
Mampir di novel baru author
Mafia Merindukan Surga
"Abi, Umi, jawab salam Hafidz." Anak kecil itu dengan polosnya memanggil kedua penjahat itu dengan sebutan Abi dan Umi seolah orangtuanya. Tatapan matanya hanya pada satu arah.
"Hah! Salam?" Mereka berdua bingung. Apa yang harus mereka lakukan.
"Abi, Umi, lupa, kalau salam harus dijawab." Anak kecil itu kembali mengingatkan dengan ekspresi yang antusias dan berseri-seri.
"Balas salamnya!" bisik sang mafia. Dia menyuruh sang pembunuh membalas salam anak kecil itu.
Sang pembunuh menggeleng karena tidak tahu cara membalas salam.
"Abi, Umi, jawab wa'alaikumsallam, dulu Hafidz juga diajarin sama Abi dan Umi."
Mereka menatap satu sama lain. Aneh mendengar kata wa'alaikumsallam. Bagi mafia dan pembunuh kejam dan sadis, mereka tak mengenal agama. Apalagi menjalani tuntunannya. Kata salam pun jarang didengarnya. Mereka juga tak tahu.
"Wa'alaikumsallam," sahut keduanya. Mau tak mau membalas salam anak kecil itu. Mungkin ini salam pertama yang mereka ucapkan.
"Alhamdulillah, Hafidz seneng Abi, Umi, sudah pulang." Tampak ekspresi kebahagiaan dari wajah kecil yang polos itu. Membuat keduanya masih terdiam dan heran.
"Apa anak kecil itu mengira kita orangtuanya?" bisik sang mafia.
"Mungkin," jawab sang pembunuh malas.
Anak kecil itu di depan mereka berdua hanya tersenyum. Wajah tanpa dosa terlihat tulus. Hanya bola matanya tak berkedip. Mereka segera menyadari anak kecil itu buta.
"Bunuh dia!" bisik sang mafia.
"Kau gila? dia masih kecil, buta lagi," sahut sang pembunuh.
"Kau bilang pembunuh tanpa belas kasih, ke mana nyalimu?" tanya sang mafia.
Sang pembunuh terdiam sesaat. Dia mengumpulkan keberaniannya yang tadi sempat tertahan. Kembali mengangkat pedangnya ke udara untuk menebas anak kecil itu. Dia mengayunkan pedangnya ke bawah dengan cepat. Namun pedang itu terjatuh, tangannya tak mampu membunuh.
Praang ...
Tangan sang pembunuh bergetar. Baru kali ini dia tak mampu membunuh. Seperti ada cahaya yang terpancar dari wajah anak kecil itu, menggentarkan hatinya. Membuatnya lemah tak bertenaga.
"Kenapa? Kau takut?" tanya sang mafia.
Terdiam. Terpaku. Sang pembunuh tak mampu berkata-kata. Dia tak tahu kenapa dirinya jadi seperti itu.
"Biar aku saja," ucap sang mafia. Dia mengambil pedang yang terjatuh di lantai. Hendak menebas anak kecil yang berdiri di pintu dengan senyuman yang masih terjaga dari tadi, namun sang pembunuh menahan tangannya.
"Jangan!" larang sang pembunuh.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya sang mafia.
"Dia kecil, buta, takkan menyusahkan kita," bisik sang pembunuh.
Mereka berdua saling menatap. Mata ke mata bertaut untuk menyakinkan keadaan aman. Perlahan tangan sang mafia turun. Dia menjatuhkan pedang.
Anak kecil itu meraih tangan sang mafia menciumnya layaknya pada abahnya sendiri begitupun pada sang pembunuh yang dianggapnya uminya.
"Abi, Umi, ayo masuk!" ajak anak kecil itu.
"Sebentar ya Nak, Umi bicara dulu dengan Abi," sahut sang pembunuh.
"Baik Umi," jawab anak kecil itu.
Sang pembunuh menarik lengan sang mafia, mengajaknya ke tepi teras. Dia mulai berbisik pada sang mafia.
"Kita pura-pura aja jadi Abi dan Umi anak buta itu untuk sementara waktu."
"Kau gila? untuk apa ribet, tinggal bunuh saja beres."
