
Sakira melihat Almira yang baru saja datang. Dia dan Rey yang tadinya duduk, langsung bangun.
"Assalamu'alaikum." Almira dan Sultan menyapa Sakira dan Rey.
"Wa'alaikumsallam," jawab keduanya.
"Kak Almira pas banget udah pulang, kak ini Kak Rey," ucap Sakira memperkenalkan Rey pada Almira.
Seketika Almira menoleh ke arah Rey yang berdiri di samping Sakira.
"Almira, perkenalkan saya Rey Rahardian," ucap Rey memperkenalkan diri pada Almira.
"Saya Almira Benazir," jawab Almira.
Sultan menatap lelaki yang ada di depannya. Dia mulai menyadari lelaki itu juga menginginkan Almira, sekarang total rival menjadi tiga. Semakin sulit jalannya untuk jadi winner.
"Eh ada kak Sultan juga," kata Sakira.
"Iya, selamat sore Sakira," sapa Sultan.
"Sore Kak Sultan," balas Sakira.
Rey menatap Sultan, dia merasa lelaki di samping Almira memiliki tujuan yang sama dengannya. Jalannya untuk mendekati Almira tak akan mudah.
"Kak Rey, ini lho mantan suami pertama kak Almira, Kak Sultan namanya," ucap Sakira memperkenalkan Sultan pada Rey.
"Perkenalkan saya Sultan Aliansyah mantan suami pertama Almira," ucap Sultan.
"Saya Rey, senang bertemu dengan anda," ucap Rey.
Sultan berpikir pedekatenya kali ini harus ditunda dulu, percuma mendekati Almira di saat ada orang lain seperti ini. Dia harus menyusun strategi lainnya yang lebih jitu.
"Almira, saya pamit pulang dulu," ucap Sultan pada Almira.
"Iya Kak Sultan," jawab Almira.
"Semuanya saya pamit pulang dulu," ucap Sultan.
"Iya," jawab Sakira dan Rey.
Sultan meninggalkan tempat itu, walaupun sedikit kecewa karena sudah bersusah payah naik busway tapi ternyata ada yang menunggu Almira di rumah. Gagal pedekatenya, harus nunggu lain waktu.
Setelah Sultan pergi, Sakira mengajak Rey dan Almira masuk ke dalam rumah. Sakira duduk di sofa ruang tamu bersama Rey, sedangkan Almira mandi dan berganti pakaian. Sakira mengajak Rey mengobrol, dia menceritakan semua yang dia tahu tentang mantan suami Almira pada Rey.
"Kak Rey buruan star deh, liatkan tadi mantan suami pertama kak Almira. Itu baru mantan suami suami pertama, masih ada dua lagi. Kalau kak Rey bersantai saja, mereka bisa mengambil kak Almira lagi. Memangnya mau sampai kapan kak Rey menunggu kak Almira. Aku saja tak sanggup menahan cinta mendalam selama bertahun-tahun lamanya," ucap Sakira.
"Iya, kali ini aku tidak akan diam saja. Sudah sangat lama aku memendam perasaan pada Adelia. Kali ini aku akan memperjuangkan cintaku untuknya," sahut Rey.
"Nah gitu dong, hanya kak Rey yang pantas dengan kak Almira. Mereka itu pernah menyakiti hati kak Almira, aku takut jika kak Almira kembali dengan mereka akan sakit hati lagi," ucap Sakira.
"Aku tidak akan membiarkan Almira terluka lagi," kata Rey.
Mereka terus berbincang, Sakira menceritakan semua hal tentang Almira. Dari makanan favoritnya sampai hal-hal kecil pada Rey. Agar Rey bisa mencari cara untuk mendekati Almira dengan tepat.
Flash Back
Rey bersiap berangkat ke sekolah, saat itu dia duduk di bangku SMA. Rey anak yang rajin, pintar, baik, sabar, ramah, peyayang dan pekerja keras. Dia selalu mandiri untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya, karena Rey tidak mau menyusahkan ibu kesayangannya. Ibu Rey bernama Rani Astuti. Dia seorang single parent membesarkan Rey sendirian. Rey berpamitan untuk berangkat sekolah.
"Bu, Rey berangkat sekolah dulu," ucap Rey.
"Iya, hati-hati di jalan! Nak ibu belum punya uang untuk bayar SPP-mu," sahut Ibu Rani.
"Tidak apa-apa Bu, nanti Rey kan dapat upah dari mandor sore ini, bisa buat bayar SPP," ucap Rey.
"Maafkan ibu ya nak, kamu jadi harus bekerja juga, ucap Ibu Rani sambil meneteskan air matanya.
