
Evander mengantarkan Almira pulang ke rumahnya. Sampai di depan rumah Almira, Evander ikut turun bersamanya. Almira masuk ke dalam rumahnya bersama Evander. Ningsih sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Evander langsung mengucapkan salam. Dari dulu walau sikapnya acuh, cuek dan tidak peduli dengan Almira saat menikah dulu tapi Evander selalu menghormati Ningsih.
"Nak Evan, terimakasih sudah mengantarkan Almira pulang," ucap Ningsih.
"Iya Bu ..., Papa tadi titip salam untuk Ibu dan Sakira," sahut Evander.
"Oya, titipkan salam Ibu juga untuk Papamu nak," ucap Ningsih.
"Baik, saya sekalian pamit untuk pulang. Selamat malam Ibu dan Almira," sahut Evander.
"Malam," jawab Almira dan Ningsih bersamaan.
Evander meninggalkan rumah Almira dengan perasaan yang senang. Sementara itu di dalam rumah, Ningsih mengajak Almira mengobrol berdua. Dia tahu akhir-akhir ini ketiga mantan suami Almira itu terlihat dekat dengan putrinya lagi. Dia ingin tahu perkembangan hubungan putrinya dengan ketiga mantan suaminya.
"Almira, Ibu lihat ketiga mantan suamimu mulai mendekatimu lagi. Ibu tidak melarangmu dekat dengan mereka. Hanya saja ini akan jadi dilema untukmu. Biar bagaimanapun mereka pernah ada di hidupmu. Jika kau sudah tahu arahmu harus kemana, segera tentukan! Tapi bila kamu punya pilihan lain segeralah mengambil keputusan!" ujar Ningsih. Dia tidak ingin putrinya bersedih lagi. Ningsih ingin Almira bahagia.
"Ibu aku belum siap menjalin hubungan dengan siapapun dulu. Aku ingin merawat Ibu dan menyekolahkan Sakira dulu," ucap Almira.
"Mereka dulu yang menceraikanmu, sekarang mereka mengejarmu. Ibu lihat seorang polisi yang namanya Rey itu juga menyukaimu. Kau pasti berada dalam dilema yang sulit nantinya. Mereka akan berusaha mengejarmu, hari-harimu ke depan mungkin akan dipenuhi persaingan mereka," ucap Ningsih. Kini putrinya dikejar empat laki-laki sekaligus. Tiga mantan suami dan satu orang fans beratnya.
"Ibu tidak boleh banyak pikiran ya, biar Almira yang menyelesaikan permasalahan ini. Ibu sudah minum obat?" tanya Almira.
"Sudah," jawab Ningsih.
"Kalau begitu, Almira antar Ibu ke kamar ya?" tanya Almira.
"Ya nak," jawab Ningsih.
Setelah mengantar Ibunya, Almira masuk ke kamarnya. Ternyata Sakira sudah ada di dalam kamar Almira menunggu kakaknya bercerita tentang makan malamnya dengan Evander. Dia ingin tahu apa yang terjadi saat makan malam itu.
"Kakak akhirnya pulang juga," ucap Sakira.
"Kamu kok ada di kamar kakak duluan?" tanya Almira.
"Iya dong, kak tadi ngapain aja sama kak Evander, jangan-jangan dia mengajak kakak nikah lagi ya?" Sakira menggoda kakaknya.
__ADS_1
"Tidak, hanya makan malam biasa, lalu dia ....," sahut Almira malu jika memberitahu perihal di rumah kaca itu.
"Dia apa kak? dia menyiapkan hal yang romantis buat kakak ya?" tanya Sakira sambil tersenyum.
Dia bisa melihat ekspresi malu-malu kakaknya saat berbicara soal makan malam bersama mantan suami keduanya.
"Kok kamu tahu?" tanya Almira.
"Udah keliatan dari kemarin, ketiga mantan suami kakak itu pada ngejar kakak lagi. Pasti mereka akan melakukan berbagai cara agar hati kakak luluh dan mau kembali lagi pada mereka," jawab Sakira.
Almira hanya diam. Memang akhir-akhir ini ketiga mantan suaminya berusaha mendekatinya. Dia bisa merasakan perubahan sikap mereka padanya.
"Udah, dari pada bingung milih di antara ketiga mantan suami kakak lebih baik milih Kak Rey, masih baru dan jelas-jelas mencintai kakak. Dia sampai nunggu bertahun-tahun lamanya untuk kakak. Mana ada coba yang mencintai seseorang begitu lama," ucap Sakira.
"Aku ... aku ingin tidur Sakira capek," ucap Almira langsung berbaring di ranjangnya.
"Ah, kakak gak asyik masih jam segini udah tidur," ucap Sakira.
