Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Dekat Dengan Mantan Kakak


__ADS_3

Almira masih mengerjakan pekerjaannya di ruangan akunting. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Almira duduk di kursi mengerjakan laporan keuangan bersama Manager Akunting dan dua orang staf akunting lainnya. Biasanya di akhir bulan akunting harus menyelesaikan laporan keuangan akhir bulan ini.


"Almira maaf, saya harus pulang, anak saya sedang sakit di rumah. Bisakah laporan keuangannya kamu handle dulu besok saya teruskan," ucap Manajer Andi.


"Baik Pak Andi," sahut Almira.


"Tidak perlu kamu selesaikan semuanya, kamu kerjakan sebisamu saja ya," ujar Manajer Andi.


"Ya Pak Andi," kata Almira.


Manager Andi pamit pulang pada ketiga stafnya. Tak lama dua staf lainnya juga minta izin pulang karena ada keperluan mendadak dan kepentingan keluarga. Tinggal Almira sendiri di ruangan akunting. Dia mengerjakan pekerjaan yang diamanahkan Pak Andi.


Di sisi lain, Evander masih menunggu Almira pulang. Sendari tadi dia bolak balik di depan ruangan akunting untuk melihat Almira, karena sudah sepi tinggal Almira saja, Evander masuk ke ruangan akunting. Evander berjalan menghampiri Almira lalu berbicara padanya.


"Almira belum pulang?" tanya Evander.


"Belum Presdir, ada laporan keuangan yang harus dikerjakan. Tadi Manajer Almira memintaku untuk mengerjakan laporan keuangan ini," jawab Almira.


"Coba lihat," pinta Evander sambil mengecek laporan keuangan itu. Evander membungkukkan tubuhnya untuk melihat laptop yang ada di depan Almira. Jarak tubuh Almira dan Evander berdekatan. Saat Evander menoleh ke samping, dia tak sengaja memandang wajah Almira. Sejenak lamunannya jauh ke belakang. Mungkin mereka bisa saja bersama seandainya dulu Evander tidak nenutup pintu hatinya.


"Presdir!" panggil Almira.


Seketika Evander terbangun dari lamunannya. Dia kembali mencoba berbicara pada Almira.


"Almira biar ku bantu mengerjakan laporan keuangannya," kata Evander.


"Tapi Evankan Presdir di sini. Dan ini pekerjaan bawahan," terang Almira.


"Tidak apa-apa, sudah lama aku tidak mengerjakan laporan keuangan, sekalian mengecek langsung kinerja bawahanku," ujar Evander.


"Baik, terimakasih Presdir," sahut Almira.


Evander duduk di kursi, begitupun Almira yang juga duduk tak jauh darinya. Sebelum memulai pekerjaannya, Evander melepas jas yang dikenakannya, sebuah kemeja putih bergaris biru tipis hampir tak tampak, itu yang dikenakannya di dalam jas. Dia melipat lengan kemejanya sampai siku, lalu mulai mengerjakan laporan keuangan itu.


"Presdir, apa anda mau minum kopi?" tanya Almira.


"Boleh, tapi panggil aku Evander ya Almira, seperti biasa," sahut Evander.


Almira mengangguk. Dia membuatkan Evander kopi untuknya lalu membawa kopi ke mejanya. Segera Evander meminum kopi buatan Almira. Dia menikmati setiap tegukan demi tegukan. Rasa kopi itu bak nostalgia untuknya.


"Rasanya masih sama seperti dulu saat kau membuatkanku kopi pertama, jadi inget saat kita menikah dulu," ujar Evander.


"Benarkah?" tanya Almira.


"Iya," jawab Evander.

__ADS_1


"Ternyata Evander masih mengingat masa lalu kami saat menikah dulu," batin Almira.


Evander melanjutkan pekerjaannya, sambil melihat laptop yang ada di depan matanya, sesekali Evander menoleh ke samping, Almira terlihat memperhatikannya yang sedang bekerja.


Di mata Almira, Evander seperti seorang pekerja keras dan pintar. Dari dulu Evander memang selalu bertanggungjawab dan disiplin pada pekerjaan. Tak jarang membawa pulang pekerjaannya ke rumah.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Evander selesai mengerjakan laporan keuangannya. Dia menoleh ke samping, melihat Almira.


"Nah Almira laporan keuangannya sudah selesai," ucap Evander.


"Terimakasih Evan," sahut Almira.


