
Sultan sedang istirahat di ruangannya saat jam istirahat datang. Dia sedang memikirkan sesuatu untuk mendekati Almira. Tak mudah memulai kembali sebuah hubungan yang telah lama terputus apalagi meninggalkan luka mendalam. Pendekatannya kali ini harus penuh pertimbangan, dia tidak ingin membuat Almira tak nyaman. Jangan sampai kedua mantan suaminya lebih unggul dan baik dari pada dirinya. Dia harus jadi winner.
Sultan sudah pernah pacaran tapi tidak tahu cara mendekati Almira kembali. Dia takut salah tingkah dan aneh jika salah langkah. Di tengah kegalauannya, teman sejawatnya masuk ke ruangan Sultan untuk meletakkan berkas pasien yang akan dialihkan padanya. Dokter itu bernama Indra Damian. Sahabat Sultan dari dulu.
"Tumben pulang cepet?" tanya Sultan.
"Biasa mau nyenengin istri dan anak. Makanya jangan jomblo terus biar kaya aku, bisa pulang cepet," jawab Indra.
"Maunya tapi kau tahu sendirikan seperti apa hidupku," sahut Sultan
"Itu karena kau tidak move on. Terus terjebat dihubungan itu-itu saja. Selamanya kau akan menjadi duda kalau tidak bisa melupakan Yulia," ujar Indra.
Sultan mengangguk.
"Dra, aku ingin tanya," ucap Sultan.
"Tanya apa sobat?" Indra penasaran, dia merasa pertanyaan ini serius, terlihat dari ekspresi sahabatnya.
Sultan ingin tahu pendapat Indra karena dia sudah berkeluarga. Kebetulan Sultan lumayan dekat dengan Indra. Di antara semua Dokter yang menjadi teman ngobrol Sultan adalah Indra. Mereka sering nongkrong dan mengobrol hal-hal yang serius. Indra adalah orang yang paling bisa dipercaya dan menjaga rahasia. Indra juga dewasa dan bijaksana. Maka dari itu Sultan berpikir untuk bertanya padanya.
"Kalau kita mau PDKT sama mantan gimana cara ya?"
"Sultan-Sultan, aku ini belum pernah pacaran langsung nikah jadi gak ada tuh pedekate, bukannya kau malah sudah pernah pacaran ya?"
"Iya, tapi yang ini beda, dia mantan istriku."
"Mantan istri, kau sudah pernah menikah? Aku kira masih lajang."
"Dulu aku pernah menikah dengan seseorang wanita tapi hanya 6 bulan, setelah itu kami bercerai. Itu semua karena aku belum move on dari pacar saya."
"Wah susah kalau begitu, paling tidak mantan istrimu pasti pernah sakit hati padamu."
"Iya, aku juga merasa begitu. Apa dia akan mau kembali lagi padaku setelah aku menyakitinya?"
Sultan menceritakan rumah tangganya yang telah usai dengan Almira pada Indra. Dia berharap Indra memberikan dia saran yang baik agar dapat kembali mendekati Almira.
"Sultan, kau berusaha saja dulu, beri dia perhatian yang tulus. Batu saja yang keras jika ditetesi air setiap hari lama-lama hancur, itu perumpamaannya. Jika kau terus menerus memberinya perhatian lama-lama dia akan luluh juga, kalau kata orang Jawa Witing Tresno Jalaran Kulino."
"Apa maksudnya?"
"Cinta tumbuh karena terbiasa."
"Benar juga, makasih ya Ndra."
"Iya sama-sama, semoga kau bisa bersama dia lagi."
Sultan mengangguk. Dia berpikir untuk memberi perhatian lebih pada Almira. Mungkin dengan begitu dia bisa mengambil hati Almira kembali. Apalagi Sultan memiliki dua rival yang sama kuat. Jika dia bersantai dan lengah, dia bisa kehilangan Almira.
***
Almira menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam istirahat. Dia begitu semangat mengerjakan pekerjaannya karena ini hari pertamanya bekerja. Jam istirahat dimulai, Almira keluar dari ruangan akunting menuju ke kantin perusahaan. Dia bersama beberapa teman stafnya menuju kantin itu. Almira duduk bersama kedua teman barunya di meja itu.
"Oya Almira, sudah tahu Presdir kita?"
"Oh, iya."
Almira bukan hanya tahu lebih tepatnya sangat mengenal, Evander mantan suami keduanya. Mereka pernah hidup bersama dan berbagi ranjang bersama.