Almira memilih tidur dari pada diintrogasi adiknya yang tiada habisnya. Belum lagi dia suka menjodoh-jodohkan Almira. Dan kekepoannya pada hubungan Almira dan ketiga mantan suaminya itu, membuat Almira lebih memilih tidur saja.
Almira memakai pakaian kerjanya, bersiap berangkat kerja. Tak lupa mengenakan hijab yang menutup rambut indahnya. Almira memang jarang tampil aneh-aneh. Dia sangat sederhana dan tidak banyak maunya. Selama menikah dengan ketiga mantan suaminya, Almira tak pernah minta barang apapun pada mereka. Merekalah yang memberikannya padanya. Almira berpamitan dengan Ibunya, lalu berjalan bersama Sakira keluar dari rumahnya. Di depan jalan rumahnya ada Sultan dan Rey yang sudah menunggu Almira.
"Kak nah loh, dua kompetitor udah ada di depan. Bingung-bingung deh kakak milih yang mana, aku cabut dulu. Gak mau terlibat ah ...," ucap Sakira langsung kabur berangkat sendiri.
"Sakira!" panggil Almira pada Sakira yang meninggalkannya tapi Sakira tetap berjalan meninggalkannya.
Almira yang masih terdiam di teras rumahnya melihat Sultan dan Rey yang saling memandang. Dia bingung harus bagaimana menghadapi mereka. Perlahan Almira mulai berjalan mendekati mereka.
"Kak Sultan, Rey, selamat pagi," sapa Almira.
"Pagi," sapa Sultan dan Rey bersamaan.
"Almira, ayo kuantar berangkat kerja!" ucap Rey dan Sultan bersamaan.
Almira bingung mereka menawari hal yang sama.
__ADS_1
"Saudara Rey sepertinya sebentar lagi Anda bertugas, lebih baik saya yang mengantarkan Almira bekerja, karena saya masuk kerja jam 10 pagi," ucap Sultan. Dia berusaha menggagalkan niatan Rey.
"Tidak apa-apa, masih sempat kalau hanya mengantar Almira ke perusahaannya, kebetulan saya juga sedang memimpin rajia di sekitar jalan dekat perusahaan Almira," ucap Rey. Dia tak mau kalah dengan rivalnya.
"Kalau begitu sebagai pimpinan sudah seharusnya anda datang lebih pagi untuk memberi contoh pada bawahan anda," saran Sultan.
"Tidak masalah ini masih pagi, perjalanan ke perusahaan Adelia paling hanya 30 menit naik mobil pribadi," sahut Rey.
Almira bingung mereka terus berdebat satu sama lain, dua-duanya tak ada yang mengalah.
"Tapi saya lebih dulu sampai di rumah Almira, berarti sayalah yang akan mengantarkan Adelia berangkat kerja," ucap Sultan.
"Belum tentu, Almira belum memilih siapa yang akan mengantarkannya berangkat kerja. Bagaimana Almira siapa yang kau pilih?" tanya Rey.
"Maaf Kak Sultan, Rey, saya naik bus saja, sampai jumpa," jawab Almira. Dari pada bingung memilih lebih baik naik bus.
Almira meninggalkan mereka yang terus berdebat. Daripada bingung memilih lebih baik berangkat naik bus lebih mengamankan hati dan pikiran. Almira berdiri di halte bus, lalu bus berhenti tepat di halte bus. Almira naik ke dalam bus, dia mencari tempat duduk yang kosong. Ada satu tempat duduk yang kosong, di sampingnya seorang laki-laki yang menutup mukanya dengan topi. Almira duduk di samping laki-laki itu.
"Maaf mas, saya duduk di sini," ucap Almira menyapa orang di sampingnya.
Orang itu langsung membuka topinya yang menutupi mukanya karena sedang tidur. Setelah topi itu dibuka ternyata itu Devan mantan suami ketiga Almira.
"Almira," ucap Devan.
Almira terkejut menatap lelaki yang duduk di sampingnya, ternyata mantan suami ketiganya. Hari yang tidak bisa ditebak sepagi ini sudah bertemu tiga lelaki yang sama-sama mengejarnya.
"Mas Devan? kok naik bus?" tanya Almira.
"Tadi mobilku mogok, jadi aku memutuskan naik bus," jawab Devan.
"Oh ..., gimana kabar Queenza?" tanya Almira.
"Queenza sedang sakit tipes, beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Dia selalu mengigau memanggil namamu Almira. Maaf, bisakah pulang bekerja nanti menjenguk Queenza? dia pasti senang sekali bertemu denganmu Almira," jawab Devan.
"Insya Allah, nanti sepulang bekerja aku akan menjenguk Queenza," ucap Almira.
__ADS_1
Almira setuju untuk menjenguk Queenza yang sedang sakit. Sepertinya Almira tidak bisa lari dari ketiga mantan suaminya yang akan terus menghantuinya setiap hari demi persaingan sengit mendapatkan Almira.