"Ya, kalau begitu ayo pulang," ajak Evander.


Almira mengangguk.


Evander dan Almira mengakhiri pekerjaannya lalu mereka keluar dari ruangan akunting. Mereka berjalan bersama turun ke lantai dasar, keluar dari perusahaan. Saat mereka berjalan menuju parkiran mobil, hujan turun. Evander langsung memayungi Almira dengan jas miliknya.


"Evan nanti jasmu basah," ucap Almira.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu tidak kehujanan Almira," sahut Evander.


"Terimakasih," ucap Almira.


Evander hanya mengangguk.


"Almira pakei jaket ini, hawanya dingin," ucap Evander sambil memberikan jaket miliknya yang ada di mobil kepada Almira.


"Iya, terimakasih Evan," sahut Almira sambil menerima jaket itu.


Evander mengangguk. Dia tersenyum manis pada Almira. Senyuman yang jarang diperlihatkan Evander padanya sebelumnya.


"Evan terlihat hangat, berbeda dari sebelumnya," batin Almira. Dia memakai jaket yang diberikan Evander padanya, kemudian Evander mengendarai mobilnya untuk mengantarkan Almira pulang ke rumahnya.


\*\*\*


Sakira terpaksa ikut kelas malam hari ini karena siang tadi mengantarkan ibunya chek up. Setelah pukul 10 malam kuliahnya berakhir, Sakira keluar dari ruang kelasnya. Dia berjalan keluar dari area kampus. Baru sampai di depan pintu masuk kampusnya, Sakira baru ingat ada bukunya tertinggal di ruang kelasnya. Sakira kembali masuk ke kampus dan masuk ke ruang kelasnya. Saat dia mau mengambil bukunya, ada kecoak di dekat bukunya. Sakira langsung berteriak dan berlari keluar dari ruang kelasnya lalu dia menabrak seseorang yang berjalan. Orang itu hampir terjatuh untung masih bisa menjaga kestabilannya. Orang itu ternyata adalah Devan, mantan suami ketiga Almira.


"Sakira," ucap Devan.


"Kak Devan," kata Sakira.


"Kenapa kamu kok lari-lari ketakutan?" tanya Devan.


"Itu Kak Devan, aku mau ngambil bukuku yang tertinggal di meja, tapi ada kecoak di buku itu, aku takut," ujar Sakira.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengambilkan bukumu," ucap Devan.


Sakira mengangguk.


Devan berjalan masuk ke dalam kelas, Sakira membuntuti Devan dari belakang. Dia melihat Devan mengambilkan bukunya dan memberikannya pada Sakira.


"Makasih Kak Devan, maaf aku sudah merepotkanmu," ucap Sakira.


"Gak apa-apa, aku senang bisa membantumu," sahut Devan.


Sakira menganggguk.


"Apa kau takut kecoak?" tanya Devan.


"Iya. Aku paling takut kecoak," ungkap Sakira.


"Ooh ..., oya kamu kok malam-malam gini masih di kampus?" tanya Devan.


"Aku ikut kelas malam Kak," jawab Sakira.


"Kalau begitu, ayo ku antarkan kau pulang, sudah malam tidak baik naik angkutan umum," ajak Devan.


"Terimakasih Kak Devan," sahut Sakira.


"Iya," jawab Devan.


Mereka berdua berjalan berdua menuju ke parkiran kampus, lalu Sakira duduk di kursi depan bersampingan dengan Devan.


"Aduh kok susah seat belt nya ya," ucap Sakira.


"Biar ku bantu pasangkan," kata Devan. Dia membantu Sakira memasang seat belt itu. Dari dekat Sakira memperhatikan wajah Devan.


"Kak Devan kalau dari dekat gini ganteng banget, baik lagi orangnya," batin Sakira.


Selesai memasangkan seat belt, Devan mengendarai mobilnya. Baru beberapa menit berjalan, Suara perut Sakira yang keroncongan terdengar oleh Devan.


"Kamu lapar Sakira?" tanya Devan.


"Iya Kak Devan, tadi sore belum makan," jawab Sakira.


"Kalau begitu kita mampir di kedai soto di jalan Hayammuruk, bagaimana kamu mau gak?" tanya Devan.


"Mau Kak," jawab Sakira.


"Oke," sahut Devan.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan ke luar kampus. Lalu naik bus menuju tempat yang dimaksud. Ini pertama kalinya Sakira jalan bersama mantan suami kakaknya.


__ADS_2