku memperlakukan Almira dengan baik."
"Ya udah nak, menyesal memang selalu belakangan, itu sebabnya jangan salah langkah, apapun dipikirkan baik buruknya, semoga Allah memberi jalan."
"Amin."
"Kalau kamu gak makan, tidurnya jangan malam-malam ya."
"Iya Bu."
Setelah berbincang dengan ibunya, Sultan mengantarkan ibunya ke kamarnya, kemudian dia kembali ke kamar. Sultan berbaring di ranjang sambil memikirkan Almira, berharap waktu akan akan mengembalikan Almira padanya.
***
Rey dan Sakira masih menunggu Almira selesai mandi. Tak lama Almira keluar dari kamarnya. Rey melihat ke arah Almira. Lama sekali belum bertemu dengan Almira lagi. Sakira meninggalkan mereka berdua di ruang tamu itu. Almira duduk berseberangan dengan Rey. Kebetulan Nita sedang istirahat di kamarnya jadi Almira hanya berdua di ruang tamu itu.
"Almira sudah lama tak bertemu denganmu."
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Dulu saat masa orientasi siswa SMA kau terlambat karena mengantarkan temanmu ke UKS, lalu temanku Tono memarahimu. Melihat itu aku datang menanyakan alasanmu terlambat."
Almira mencoba mengingat peristiwa di masa lalu, masa saat dia baru masuk SMA. Peristiwa itu sudah lama berlalu tapi Almira masih ingat.
"Rey ketua OSIS saat masa orientasi siswa ya?"
"Iya betul, sejak saat itu aku selalu mengingatmu."
Almira bingung harus bicara apa. Dia tidak mengenal dekat Rey, terakhir bertemu saat perpisahaan kelas tiga. Almira hanya mengenal Rey sebagai ketua OSIS tidak lebih dari itu. Selama bersekolah, Rey juga tak pernah datang ke kelasnya atau menghampiri Almira, itu sebabnya Adelia tidak ingat siapa Rey.
"Sejak lama aku mengagumimu Almira tapi belum ada waktu yang tepat untuk mendekatimu."
Almira diam. Dia baru bertemu kembali dengan Rey, tapi lelaki itu sudah mulai mengatakan kekagumannya pada Almira. Saat ini Almira belum bisa dekat dengan lelaki manapun, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.
"Aku tidak memaksamu untuk menerima kehadiranku tapi beri aku kesempatan untuk memperjuangkanmu kali ini. Aku tak kan kehilanganmu untuk yang ketiga kalinya."
Almira masih diam, lelaki yang duduk di dekatnya ini mengatakan cinta padanya dengan bahasa yang berbeda. Dia tidak tahu harus menjawab apa, Rey orang baru dalam hidupnya, tidak mudah untuk Almira membuka hati pada orang yang sama sekali belum dikenal dekat olehnya, kegagalan di masa lalu menjadi pembelajaran untuk Almira, agar lebih hati-hati memilih pasangan hidup yang baru.
"Mungkin kau masih belum bisa membuka hatimu untuk orang lain tapi biarkan aku yang berusaha membukanya."
"Beri aku kesempatan untuk itu."
"Aku masih belum bisa menjalani hubungan dengan siapapun, tapi aku tidak bisa melarangmu untuk berusaha mendekatiku, karena itu hakmu."
"Terimakasih Almira, ini cukup untukku."
Rey sampai di rumahnya, Rani sudah menunggu Rey dari tadi. Dia tidak pernah tidur duluan sebelum anakknya pulang. Rey menghampiri ibunya, mencium tangannya, kebiasaan itu selalu dilakukan Rey setiap berangkat dan pulang ke rumah. Dia begitu menyayangi ibunya.
"Ibu tadi aku ke rumah Almira."
"Akhirnya kau bisa bertemu Almira, Rey.
Bertahun-tahun lamanya kau menunggu Almira."
