
Pagi itu Almira berangkat bekerja ke perusahaan tempat dia bekerja. Dia naik bus ke tempat kerjanya. Sampai di perusahaan Almira mulai absen dan naik ke lantai atas menggunakan lift. Di dalam lift ada beberapa orang, salah satunya Maya. Almira berdiri bersampingan dengan Maya. Dia cemberut melihat Almira, dia kesal karena kemarin dimarahi Evander cuma karena Almira.
Lift mulai terbuka, ketika Almira berjalan lebih dulu, Maya sengaja mendorong Almira biar terjatuh tapi saat Almira terdorong dan hampir jatuh, di luar lift ada Evander, dia langsung menangkap tubuh Almira.
"Sial, kenapa mereka malah pelukan sih," batin Maya. Dia semakin tidak menyukai Almira, bukannya Almira celaka malah semakin nempel pada Evander. Boasnya itu masih memegang tubuh Almira, mereka berhenti sesaat, kedua mata mereka tak sengaja bertautan satu sama lain. Sekian detik.
Deg!
Jantung keduanya berdebar kencang. Evander menyadari hal itu, dia menatap Almira yang selalu cantik dan sederhana, membuatnya mulai jatuh hati pada mantan istrinya, namun untuk mengejarnya, Evander harus mengalahkan ketiga rivalnya yang lain.
"Almira," ucap Evander.
"Evan," ucap Almira.
Setelah saling memanggil nama mereka, Evander melepas pelukannya. Mereka berdua begitu canggung. Apalagi para staf lain melihat mereka tadi berpelukan. Seketika Evander dan Almira menjauh satu sama lain.
"Maya, kau sengaja mendorong Almira?" tanya Evander. Dia tidak terima Maya melakukan hal yang akan menyakiti Almira.
"Aku gak sengaja, lift penuh dan berdesakan saat keluar, wajarkan kalau Almira tersenggol," jawab Maya.
"Benarkah begitu? ada CCTV di sana jadi kita bisa liat kamu sengaja mendorong atau tidak," ujar Evander sambil menunjuk ke arah CCTV. Dia yakin Maya sengaja mendorong Almira. Dia takkan bisa memaafkan jika Almira terluka.
"Presdir, aku tidak apa-apa," ucap Almira. Dia tidak mau memperpanjang masalah.
Maya diam dan sangat kesal. Lagi-lagi Evander membela Almira. Seharusnya tadi Almira jatuh dan jadi bahan tertawaan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya dan menguntungkan Almira, dia semakin buruk di mata Evander.
"Kamu minta maaf sama Almira sekarang!" perintah Evander.
"Apa? gak mau!" tegas Maya. Dia tak sudi harus minta maaf pada Almira. Sama saja merendahkan dirinya.
"Oke, silahkan angkat kaki dari sini!" perintah Evander.
"Baik, aku minta maaf sama Almira," jawab Maya dengan wajah cemberut, dia terpaksa minta maaf, dari pada dikeluarkan dari perusahaan, yang akan membuatnya semakin sulit mengejar Evander.
"Lakukan cepat!" perintah Evander.
"Almira aku minta maaf," ucap Maya.
__ADS_1
"Iya, aku sudah memaafkanmu," sahut Almira.
Maya langsung meninggalkan tempat itu, semakin lama akan semakin membuatnya muak. Begitu juga dengan Almira, dia kembali ke ruangannya. Evander juga kembali ke ruang kerjanya.
Maya masuk ke ruangan temannya di ruangan HRD. Temannya adalah staf HRD di perusahaan itu. Namanya Lina Marlina. Maya yang masuk ke dalam langsung melempar tasnya di meja Lina. Melihat sikap Maya, Lina merasa temannya memiliki masalah.
"Maya ada apa sih? kamu kok emosi begitu?" tanya Lina.
"Itu staf akunting baru, namanya Almira. Udah dua kali aku mati kutu di depan Evan. Kamu tahukan aku tuh lagi deketin Evan, kalau begini caranya jadi susahkan," jawab Maya sambil emosi.
"Oh ..., Almira itu. Kamu gak selevel kali bersaing ma dia. Lagian dia staf biasa, statusnya janda lagi," sahut Lina.
