Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Membuntuti Mantan


__ADS_3

Almira turun ke bawah dengan naik lift. Sore ini semua pekerjaannya sudah selesai. Evander mencari Almira ke ruangannya untuk mengajaknya pulang bersama tapi ternyata Almira sudah tidak ada di ruangan kerjanya. Dia berjalan menuju lift turun ke lantai dasar. Terlihat Almira berjalan keluar dari perusahaan. Evander terus mengikutinya hingga Almira naik ke bus. Dia ikut naik ke bus melalui pintu belakang, Evander berdiri di lorong dekat kursi belakang mencari keberadaan mantan istrinya, ternyata Almira duduk di kursi depan bus sedangkan Evander berjarak empat kursi dari tempat Almira duduk.


Evander mengambil handphone di sakunya, menyalakan layar handphonenya dan menelpon asisten Soni.


"Hallo Soni."


"Iya Presdir."


"Tolong bawakan aku satu mobil perusahaan ke Jl. Bunga Angger No 10 Kota Mekar Harum ya."


"Baik Presdir."


Setelah menelpon Soni, Evander masih memperhatikan Almira dari jauh. Bus itu berhenti di halte bus tak jauh dari komplek tempat tinggal Almira, segera Almira turun dari bus begitupun dengan Evander, ikut turun dan mengikuti Almira dari belakang. Evander melihat Almira sedang mengobrol dengan seorang nenek-nenek tua yang berdagang kerupuk.


"Nek, apa sedang sakit?"


"Iya nak, nenek sedang sakit."


"Mari Almira antar ke rumah sakit." Almira tak tega melihat nenek tua penjual kerupuk terlihat pucat dan sesekali memegang keningnya.


"Tidak usah nak, nenek harus tetap berdagang. Cucu nenek di rumah menunggu nenek pulang membawa uang."


Almira iba saat mendengar ucapan nenek penjual kerupuk itu. Dia kasihan melihat nenek tua yang sedang sakit tetap berjualan demi cucunya.


"Bagaimana kalau dagangannya Almira beli lalu kita pulang ke rumah, biar Almira antar."


"Terimakasih nak, kamu baik sekali. Dari pagi nenek duduk di sini tapi tak seorangpun mau membeli dagangan nenek."


"Ya sudah, mari nek kita pulang."


Evander kagum melihat Almira begitu baik pada orang yang sedang kesusahan. Dia semakin yakin untuk mengejar Almira kembali. Baginya kini Almira adalah wanita yang begitu istimewa. Dia tak ingin menyesal dikemudian hari. Apalagi saingannya ada tiga orang, dia harus bekerja lebih keras lagi untuk mendekati Almira.


Evander masih mengikuti Almira dari jauh. Almira masuk ke gang sempit menuju rumah nenek itu. Rumah nenek itu gubuk reyot di antara bangunan-bangunan kokoh di sampingnya. Almira sampai meneteskan air mata saat melihat rumah nenek itu. Rumah yang mungkin hampir roboh, tak layak huni, tapi nenek tua itu tak memiliki uang untuk memperbaikinya, lebih baik untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, itupun sulit di dapatnya.


Almira masuk ke dalam rumah itu bersama nenek tua itu. Evander hanya menunggunya di luar dan mencoba menanyakan kondisi nenek tua itu pada tetangganya. Di rumah itu, nenek memiliki dua cucu laki-laki yang berusia 10 tahun dan 8 tahun. Nenek hanya tinggal bertiga bersama cucunya. Rumah itu jauh dari kata layak. Rumah yang dindingnya hanya bilik bambu dan sudah usang, atap gentingnya banyak yang pecah, mungkin saat hujan pasti bocor ke dalam rumah. Tak ada satupun barang berharga di rumah itu. Bahkan tak ada kasur untuk berbaring. Hanya sebuah tikar usang yang terhampar di lantai tanah.


"Ya Allah, ternyata kehidupanku jauh lebih baik. Alhamdulilah. Terkadang sebagai manusia, aku selalu merasa kurang dan menginginkan hal yang lebih. Tapi saat melihat ini, aku merasa tertampar. Di luar sana mungkin masih banyak lagi yang seperti ini. Terimakasih Ya Allah sudah membukakan mata hatiku dan membuatku jauh lebih bersyukur lagi atas semua nikmat yang kau berikan," batin Almira. Dia duduk di tikar dengan nenek tua itu dan berbincang.


"Nek, anak nenek kemana?"


"Anak nenek sudah meninggal, nenek hanya punya dua cucu ini yang selalu menemani nenek."

__ADS_1


Almira mengelus dadanya. Untuk nenek setua itu masih harus bekerja demi menafkahi cucunya. Yang seharusnya dia sudah istirahat di hari tuanya tapi justru masih harus memikirkan hari esok makan apa untuk cucunya. Mata Almira berkaca-kaca, hatinya terasa sakit dengan penuturan nenek itu.


"Jadi orangtua mereka sudah meninggal ya nek" ucap Almira.


"Ya, mereka yatim piatu. Terkadang nenek takut suatu hari nanti akan pergi meninggalkan mereka selamanya. Siapa yang akan merawat mereka?"