"Iya Bu, dulu saat aku sudah menjadi polisi aku ingin sekali mendekati Almira tapi aku malah ditugaskan ke pelosok desa, kemudian saat aku kembali Almira sudah menikah dengan Sultan. Berapa tahun kemudian aku bertemu dengan Almira di restoran, dia sedang berkencan dengan seorang laki-laki. Aku kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya Bu. Setelah beberapa tahun, aku melihat Almira bersama laki-laki di taman bersama anak kecil. Aku pikir Almira sudah bahagia, dan waktunya aku melupakannya. Ternyata semua itu membuat Almira terluka. Tapi sekarang aku akan memperjuangkan Almira Bu."
"Iya kau harus memperjuangkan Almira, jangan pernah kehilangannya lagi."
Rey mengangguk. Dia akan berusaha mendapatkan Almira setelah menunggu bertahun-tahun lamanya. Meskipun dia tahu semua mantan Almira. Selama ini Rey sebenarnya tahu perkembangan kehidupan Almira. Dia menunggu dan menunggu sampai akhirnya kehilangan Almira berkali-kali.
***
Evander mengecek handphonenya berkali-kali. Dia terus melihat foto kontak Almira. Dia ingin mengirim pesan atau menelponnya tapi bingung mengawali pembicaraannya. Tak lama handphone-nya berdering. Telpon dari agen bayarannya. Segera Evander mengangat telpon itu.
"Hallo."
__ADS_1
"Bos saya dari TKP, tadi ada laki-laki sepertinya anggota kepolisian namanya Rey. Dia masuk ke rumah Almira."
"Rey?"
"Iya Bos."
"Cari tahu latar belakangnya dan apa hubungannya dengan Almira."
"Siap Bos."
Evander menutup handphone-nya, dia kesal sekali rivalnya bertambah satu lagi. Belum juga dia mendekati Almira tapi sudah ditikung sana sini oleh semua rivalnya. Evander berpikir untuk menelpon Almira untuk mengajaknya makan bersama di rumahnya. Mungkin dengan begitu dia punya kesempatan mendekati Almira, dari pada kehilangan kesempatan lagi. Evander melihat kembali kontak Almira, dia memberanikan diri untuk menelpon mantan istrinya itu.
"Hallo, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsallam."
"Evan."
"Ternyata Almira masih menyimpan nomor telponku," batin Evander.
"Iya ini aku."
"Ada apa ya Evan?"
"Besok ..., maukah kamu makan bersama di rumahku? Papa rindu padamu." Evander mencari alasan.
"Semoga Almira mau," batin Evander.
Almira belum juga menjawab. Evander mulai cemas. Baru kali ini dia takut ditolak Almira.
"Iya, aku juga sudah lama tidak bertemu Papa Antony."
"Yes," batin Evander kegirangan mendengar jawaban mantan istrinya.
"Pulang bekerja aku akan ke ruanganmu, kita berangkat ke rumahku bersama."
"Oke."
"Selamat malam Almira."
"Selamat malam Evan."
Almira mematikan handphone-nya, Evander langsung melompat karena senangnya mendapat jawaban iya dari Almira. Akhirnya dia punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Almira.
"Yes! akhirnya aku punya kesempatan, aku harus membuat sesuatu yang romantis."
Evander mencari kembali foto pernikahannya bersama Almira. Dia memasang kembali foto pernikahan itu di dinding kamarnya. Dia juga meletakkan kembali semua barang-barang milik Almira dulu ke tempat semula. Seperti baju tidur, sikat gigi, sisir, jepit rambut dan beberapa barang milik Almira yang masih disimpannya.
__ADS_1
"Semua barang ini sudah kembali tertata pada tempatnya, rasanya seperti Almira ada di kamar ini. Dulu saat menikah tak pernah aku berani menyentuhnya sedikitpun, bahkan aku mengacuhkannya. Aku membuatnya jadi pajangan di rumahku. Almira pasti sangat terluka, aku harus memperbaiki semuanya."
Evander senang semua barang Almira kembali di tempatnya. Dia merasa Almira seperti ada di kamarnya seperti dulu. Almira selalu menunggu Evander pulang bekerja hingga larut malam, tapi Evander selalu mengacuhkannya. Tak jarang mereka tidur terpisah meskipun satu kamar. Evander hanya menikahi Almira untuk menyembuhkan trauma di masa lalunya, tapi Evander tak memberi kesempatan Almira untuk masuk ke dalam hatinya. Dia selalu menjaga jarak dari Almira.