__ADS_1
"Dia itu ganteng, keren, cool, gagah, dan berkharisma tapi sayangnya cuek sama cewek," ucap Lina.
"Iya, kalau kita senyum sama Presdir, mana pernah dia mau balas senyum kita, udah kaya robot aja," ucap Nunung.
"Ada yang bilang dia pernah menikah sama seseorang tapi cuma sebentar gitu," ucap Lina.
"Ya mana ada yang tahan kalau didiemin terus, meskipun ganteng juga, makan hati," ucap Nunung.
Teman-teman Almira tidak tahu kalau Almira adalah mantan istri Evander. Dulu pernikahan Evander dan Almira dilakukan secara privat. Hanya keluarga inti yang hadir dipernikahan itu. Evander tidak mau pernikahan itu dirayakan dan dihadiri banyak orang. Dia belum siap memiliki hubungan secara terang-terangan karena trauma di masa lalunya. Dia takut menjalin hubungan. Saat berceraipun hanya pihak keluarga yang tahu.
"Tapi gak ada yang tahu siapa mantan istrinya, pasti orang yang sabar banget menghadapi manusia robot yang super cuek seperti itu," ucap Lina.
"Iya pasti, kalau kamu Almira, menurutmu gimana kalau seandainya punya suami kaya dia?" tanya Nunung.
Almira bingung mau jawab apa, sudah jelas dia mengalami apa yang mereka semua bicarakan.
"Aku ... aku mau mengambil makanan dulu," ucap Almira mengalihkan pembicaraan.
Almira bingung harus menjawab apa pada kedua teman barunya. Dia tidak mau jika nanti temannya tahu kalau dia adalah mantan istri Evander yang mereka bicarakan. Almira berjalan menuju tempat prasmanan, dia mengambil makanan yang akan dimakan olehnya, kemudian membawa makanannya menuju meja tadi, saat dia berjalan ada seorang wanita cantik, seksi dan elegan sedang memainkan handphonenya sambil berjalan ke arahnya. Almira berusaha menghindar tapi dia malah menabrak Almira.
"Kamu punya mata ditaruh mana sih?" tanya Maya.
"Maaf," jawab Almira.
"Kamu tahu siapa saya? saya ini sekretarisnya Evander, Presiden Direktur di sini," ucap Maya.
"Iya," sahut Almira.
"Lihat nih, baju mahal saya jadi kotor, gaji kamu gak cukup buat beli baju saya," ucap Maya.
"Maya ada apa kamu marah-marah?" tanya Evander.
"Evan, pegawai bawahan ini menumpahkan makanan ke bajuku," ucap Maya. Mengeluh pada Evander agar dia memarahi Almira. Pegawai bawahan.
Almira hanya diam. Bukannya tidak bisa membela diri atau melawan. Dia tidak ingin mencari masalah di hari pertamanya bekerja.
Apalagi pekerjaan ini penting untuknya.
"Dia yang menumpahkan makanan atau yang sebenarnya kamu yang tidak melihat jalan?" tanya Evander.
"Kamu gak percaya sama aku Evander?" tanya Maya balik.
"Lihat peraturan di kantin ini, dilarang memainkan handphone saat berada di kantin dan kamu sudah menyalahi aturan yang ada," ujar Evander. Menunjuk pada papan peraturan yang tertera di dinding kantin.
"Evan tapi aku ...," ucap Maya.
"Maya, kamu seharusnya memanggil namaku dengan jabatanku, ini di kantor," kata Evander.
"Iya Presdir," ucap Maya.
"Almira kembalilah mengambil makanan lagi!" ucap Evander.
Almira mengangguk kemudian Evander meninggalkan kantin itu setelah bicara. Sesaat Almira memperhatikan punggung Evander yang semakin menjauh. Almira tersenyum tipis, lalu kembali mengambil makanan sedangkan Maya yang kesal keluar dari kantin itu. Dia tidak menyangka akan dimarahi Evander hanya demi pegawai bawahan seperti Almira.
"Wanita itu membuatku malu di depan Evander, sebelumnya Evander tidak pernah peduli pada pegawai bawahan tapi sekarang kenapa dia begitu peduli, siapa wanita itu? menyebalkan," ucap Maya sambil berjalan penuh kekesalan.
