Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Menolak Devan


__ADS_3

Almira masuk ke dalam rumah Devan, dia belok ke kiri sesuai yang dikatakan Devan, mencari pintu berwarna pink. Tak lama Almira menemukan pintu berwarna pink tepat di depannya beberapa langkah lagi. Tiba-tiba mertua Devan, Ibu Siska menghampirinya. Dia terlihat masam melihat Almira.


"Almira kamu ngapain di sini?" tanya Ibu Siska.


"Saya mau menjenguk Queenza Bu," jawab Almira dengan sopan.


"Ada hubungan apa sehingga kamu mau menjenguk Queenza?" tanya Ibu Siska.


Dia tidak ingin Adelia kembali dekat dengan Devan.


"Saya hanya ingin bertemu Queenza, kemarin Devan bilang kalau Queenza sakit tipes," jawab Almira.


"Kamu tidak sedang menggoda Devan agar jatuh kepelukanmu lagikan?" tanya Ibu Siska menuduh Almira.


"Maaf, tidak Bu. Maksud kedatangan saya murni untuk menjenguk Queenza," jawab Almira. Dia berusaha sabar menghadapi mantan mertuanya itu, dari dulu Ibu Siska memang selalu bersikap seperti itu padanya. Almira sudah terbiasa mendapatkan kritik ataupun ucapan pedasnya.


"Devan itu laki-laki yang baik dan polos, dia mudah dibohongi wanita sepertimu. Asal kamu tahu Devan masih mencintai anakku. Dan kamu hanya dianggapnya sebagai ibu pengganti Queenza tidak lebih," ujar Ibu Siska.


"Iya saya mengerti Bu. Saya juga tidak punya maksud untuk kembali membina hubungan dengan Devan, jadi Ibu tidak perlu khawatir," ucap Almira.


"Syukurlah kalau kamu tahu diri, karena kamu tidak pantas untuk Devan. Hanya anakku yang pantas bersanding dengan Devann," ucap Ibu Siska.


Setelah bicara seperti itu Ibu Siska pergi meninggalkan Almira. Dia merasa berhasil mengancam Almira supaya tidak mendekati Devan lagi, untung saja Almira tidak peduli dengan ucapan Ibu Siska, semuanya hanya dianggap angin yang berhembus tanpa permisi.


Tak jarang Ibu Siska selalu menjelekkan Adelia di depan Devan saat mereka menikah dulu. Ibu Siska selalu membanding-bandingkan Almira dengan anaknya Kiara yang sudah meninggal. Dia juga selalu mengingatkan Devan tentang Kiara sehingga Devan selalu merasa bersalah dan sulit melupakan Kiara. Ibu Siska tidak rela Devan bersama Almira. Selama menikah selama 2 tahun dengan Devan, Almira selalu jadi bahan bulan-bulanan Ibu Siska di depan Devan setiap datang ke rumah Irfan. Ibu Siska selalu berusaha menghasut Devan agar menceraikan Almira. Hingga pada akhirnya mereka bercerai. Devanlah yang menceraikan Almira duluan. Padahal Almira sudah baik hati rela menunggu Devan yang masih mencintai istrinya yang telah meninggal. Hanya karena Devan merasa terbayang-bayangi rasa bersalah pada istrinya, dia menceraikan Almira.


Almira masuk ke kamar Queenza, dia melihat Queenza yang sedang berbaring di ranjangnya. Queenza hanya melamun dan diam. Almira mendekati Queenza dan duduk di tepi ranjang.


"Queenza gimana keadaanmu sayang?" tanya Almira.


"Badan Queenza panas, kepala pusing, mengigil, dan lidah Queenza rasanya pahit Mama Almira," jawab Queenza.


"Apa Queenza sudah makan dan minum obat?" tanya Almira.


"Belum Ma, Queenza gak mau makan, rasanya gak enak, Queenza gak mau minum obat, obatnya pahit Mama Almira," jawab Queenza.


"Gimana kalau Mama suapin? mau gak?" tanya Almira.


"Mau tapi nanti mama Almira bacain dongeng, Queenza kangen dibacain dongeng sama Mama Almira," jawab Queenza.


"Iya ..., sekarang makan dulu ya?" tanya Almira.

__ADS_1


"Iya Ma," jawab Queenza.


