Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Bangunlah


__ADS_3

Almira dan Sakira masih duduk diluar ruang perawatan tempat Evander dirawat. Almira hanya bengong bersandar dalam dipundak Sakira.Karena sudah malam Sakira memutuskan untuk pulang. Almira tidak ikut pulang dengan Sakira, dia ingin dirumah sakit menunggu Evander sampai sadar.


"Ya udah Kak Almira, aku pulang dulu. Ibu tidak ada temannya di rumah sendirian," ucap Sakira. Dia tidak bisa menemani Almira di rumah sakit. Sakira harus pulang karena Ningsih ada di rumah menunggu mereka.


"Terimakasih Sakira, jangan ceritakan hal ini pada Ibu. Bilang kalau kakak menginap dirumah teman kakak," sahut Almira.


"Ya, aku tahu. Kakak juga yang sabar. Semoga Kak Evan cepat sadar, kabari aku kalau Kak Evan sudah sadar ya Kak," ucap Sakira. Berharap Evander akan segera sadar agar kakaknya tidak terus-menerus sedih.


"Ya," jawab Almira.


Tak lama Sakira pun pergi meninggalkan rumah sakit itu. Almira duduk sendirian, Pak Antony dan Joni menghampiri Almira yang sedang duduk sendirian. Mantan menantunya itu tampak bersedih dan sedang memikirkan sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan anaknya.


"Almira kau tidak pulang?" tanya Pak Antony.


"Tidak Papa, aku mau menunggu sampai Evan sadarkan diri," jawab Almira. Kalau belum melihat Evander sadar dia belum bisa tenang. Bagaimana Almira bisa pulang ke rumahnya jika Evander saja masih koma.


"Kalau Evan tahu dia pasti senang sekali kamu sangat mengkhawatirkannya. Kamu tahu Almira, Evan itu sayang padamu walaupun dia cuek dan acuh. Tapi dia tak pernah mendekati wanita manapun selain dirimu," sahut Antony. Almira adalah cinta pertama untuk anaknya. Dia sangat berarti dan sudah membuat anaknya bahagia.


Almira hanya diam dan meneteskan air matanya.


"Kalau saja dia tak salah dalam bersikap padamu dulu, mungkin kalian akan jadi pasangan yang bahagia. Papa mungkin sudah punya cucu sekarang. Dibalik sikap dingin Evan, dia itu penyayang dan perhatian. Hanya perlu dilatih dan dirubah kebiasaannya. Dan yang bisa membuat Evan berubah adalah kamu, Almira," tambah Pak Antony. Hanya Almira yang bisa merubah Evander menjadi lebih baik. Anthony berharap mereka bisa bersama seperti dulu.


"Hik....hik....hik..." Almira menangis. Teringat Evander yang sedang koma karena kesalahannya.


"Papa mau pulang dulu, karena kesehatan Papa tidak memungkinkan untuk berada di sini lebih lama. Kamu yang sabar ya Almira. Kabari Papa kalau Evan sudah sadarkan diri," ucap Pak Antony.


"Ya Papa," jawab Almira.


Pak Antony dan Joni meninggalkan tempat itu. Tinggal Almira sendirian, dan menangis mengingat semua yang dilaluinya bersama Evander. Masa-masa saat mereka masih menjadi suami istri. Meski Evander tua dan acuh tapi Almira selalu bahagia dan berusaha menerima kekurangannya.


Almira duduk dikursi tunggu di luar ruangan perawatan itu, dia sampai ketiduran dan bersandar pada dinding di sampingnya. Datang Sultan menyelimuti tubuh Almira menggunakan selimut rumah sakit. Almira kaget dan bangun. Dia melihat Sultan berada di hadapannya.


"Sultan, kau ada disini?" tanya Almira.


"Iya, tadi ada panggilan operasi, jadi aku datang ke rumah sakit. Kebetulan tadi teman sejawatku cerita kalau baru saja mengoperasi korban kecelakaan, dan itu adalah Evander jadi aku langsung kemari setelah selesai operasi dan melihatmu duduk di sini sambil tertidur," jawab Sultan. Dia menyempatkan diri untuk melihat Almira yang ada di depan ruang ICU. Sultan yakin Almira pasti menunggu Evander yang sedang koma.


"Terimakasih atas selimutnya, Sultan," ucap Almira.

__ADS_1


"Sama-sama, apa kau sudah makan Almira?"


tanya Sultan. Mantan istrinya itu pasti belum makan. Terlihat dari wajahnya yang pucat dan lemas.


"Belum, tapi aku tidak ingin makan," jawab Almira.


"Almira, kesehatanmu juga harus dijaga, gimana kamu menunggu Evan kalau kamu sakit," ucap Sultan.


"Iya," jawab Almira.