"Apa? dia janda?" tanya Maya. Dia senang mendengar informasi dari Lina. Itu akan digunakannya untuk menjatuhkan Almira di depan Evander.
"Iya, dia janda. Lihat saja ini profilnya di data HRD," jawab Lina sambil menunjukkan data di laptop-nya.
"Coba lihat," potong Maya sambil melihat profil Almira.
"Janda toh, kalau gitu aku tahu cara membalasnya" ucap Maya. Dia tersenyum licik.
Ada kesempatan untuknya mendapatkan Evander, dengan pemberitaan itu Almira akan terlihat jelek di mata Evander. Lelaki lebih suka perawan dari janda.
"Iya, tapi bantu aku nanti nyebarin gosip ini ya Lina," jawab Maya.
"Oke beres," jawab Lina.
Maya ingin balas dendam pada Almira yang selalu dibela Evander. Maya tidak mau Evander lebih memperhatikan Almira yang tidak selevel dengannya. Apapun itu Evander harus jadi miliknya.
***
Jam kerja sudah berakhir, Almira mulai membereskan semua berkas-berkas di mejanya. Dan menutup laptop perusahaan. Dia juga merapikan semua barang di meja kerjanya. Di ruangan akunting itu sudah sepi, semua staf sudah keluar dari ruangan itu. Evander masuk ke dalam ruang akunting untuk menjemput Almira. Dia menghampiri Almira yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Almira sudah siap?" tanya Evander.
"Iya," jawab Almira.
"Ayo ke bawah kalau begitu!" ajak Evander.
__ADS_1
"Oke," jawab Almira.
Mereka berdua berjalan berduaan menuju lift dan keluar dari perusahaan itu. Beberapa staf yang masih ada di lobi melihat mereka jalan berdua. Mereka terlihat serasi dan romantis.
"Itu Presdir jalan sama staf baru ya."
"Iya ya, kok kelihatannya deket ya?"
"Apa mereka punya hubungan khusus gitu?"
"Mungkin, tapi staf baru itukan baru dua hari kerja di sini. Apalagi Presdir terkenal dingin dan cuek, masa iya mereka punya hubungan khusus."
"Udah ah, ayo pulang!"
Evander membukakan pintu mobil depannya untuk Almira.
"Makasih Evan."
Evander mengangguk. Almira masuk ke dalam mobil, lalu mereka pergi menuju rumah Evander. Sepanjang perjalanan Almira diam. Evander ingin membuat suasana lebih dekat dan hangat.
"Almira kau suka dengerin musik?" tanya Evander. Berusaha menepis jarak dan kecanggungan di antara mereka.
"Sedikit."
"Lagu-lagu sendu sepertinya enak didengar, kau suka tidak?"
Almira hanya mengangguk. Evander segera memutar lagu sendu. Lagu itu menceritakan tentang suami yang menceraikan istrinya. Evander jadi semakin tidak enak.
"Aduh, ini lagu gak bisa kompromi, lagi pedekate kenapa malah lagu perpisahan gini, bikin tambah sakit hati mantan istriku," batin Evander.
Lagu pertama usai, berlanjut lagu kedua. Lagu itu menceritakan istri yang dicampakan suami, menikah tanpa cinta, hingga istrinya kesepian dan sendirian.
"Ini lagi lagunya bikin suasananya semakin kacau," batin Evander. Niat hati pendekatan justru lagu itu membuat suasana semakin canggung dan menyedihkan.
Benar saja, mata Almira terlihat berkaca-kaca. Evander jadi tak enak hati. Dua lagu yang diputar bikin ilfeel. Tak lama lagu ketiga diputar. Lagu ini menceritakan kisah suami istri yang rujuk kembali atas nama cinta.
"Nah ini baru pas dengan momen-nya," batin Evander. Dia tersenyum mendengar lagu yang ketiga. Almira justru terlihat malu mendengar lagu itu.
__ADS_1
"Kalau seandainya kita rujuk lagi, gimana Almira?" tanya Evander. Dia memberanikan diri untuk bertanya soal rujuk. Sebelum mantan suami lainnya mendahului Evander.