"Kita butuh tempat aman, di sini jauh dari kota dan rumah penduduk, menjadi orangtua anak itu tak ada salahnya toh dia buta."
Sang mafia berpikir. Ada benarnya yang dikatakan sang pembunuh. Tak ada salahnya jika mereka jadi orangtua anak kecil itu, toh dia buta, takkan tahu siapa mereka sebenarnya.
"Oke."
"Ayo!"
"Hafidz ambil air minum dulu, Abi, Umi, pasti haus." Hafidz berjalan ke dapur dengan perlahan, sedangkan mereka berdua masih melihat ke sekeliling.
"Tak ada barang bagus apa?"
"Dasar perempuan di manapun matre."
"Kau bilang apa? pedangku masih tajam."
Sang mafia langsung diam. Sia-sia jika membangunkan harimau tertidur. Dia harus bertarung lagi. Belum bisa dipastikan dia akan menang melawan harimau. Tadi saja mereka imbang saat bertarung.
"Ke mana orangtuanya? kok bisa kita dianggap orangtuanya?"
"Mungkin mati atau dimakan hewan buas."
"Bisa tidak kau berpikir smart gitu."
"Berspekulasi itu bebas. Lagi pula kalau mereka masih hidup dan pulang, kita bunuh aja."
"Berhentilah kejam dulu, kita tak tahu anak itu kenapa?"
Sang mafia tertawa. Dia geli dengan ucapan sang pembunuh yang memintanya untuk berhenti kejam dulu. Bukan mafia kalau tak kejam, tapi dia harus berhenti mengaung di tempat yang asing untuknya.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa? aku belum pernah menebas mafia sepertimu."
"Pembunuh mendadak baper, mana kredibilitas mu sebagai pembunuh kejam dan sadis?"
"Diam tidak? atau pedangku yang membuat mulutmu diam!"
Mereka berdua kembali berdebat sampai Hafidz membawa dua teh hangat dengan tangan kecilnya. Berdiri di depan perdebatan itu.
"Abi, Umi, ini teh untuk kalian." Hafidz memberikan satu persatu teh hangat itu untuk keduanya. Mereka hanya terdiam menatap cangkir teh di depannya.
"Abi, Umi, mana ucapan terimakasihnya. Kata Abi kalau seseorang memberikan sesuatu untuk kita, jangan lupa ucapkan terimakasih."
"Ha ha ha." Sang pembunuh tertawa pelan. Mentertawakan ucapan Hafidz.
"Terimakasih, bukannya tertawa," bisik sang mafia pada sang pembunuh.
"Kaulah sana! kata Abi bukan Umi."
"Umi juga bilang siapapun yang berbuat baik pada kita, ucapkan kata terimakasih padanya."
"Ha ha ha." Sang mafia gantian tertawa.
"Kau senang ya?" bisik sang pembunuh.
"Impas."
"Terimakasih." Keduanya mengucapkan kalimat terimakasih, kalimat yang dulu sangat anti diucapkan oleh keduanya. Tak ada sopan santun apalagi timbal balik untuk sebuah kebaikan. Mereka lebih mengerjakan sesuatu ada dasar kekuatan bagai hukum rimba, siapapun akan dibunuh kalau itu perlu.
Hafidz tersenyum.
"Abah, Umi, minum tehnya mumpung hangat."
"Iya." Keduanya kompak menjawab bersamaan.
Meneguk kedua teh di cangkir yang terbuat dari seng, berwarna hijau. Cangkir yang masih ketinggalan zaman dibandingkan cangkir teh zaman sekarang. Ukurannya juga cukup besar.
Baru satu tegukan. Mereka tercengang. Rasa tehnya sangat berbeda dari yang biasanya mereka minum.
"Enak sekali teh ini."
"Segar dan membuat tenggorokkanku terasa lega."
"Bocah kau berikan apa di teh ini?"
"Abi namaku Hafidz, Abi yang memberikan nama itu, biar Hafidz jadi penghafal al qur'an."
Sang pembunuh menginjak kaki kanan sang mafia.
"Aw ..., kau!"
__ADS_1
Sang pembunuh melotot ke arah sang mafia. Memberinya kode agar memanggil nama anak kecil itu dengar benar.