"Kalau begitu ayo makan di kantin lantai bawah rumah sakit," ajak Sultan.


"Baik," jawab Almira.


Kedua orang itu turun ke lantai bawah rumah sakit. Mereka menuju kantin di lantai bawah rumah sakit itu. Almira duduk di kursi, Sultan memesankan makanan untuk Almira. Sultan membawa makanan dan minuman untuk Almira.


"Almira, ayo makan! Nih aku temani makan,lapar juga setelah operasi tadi," ucap Sultan.


"Iya, terimakasih Kak Sultan," sahut Almira.


Kedua orang itu mulai makan makanan mereka.Selesai makan Sultan mengantar kembali Almira ke ruangan perawatan Tristan.


"Iya, Almira kamu tidak pulang? di sini sangat dingin udaranya," sahut Sultan.


"Tidak apa-apa,aku mau menunggu sampai Evan, sadarkan diri," ucap Almira.


"Kalau begitu, aku juga akan di sini menemanimu.


Aku ada dua operasi malam ini. Jadi dari pada pulang cuma sebentar, lebih baik di sini saja menemanimu," ucap Sutlan.


"Apa kau tidak masalah duduk diluar sini sepertiku?" tanya Almira.


"Tidak masalah, apa Almira mau istirahat diruanganku,disana ruangan khusus untukku beristirahat biasanya?"tanya Sultan.


"Tidak,aku disini saja. Nanti kalau Evan sudah sadar, aku bisa melihatnya secepatnya"ucap Almira..


"Baiklah," jawab Sultan.

__ADS_1


Kedua orang duduk dikursi tunggu di luar ruangan perawatan Evander. Sultan melihat Almira terlihat sedih memikirkan Evander.


"Apa Almira mulai mencintai Evander? tatapan matanya begitu sedih memikirkan Evander, apa aku masih punya harapan untuk bersama Adelia kembali?" Batin Sultan dalam hatinya.


Sultan menemani Almiraa beberapa jam,setelah itu dia pergi meninggalkan Adelia untuk mengoperasi pasien sesuai jadwal yang sudah ditentukan.


                              ***********


Pagi itu setelah sarapan pagi, Almira menunggu suster yang merawat Evander mengizinkan dia masuk ke ruangan perawatan tempat Evander dirawat. Almira bolak balik menanyakan pada suster itu. Dia ingin segera masuk ke dalam.


Setelah diperbolehkan masuk, Almira segera masuk ke dalam. Dia mendekati Evander yang sedang berbaring di ranjang itu. Almira menatap Evander yang berbaring dengan semua alat bantu hidup.


"Evan, cepatlah sadar, aku di sini menunggumu. Aku ingin kau berbicara padaku, aku ingin mendengar suaramu. Evan, aku ingin melihatmu seperti hari kemarin. Aku ingin tanganmu memegang tanganku seperti dulu saat kau memakaikan cincin saat kita menikah dulu, bangunlah Evan!" ucap Almira.


Almira berbicara sambil meneteskan air matanya. Terlihat kesedihan sedang menyelimutinya.


"Evan, maafin semua kesalahanku. Aku tidak tahu kenapa kau mengacuhkanku dulu, padahal ingin sekali rasanya kau bicara padaku dan berbagi banyak hal denganku. Evan, akhir-akhir ini aku selalu memikirkanmu, kau hadir kembali di hidupku dan mulai mengisi bagian di hatiku. Aku pikir aku akan membencimu karena masa lalu kita dulu, tapi ternyata aku tidak bisa membencimu. Bahkan seiring berjalan waktu setelah bertemu denganmu kembali hatiku mulai hangat saat kau berada di dekatmu Evan. Bangunlah Evan! Ku mohon," ucap Almira.


"Nona Almira, maaf waktu besuknya sudah habis. Silahkan Nona keluar!" ucap Suster itu.


"Ya," jawab Almira. Dia keluar dari ruangan itu, dia kembali duduk diluar ruangan itu. Saat Almira sedang duduk, datang Taka psikiaternya Evander menemui Almira yang sedang duduk sendiri.


"Nona Almira ya?"tanya Taka.


"Iya, saya Almira," jawab Almira.


"Ada yang ingin saya sampaikan pada Nona," ucap Taka.


"Tentang apa?" tanya Almira.


"Tentang Evan," jawab Taka.


"Evan," batin Almira. Heran kenapa Taka ingin mengajaknya bicara tentang Evander.


"Ikutlah bersama saya! Kita bicara di kafe depan rumah sakit ini," ucap Taka.


"Baik," jawab Almira.

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari ruangan perawatan itu turun ke lantai bawah. Almira tidak tahu siapa Taka dan apa hubungannya dengan Evander. Dia juga penasaran apa yang akan diceritakan Taka padanya tentang Evander.


__ADS_2