"Bu, Rey gak papa harus bekerja, Rey kan laki-laki memang harus bekerja keras. Ibu jangan sedih, suatu hari nanti Rey akan jadi orang sukses yang akan membahagiakan ibu," sahut Rey.
"Iya makasih nak, pergilah nanti kau terlambat!" ucap Ibu Rani.
"Iya, assalamu'alaikum," ucap Rey.
"Wa'alaikumsallam," balas Ibu Rani.
Rey berangkat ke sekolah, hari ini dia menjadi kakak pembina di masa orientasi siswa (MOS). Rey bersiap dengan teman-temannya memakai ID Card kakak pembina dan jas OSISnya. Rey terhitung siswa berprestasi, rajin dan disiplin di sekolahnya. Dia terpilih jadi ketua OSIS di sekolahnya karena itu.
Almira masih di kelas bersama temannya D
__ADS_1
Tika. Tika terlihat pucat dan lemas. Almira mengkhawatirkan keadaan Tika. Dia berpikir untuk mengajaknya ke UKS.
"Tika gimana kalau kita pergi ke UKS saja?"
"Tapi kita harus MOS kan?"
"Nanti aku izinkan pada kakak pembina dan guru pembinanya."
"Baik kalau begitu, makasih Almira."
"Iya, ayo ke UKS."
Tika mengangguk. Tak lama bel sekolah berbunyi, tanda di mulainya jam pelajaran sekolah. Almira mengantarkan Tika ke UKS di sekolahnya. Tika berbaring di ranjang di UKS itu. Tika berbicara pada Almira.
"Almira pergilah! ada perawat disini. Nanti kau terlambat."
"Baik, aku pergi dulu nanti jam istirahat aku kesini lagi ya."
"Iya, tolong izinkan aku pada kakak pembina dan Guru pembina ya."
"Tentu, kamu istirahat ya."
"Iya."
Almira pergi meninggalkan Tika, dia menuju lapangan tempat semua siswa yang mengikuti MOS berkumpul. Almira terlambat berkumpul, seorang kakak pembina memarahinya.
"Hei kamu tahu ini jam berapa? masih jadi anak baru aja sudah terlambat, tau gak sih peraturan sekolah?" tanya Tono.
"Tahu kak," jawab Almira.
"Kamu bangun jam berapa? kok bisa kesiangan. Udah SMA belajar disiplin waktu," ucap Tono.
"Baik kak," jawab Almira.
"Kamu harus mendapat hukuman karena kesiangan, push up 20 kali!" perintah Tono.
"Tono kamu kenapa marah-marah pada junior?" tanya Rey yang menghampiri Tono dan Almira.
"Ini lo, anak baru udah terlambat aja," ucap Tono.
"Belum," jawab Tono.
"Tidak boleh seenaknya menghukumnya tanpa tahu kebenarannya," ucap Rey.
"Baik."
Rey melihat ke arah Almira yang ada di sampingnya. Dia memperhatikan penampilan Almira.
"Oya, ID Card kesiswaanmu mana?" tanya Rey.
"Maaf tadi lupa tertinggal di kelas," ucap Almira.
"Siapa namamu?" tanya Rey.
"Almira Benadzir," jawab Almira.
"Almira kenapa kamu bisa kesiangan berkumpul di sini?" tanya Rey.
"Tadi aku mengantarkan temanku ke UKS dulu, dia sakit. Dia tidak bisa mengikuti MOS. Kak, saya minta tolong mintakan surat izin kepada guru pembina," jawab Almira.
"Oke, nanti saya mintakan surat izinnya, kamu boleh kembali ke barisanmu," ucap Rey.
"Terimakasih kak," jawab Almira.
"Iya sama-sama," sahut Rey.
Almira kembali pada barisannya, dia senang tidak jadi dihukum. Sementara Rey masih berbicara pada temannya Tono.
"Toni tadi kau dengar alasannya terlambatkan?" ucap Rey.
"Iya dengar," jawab Tono.
"Baik, lain kali jangan asal menghukum junior tanpa tahu alasan sebenarnya," ucap Rey.
"Oke," sahut Tono.
Masa orientasi siswa dimulai, semua siswa mengikuti arahan yang diberikan kakak pembina. Mereka begitu bersemangat mengikuti masa orientasi siswa. Begitupun Almira, dia senang bisa diterima disekolah itu dan mengikuti masa orientasi siswa.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Ibu Rani berada di depan rumahnya, datang seorang ibu-ibu ke arahnya. Ibu Rani dimarahi oleh seorang ibu-ibu itu. Dia telah membuat bajunya gosong. Ibu itu marah dan minta ganti rugi pada Ibu Rani.
"Bu makanya kalau kerja hati-hati, baju saya buat ke undangan jadi gosongkan," ucap Ibu Sita.
