
Evander masuk kembali ke ruangan kerjanya. Hatinya merasa lega setelah memberi tahukan kebenaran Almira pada seluruh karyawannya. Dia tidak ingin ada yang akan membicarakan hal buruk lagi tentang Almira. Orang boleh menghinanya tapi tidak pada Almira, terlalu banyak rasa sakit yang sudah dia rasakan saat menikah dengannya, Evander tak ingin Almira tersakiti karena keegoisannya lagi yang mementingkan dirinya sendiri. Baginya sekarang bisa memperbaiki kesalahannya dan kembali bersama Almira.
Evander duduk di kursi kerjanya, lalu menelpon asisten Soni. Tak lama Soni masuk ke ruangan kerjanya.
"Presdir memanggil saya?" tanya Soni.
"Iya," jawab Evander.
"Ada tugas yang harus saya kerjakan?" tanya Soni.
"Soni panggil Yudi, Budi dan Doni ke ruangan saya," ucap Evander.
"Baik Presdir," jawab Soni. Dia keluar dari ruangan Evander menuju ke ruang akunting. Dia memanggil Yudi, Budi dan Doni yang sedang duduk di kursi kerja mereka.
"Yudi, Budi, dan Doni dipanggil Presdir ke ruangannya," ujar Soni.
"Baik," jawab mereka secara bersamaan.
Setelah memanggil Yudi, Budi dan Doni, Soni pergi meninggalkan ruangan akunting. Sementara itu mereka bertiga berjalan menuju ruangan Presdir, sepanjang jalan mereka berbincang.
"Aduh, ada apa nih kok Predir memanggil kita?" tanya Yudi.
"Iya, perasaanku jadi gak enak," tambah Budi.
"Ayo kita ke ruangan Presdir secepatnya," ajak Doni.
Mereka bertiga cemas. Tidak biasanya Bos memanggil ke ruangannya. Mereka bertiga berjalan menuju ke ruangan kerja Evander. Asisten Soni yang sudah memunggu mereka, segera mengantarkan mereka masuk.
"Presdir ini mereka sudah datang," ucap Soni.
"Terimakasih Soni, kau boleh keluar," ujar Evander.
"Baik Presdir," sahut Soni.
Mereka bertiga hanya berdiri di depan meja Evander dan menundukkan kepalanya. Aura dingin Tristan membuat mereka takut. Hal buruk akan terjadi dan mereka tak bisa mengelaknya. Apa yang terjadi sekarang tak seberani saat mereka membicarakan Almira, nyalinya ciut di depan Bosnya. Evander langsung mengawali pembicaraan.
"Kalian bertiga sudah punya istri?" tanya Evander.
"Sudah Presdir," jawab mereka bertiga.
"Lalu apa yang kalian kemarin bicarakan, seolah kalian ini lelaki yang kesepian dan tidak memiliki pasangan," ujar Evander.
"Maaf Presdir," kata mereka bertiga.
__ADS_1
"Siapa yang pantas disebut kesepian dan kurang belaian? kalian atau Almira?" tanya Evander dengan tatapan tajam. Dia tidak suka Almira diejek ketiga stafnya. Karena Evander tahu Almira bukan wanita seperti itu.
"Kami Presdir," jawab mereka bertiga.
"Lain kali jika mulut kalian tidak bisa berkata baik, aku akan melempar keluar kalian dari perusahaan ini dan memasukkan kalian ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik, dengar itu!" ancam Evander.
"Baik Presdir," jawab mereka bertiga.
"Mulai besok kalian aku mutasi ke bagian lain, dan jabatan yang sekarang kalian pegang, aku turunkan," ujar Evander.
"Maafkan kami Predir," pinta mereka bertiga dengan wajah memelas.
"Lain kali dipikir dulu kalau ingin bicara, jangan asal berbicara jika itu tidak benar," ucap Evander.
"Baik Presdir," sahut mereka bertiga.
"Keluar dari ruanganku sekarang!" perintah Evander.
"Baik," jawab mereka bertiga.
Yudi, Budi dan Doni keluar dari ruangan Evander. Evander tak habis pikir mereka membicarakan hal buruk tentang Almira, cuma karena gosip murahan. Evander kembali memanggil Soni ke ruangannya. Segera Soni masuk ke ruangan Evander.
"Soni cari tahu, siapa yang menyebarkan gosip tentang Almira janda," ujar Evander.
"Baik Presdir," jawab Soni.
"Baik Predir," jawab Soni.