Hari mulai sore Almira sudah menyelesaikan pekerjaannya. Jam kerja juga sudah mulai selesai. Beberapa karyawan mulai keluar dari ruangan akunting. Almira membereskan perlengkapannya ke dalam tasnya. Dia keluar dari ruangan akunting bersama teman-temannya.
__ADS_1
Evander cepat-cepat membereskan pekerjaannya, dia berharap sore ini bisa mengantarkan Almira pulang. Matanya sesekali melihat jam, dia takut telat menemui Almira. Evander membereskan berkas-berkas di mejanya. Dia bersiap keluar ruangannya.
***
Sultan mengendarai mobilnya menuju perusahaan tempat Almira bekerja. Sesuai nasihat Indra, dia mencoba untuk mengantar pulang Almira. Dia berharap Almira mau diantarkan pulang olehnya. Sultan masuk ke parkiran di depan perusahaan itu. Sultan keluar dari mobilnya menuju lobi perusahaan itu. Pas sekali, Almira baru keluar dari dalam menuju lobi. Almira dan Sultan pun saling bertemu.
"Kak Sultan."
"Ee ... Almira tadi aku tidak sengaja melewati depan perusahaan ini, kebetulan aku tahu kamu kerja di sini, jadi sekalian mampir dan ingin mengajakmu pulang bersama, gimana?"
Almira bingung dan tidak enak jika menolak, tapi dia juga tidak mau kembali dekat dengan mantan suaminya.
"Kak Sultan maaf, aku mau naik busway biar tidak macet."
"Iya ya, sore gini pasti macet, naik busway lebih cepat. Kalau gitu saya ikut naik busway juga."
"Silahkan, itu angkutan umum."
Sultan memarkirkan mobilnya di parkiran umum. Dia akan berusaha tetap bersama Almira meski harus bingung besok gara-gara mobilnya di parkirkan di tempat yang jauh dari rumahnya, yang penting bisa pedekate, susah belakangan.
Sultan dan Almira berjalan keluar dari lobi perusahaan. Sementara itu Evander baru keluar dari dalam perusahaan, dia mencari Almira dari tadi tapi tidak menemukannya. Evander malah melihat Almira sedang berjalan bersama Sultan keluar area perusahaan.
"Sial, kenapa aku selalu tidak dapat kesempatan, ngapain Sultan harus ke sini?" ucap Evander kesal. Dia hanya bisa melihat Almira dan Sultan berjalan bersama. Untuk kesekian kali Evander kalah star dari dua rivalnya. Sultan berhasil mendapatkan kesempatan kali ini. Dia menjadi pemenang sementara dari dua rivalnya.
Almira dan Sultan naik busway. Mereka duduk bersampingan. Sultan sengaja tak ingin jauh dari Almira, strategi pepet terus menjadi pilihannya. Lupakan jaim, dari pada kalah telak dari dua rival lainnya. Almira terlihat canggung duduk bersampingan dengan Sultan.
"Almira aku bawa permen, mau gak?"
Sultan berusaha pedekate dari hal terkecil, selama ada celah, hajar terus.
"Boleh."
Sultan mengeluarkan permen lolipop dari saku bajunya. Kebetulan tadi ada perawat yang memberinya beberapa permen lolipop khas kota asalnya.
"Terimakasih," ucap Almira sambil memegang permen lolipop itu.
Seorang anak kecil yang digendong ibunya menangis terus, mereka duduk tak jauh dari Almira, melihat itu Almira kasihan pada ibunya yang berusaha menenangkannya dari tadi. Dia memberikan permen lolipop pada anak kecil itu.
Seketika anak kecil itu berhenti menangis dan tersenyum.
"Terimakasih Nona," ucap ibunya anak kecil itu.
"Sama-sama," jawab Almira.
Sultan kagum melihat kebaikan Almira. Dia merasa Almira harus diperjuangkan, berlian itu bersinar dan dia ingin memilikinya. Hidupnya pasti bahagia saat bersama wanita yang baik hati seperti Almira.
Beberapa menit kemudian Almira turun dari busway, Sultan terus mengikutinya.
"Kak Sultan turun di sini juga?"
"Iya, sudah lama tidak bertemu ibu, aku ingin silaturrahmi."
"Alasan klasik, gak masalah, lupakan malu, masa depan menanti," batin Sultan.
"Oh gitu, ya sudah."
Sultan dan Almira berjalan hingga depan rumah Almira. Di teras rumah ada seorang lelaki tampan berseragam polisi sedang mengobrol dengan Sakira.
__ADS_1