"Maaf Bu, saya tidak sengaja," ucap Ibu Rani.
"Maaf-maaf, tau gak baju saya ini mahal," ujar Ibu Sita.
"Iya Bu, saya tahu," jawab Ibu Rani.
"Pokoknya ibu harus menggantinya," kekek Ibu Sita.
"Tapi saya belum punya uang Bu," ucap Ibu Rani.
"Pokoknya saya gak mau tahu, ganti!" tegas Ibu Sita.
Ibu Rani hanya diam karena tidak tahu harus bayar pake apa. Jangankan untuk membayar, makan sehari-hati saja masih sulit.
"Makanya punya suami, jangan jadi wanita kegatelan sampai punya anak haram. Susahkan jadinya hidupmu sekarang," ucap Ibu Sita.
"Cukup!" ucap Rey baru pulang menghampiri ibunya yang sedang dihina.
"Ibu boleh hina saya, tapi jangan ibu saya dengar itu," ucap Rey.
"Anak haram datang juga, ibumu itu membuat bajuku gosong nih, memang kamu mau ganti rugi?" tanya Ibu Sita.
"Nih,ambil uangnya dan pergi sekarang, jangan pernah hina ibuku lagi!" tegas Rey sambil memberikan uang ke Ibu Sita.
"Nah gitu dong, jadi aku gak perlu marah-marah," ucap Ibu Sita.
Ibu Sita mengambil uang itu lalu meninggalkan Rey dan ibunya. Dia senang mendapatkan uang ganti rugi dari Rey. Sementara Rey masih di depan rumahnya bersama ibunya.
"Rey maafkan ibu," ucap Ibu Rani.
"Gak apa-apa Bu, ibu jangan bersedih," ucap Rey.
"Tapi itu uang upahmu kan untuk bayar SPP?" tanya Ibu Rani.
"Gak papa Bu, nanti Rey bisa cari kerjaan yang lain lagi untuk bayar SPP. Yang penting ibu tidak dimarahi dan dihina Ibu Sita," ujar Rey.
"Makasih nak," ucap Ibu Rani.
"Iya Bu, ayo masuk Rey lapar!" ucap Rey.
Rey dan ibunya masuk ke rumah mereka. Lalu Rey makan sore,mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia belajar dan mengemasi bukunya untuk hari esok. Rey kemudian tidur diranjang kamarnya. Rey tertidur pulas, ibunya masuk ke kamarnya. Dia mencium kening Rey dan membelai kepala Rey.
"Rey maafkan ibu, jika saja saat itu ibu tidak meninggalkan ayahmu dan bersedia ikut bersamanya jadi istri keduanya, mungkin hidup kita tidak seperti ini. Tapi ibu memilih meninggalkannya setelah tahu dia sudah memiliki istri," ucap Ibu Rani dalam hatinya sambil meneteskan air matanya.
Dulu ibu Rani merantau ke luar kota jadi pembantu rumah tangga. Diperantauan dia bertemu seorang laki-laki yang bekerja jadi kuli bangunan. Dia jatuh cinta pada laki-laki itu, lalu menikah siri dengannya. Saat dia tahu laki-laki itu sudah punya istri, Ibu Rani memilih pergi meninggalkan laki-laki itu. Padahal saat itu dia sedang mengandung Rey. Setelah itu dia putus kontak dengan laki-laki itu.
Satu tahun berlalu. Rey berangkat ke sekolahnya, dia melewati kelas Almira. Rey melihat Almira tidak ada dikelasnya. Temannya Tono mendekatinya lalu menggodanya.
"Lewat sini terus, mau lihat Almira ya," goda Tono.
"Gak, cuma lewat aja memangnya kenapa?" tanya Rey.
"Gak sih, cuma kelihatannya kamu suka pada Almira sejak MOS itu," jawab Tono.
"Aku hanya mengaguminya saja," ucap Rey.
"Kalau suka bilang aja, deketin dia nanti diambil orang loh," ucap Tono.
"Gak, aku belum punya apa-apa, belum pantas untuk Almira," sahut Rey.
"Mau nunggu sukses dulu ya pak Bos?" tanya Tono.
"Iya, saat nanti aku sukses, aku akan mencari dan mendekatinya," jawab Rey.
"Pria sejati itu namanya, salut Bos," ujar Tono.
"Ayo ke kelas kita!" ucap Rey.
"Oke," sahut Tono.
Rey sudah lama menyukai Almira sejak masa orientasi siswa itu. Tapi dia memilih memendam perasaannya. Dia hanya menjadi penggemar rahasia Almira. Dia tidak berani mendekati Almira sampai dia sukses nanti. Rey dan Almira hanya beda satu tahun. Rey adalah kakak kelas Almira.
__ADS_1