Setelah itu Soni keluar. Evander ingin tahu siapa orang yang menyebarkan gosip ini. Dia ingin menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya. Biar tidak ada lagi yang akan menjatuhkan nama baik Almira lagi.
\*\*\*
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Almira sudah mengemasi barang-barang miliknya ke dalam tasnya. Teman-temannya sudah pada pamit pulang duluan. Ruangan akunting sudah sepi. Almira masih membereskan berkas-berkas di mejanya. Dan mengsave data-data laporan keuangan di laptopnya. Tiba-tiba Evander masuk ke ruangan akunting. Dia menghampiri Almira.
"Adelia kau belum pulang?" tanya Evander.
"Ini baru mau pulang," jawab Almira.
"Bolehkah aku mengantarmu pulang?" tanya Evander. Walaupun Evander sulit mengucapkan kata itu, tapi kali ini dia harus bisa lebih intens. Saingannya ada tiga orang, dia tidak boleh berdiam diri apalagi bersantai. Jangan sampai Almira jatuh ke tangan para rivalnya.
"Tapi aku mau menjenguk Qisya dulu," ucap Almira.
"Siapa Queenza?" tanya Evander.
__ADS_1
"Anaknya Mas Devan," jawab Almira.
"Ooo ... tidak masalah, aku akan mengantarmu ke rumah Devan," ucap Evander. Dia tidak akan membiarkan Almira pergi sendiri. Bisa saja momen ini dimanfaatkan mantan suami ketiga untuk pedekate dengan Almira. Kawal terus jangan mundur, itu yang ada dipikiran Evander.
"Apa tidak merepotkanmu Evan?" tanya Almira.
"Tidak, ayo turun!" ajak Evander.
"Iya," ucap Almira.
Evander dan Almira berjalan berdua keluar dari perusahaan itu. Maya melihat mereka jalan berdua. Dia kesal sekali melihat kedekatan Evander dan mantan istrinya Almira.
"Sialan Almira, dia mencoba menggoda Evan lagi, dia sepertinya ingin merebut Evan dariku, awas saja kamu Almira!" gumam Maya.
"Hei Maya kamu ngapain diam di sini?" tanya Lina.
"Itu si Almira udah menggoda Evan lagi," jawab Maya.
"Posisimu sekarang susah Maya, dia itukan mantan istrinya Presdir, tentu sudah banyak hal indah dan romantis yang mereka lalui bersama sebelumnya. Presdir tentu lebih memilih Almira, maaf realitis aja," ucap Lina. Dia tidak mau cari masalah dengan Almira. Bisa saja posisinya akan terancam jika berurusan dengan mantan istri Bosnya.
"Kamu kok gak dukung aku, malah belain Almira," ucap Maya.
"Aku sekarang gak mau terlibat, repot kalau urusannya sama Presdir. Bisa dipecat gue kalau ganggu Almira. Sorry ya untuk yang satu ini. Dah ... gue pulang dulu," ucap Lina. Dia sudah tidak mau membantu Maya lagi. Dia lebih memilih mengamankan posisinya di perusahaan, tapi Sasa tetap tidak mau menyerah, dia tetap ingin mendapatkan Evander.
"Apapun caranya aku akan mendapatkan Evander dan menyingkirkanmu Almira," ujar Maya.
***
Devan menemani Queenza yang sedang demam. Dia terus menanyakan Almira, Devan berusaha menghibur anak semata wayangnya, dia tahu Queenza membutuhkan sosok ibu yang selalu menyayanginya dan merawatnya, meskipun Irfan sudah berusaha menjadi ayah sekaligus ibu tapi tetap saja, dia tak bisa menjalin kedekatan seperti Almira dan Quuenza.
"Papa, Mama Almira kapan ke sini?"
"Insya Allah Mama Almira akan ke sini, mungkin lagi di jalan."
"Queenza kangen Mama Almira."
"Iya sayang, sekarang Queenza istirahat dulu, nanti kalau Mama Almira sudah sampai Papa bangunkan."
"Iya Pa." Suara Queenza terdengar pelan, mukanya pucat, dan bibirnya pecah-pecah. Dia terlihat lemas dan berdaya, tak seperti biasanya.
Queenza mulai tertidur. Devan menyelimutinya dengan selimut tipis, lalu mencium kening putri kesayangannya.
"Mama Almira pasti datang, Papa tahu kau sangat ingin bersamanya, maafkan Papa."
__ADS_1