Almira langsung meneteskan air matanya, dia tak mampu membendung rasa sedihnya dan memeluk nenek itu. Dia terharu dengan cerita nenek itu, mungkin jika dia diposisi nenek itu, apa dia sanggup atau justru akan mengeluh dan menangis.


"Nenek harus tetap sehat dan kuat biar bisa terus menjaga dan merawat cucu nenek."


"Iya, terimakasih nak sudah mau berkunjung ke gubuk kami."


Almira dan nenek tua itu berbincang banyak hal, baik kehidupan nenek ataupun kehidupan Almira. Setelah berbincang dengan nenek itu, Almira memberikan amplop pada nenek yang berisi uang 2 juta dari tasnya, uang itu tadinya untuk membeli keperluan Almira selama satu bulan tapi Almira bisa berhemat kalau untuk biaya pribadinya. Almira memang tak punya banyak uang di tabungan tapi dia ingin bisa meringankan beban nenek tua itu.


"Nak, ini uangnya terlalu banyak. Kerupuk nenek paling harganya cuma 100 ribu, ini kebanyakan nak," ucap nenek sambil melihat isi amplop yang diberikan Almira.


"Nek sisanya untuk nenek dan kedua cucu nenek, semoga bermanfaat."


"Terimakasih nak, semoga rejekimu lancar dan mendapatkan jodoh yang terbaik."


"Amin, sama-sama Nek, Almira pamit pulang dulu ya nek."


"Iya, hati-hati di jalan Nak."


"Wa'alaikumsallam."


Almira keluar dari rumah nenek, berjalan meninggalkan tempat itu. Dia tak menyadari keberadaan Evander yang berada tak jauh darinya, setelah Almira pergi, Evander langsung membalikkan badannya. Dia melihat Almira terus berjalan menuju ke arah rumahnya.


Karena Evander sudah tahu kondisi nenek itu dari tetangganya, dia langsung menelpon asisten Soni.


"Hallo Soni, kamu di mana?"


"Di jalan Presdir, bawa mobil yang anda pesan."


"Soni langsung ke alamat yang saya shareloc, saya menunggu di sini, tapi perkirkan mobil di mini market yang ada di jalan raya. Tempatnya berada di gang yang sempit, mobil tidak bisa masuk."


"Baik Presdir."


Evander menunggu Soni di depan gubuk reyot milik nenek tua itu. Tak lama Soni datang, Evander langsung berbicara padanya.


"Soni tolong carikan pemborong bangunan untuk merenovasi gubuk reyot ini. Pokoknya harus layak untuk ditempati, saya tunggu hasilnya nanti. Kamu pulang naik taksi, saya ada urusan lain."

__ADS_1


"Baik Presdir."


Evander keluar dari gang sempit itu untuk mengambil mobil perusahaannya. Mobil pribadinya ada di perusahaan. Evander mengendari mobilnya ke gang rumah Almira a. Dia hanya diam di mobil ragu untuk turun. Matanya memperhatikan rumah Almira.


Sementara itu di dalam rumah, Almira mandi dan berganti pakaian, kemudian dia menelpon Sakira untuk mengajaknya menemani makan malam di rumah Rey.


"Hallo Sakira."


"Kak Almira ada apa?"


"Kamu belum pulang?"


"Belum kak, lagi di rumah teman ngerjain tugas kelompok dari Dosen."


"Oo ..., ya sudah, hati-hati di jalan kalau pulang."


"Oke Kak."


Almira menutup telponnya, mungkin dia harus ke rumah Rey sendiri tanpa ditemani Sakira. Dia berganti pakaian mengenakan dress berwarna navi. Tak lama mobil Rey sampai di depan jalan rumah Almira. Dia turun dari mobil itu menuju ke teras rumah. Evander yang berada di dalam mobil melihat kedatangan Rey.


"Itu siapa ya? bukan Sultan ataupun Devan, tapi siapa?"


Evander mengambil handphone di saku jasnya dan langsung menelpon agen bayarannya.


"Hallo Bos."


"Kemarin kau bilang ada seorang anggota polisi bernama Rey yang datang ke rumah Almira, iyakan?"


"Benar Bos, ini juga saya masih mencari tahu latarbelakang Rey dan hubungannya dengan Almira."


"Kau memiliki foto Rey?"


"Ada Bos."


"Tolong kirimkan ke saya. Dan lanjutkan pekerjaanmu."


"Baik Bos."


Evander langsung menutup telponnya. Tak lama Agen bayaran itu mengirimkan foto Rey, Evander langsung melihat foto Rey.


"Benar, orang yang datang ke rumah Almira itu Rey. Sial, aku harus bersaing dengan tiga rival sekaligus. Mana mereka bukan orang biasa dan memiliki peranan penting dihidup Almira. Aku harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Almira."

__ADS_1


Evander hanya menunggu di dalam mobilnya. Dia melihat Rey yang berdiri di teras rumah Almira, tak bisa berbuat apapun, dia tak mungkin turun dan menghentikan Rey datang ke rumah Almira, tapi rasa cemburu dan takut kehilangan Almira berkecamuk di hatinya.


__ADS_2