Almira mengambil piring di atas meja yang sudah ada nasi dan lauk pauk, dia menyuapi Queenza makan lalu minum obat, tak lupa Almira juga membacakan dongeng untuk Queenza sampai dia tertidur. Almira menyelimuti Queenza dan mencium keningnya. Meskipun sudah bercerai dengan Devan, tapi rasa sayangnya pada Queenza tak pernah berubah dari dulu. Ketika Almira berdiri, Devan masuk ke kamar Queenza membawa segelas teh jahe untuk Almira.


"Almira, ini teh jahe untukmu. Dulu kau suka minum teh jahe kalau malam," ucap Devan.


"Terimakasih Mas Devan," ucap Almira.


Almira mulai meminum teh jahe itu sampai habis. Setelah itu Devan mengajaknya bicara.


"Almira, maafkan semua kesalahanku di masa lalu. Aku merasa bersalah karena belum bisa melupakan Kiara dan membuatmu terluka.


Seharusnya aku membahagiakanmu," ujar Devan. Dia merasa bersalah dan harus minta maaf langsung pada Almira. Biar semua kesalahan di masa lalu bisa diselesaikan dan menyambut masa depan yang indah.


"Aku sudah memaafkanmu dari dulu Devan, aku juga sudah melupakan hal itu," ucap Almira.


"Queenza sangat menyayangimu, dia selalu bercerita tentangmu hampir setiap hari. Akulah yang bodoh telah melepasmu tanpa memikirkan perasaanmu dan Queenza," ungkap Devan.


Almira hanya diam, mendengarkan Devan bicara padanya.


"Queenza membutuhkanmu Almira, bisakah kita kembali seperti dulu?" tanya Devan.


"Aku akan berusaha dan menunggu sampai kau mau kembali padaku dan Queenza," ujar Devan.


Almira hanya diam. Dia tidak bisa memberi harapan atau menolak, pasti sangat menyakitkan rasanya ditolak. Almira juga masih menata hatinya, belum memilih harus kembali atau melanjutkan hidup barunya.


"Oya, terimakasih sudah menyempatkan waktu menjenguk Queenza, dia sangat merindukanmu Almira," ucap Devan.


"Iya sama-sama," jawab Almira.


"Kalau begitu bagaimana kita makan dulu? aku akan masak masakan kesukaanmu," ajar Devan.


"Maaf Mas Devan, tadi aku sudah makan dengan Evan," tolak Almira.


"Oo ...," ucap Devan singkat.


"Aku pamit pulang dulu ya Mas Devan," ucap Almira.


"Biar ku antarkan kau pulang," ujar Devan.


"Tidak perlu Mas Devan, tadi aku kesini dengan Evan, pasti dia sedang menungguku di luar," tolak Almira.

__ADS_1


"Kalau begitu aku antarkan sampai teras ya?" tanya Devan


"Oke," jawab Almira.


Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.


Di teras Evander sudah menunggu Almira dari tadi. Dia terlihat gelisah dan berjalan bolak balik. Dia takut Almira akan rujuk dengan Devan, pupus sudah harapannya.


"Gimana kalau Devan membujuk Almira untuk rujuk demi anaknya?" tanya Evander bicara sendiri.


"Gimana kalau Almira setuju kembali rujuk dengan Devan?" tanya Evander yang masih bicara sendiri.


"Apa yang harus ku lakukan?" ucap Evander kebingungan.


Tak lama Almira dan Devan keluar dari rumah, Evander tersenyum, setidaknya dia lega melihat Almira sudah keluar.


"Almira sudah mau pulang?" tanya Evander.


"Iya Evander," jawab Almira.


"Baik kalau begitu, ayo pulang biar kuantarkan," ajak Evander.


Almira mengangguk.


"Evan, terimakasih sudah mau mengantarkan Almira pulang," ucap Devan.


"Dengan senang hati, aku duluan Devan," ucap Evander.


"Ya," jawab Devan.


"Mas Devan, aku pulang dulu," pamit Almira.


"Ya, hati-hati Almira," sahut Devan.


Almira mengangguk tersenyum, lalu berjalan bersama Evander menuju ke mobilnya yang di parkir di depan jalan depan rumah Devan. Almira naik mobil Evander, mereka meninggalkan tempat itu.


Di teras rumah, Devan masih berdiri melihat mobil Evander yang mulai menjauh.


"Aku harus bersaing dengan Evander dan Sultan yang notabennya mereka adalah mantan suami Almira juga. Pasti sangat sulit untuk mendapatkan Almira kembali," ucap Devan.


Devan menyesal dulu telah melepas Almira, sekarang ingin kembali dengan Almira tapi jalannya akan sulit karena dua rivalnya adalah mantan suami Almira juga.

__ADS_1


__ADS_2