
Setelah Almira pulang, Devan masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan menuju kamar Queenza, tiba-tiba Ibu Siska menghentikan langkahnya dan mengajaknya bicara. Devan langsung berhenti dan mendengarkan perkataan Ibu mertuanya itu.
"Devan ngapain kamu deketin Almira lagi, sudah tahu dia itu gak baik buat Queenza. Bisanya cuma manjain Queenza mulu, gimana Queenza bisa jadi anak yang pintar dan mandiri kalau kayak gitu terus," ucap Ibu Siska.
Devan hanya diam. Coba untuk menghormati pendapat ibu mertuanya walaupun dia sendiri tidak sependapat.
"Gadis kaya Almira itu gak punya malu dan gak setia, masa datang ke sini di antar laki-laki. Udah jelaskan dia itu genit. Mau dapetin kamu tapi jalan sama laki-laki lain juga," ujar Ibu Siska.
Devan masih diam. Ingin rasanya melawan tapi teringat almarhum istrinya, dia mengurungkan niatnya.
"Dia itu udah kaya gadis murahan yang obral sana sini harga dirinya, apa bedanya sama pelacur?" hina Ibu Siska pada Almira. Di matanya tak ada satu pun hal baik dari mantan istri Devan itu.
"Cukup Bu, tadi saya diam saja karena menghormati ibu, tapi kalau ibu terus-terusan menjelekkan Almira tidak sesuai dengan kenyataannya saya tidak bisa diam saja. Saya mohon dengan hormat jangan lagi menjelek-jelekkan Almira di depan saya," sanggah Devan. Dia tahu persis seperti apa Almira, semua yang dikatakan ibu mertuanya itu tidak benar, justru terkesan memfitnah Almira.
"Kamu mulai suka Almira ya? kamu melupakan Tiara anak saya. Kalau bukan karena Kiara kamu belum tentu masih hidup," ujar Ibu Siska.
"Saya tidak melupakan Kiara, tapi saya dan Queenza juga harus meneruskan hidup kami ke depannya. Dan saya yakin Kiara juga menginginkan hal yang sama, agar saya dan Queenza bisa hidup bahagia," ungkap Devan.
"Kamu ya, sudah mulai tidak hormat pada saya. Padahal saya ini ibu mertuamu. Almira itu sudah mencuci otakmu sampai berani melawan saya," ucap Ibu Siska.
"Maaf ya Bu, saya harus ke kamar Queenza dulu. Kasihan dia lagi sakit membutuhkan saya di sampingnya," ucap Devan.
Devan meninggalkan Ibu Siska menuju kamar Queenza. Melihat itu Ibu Siska kesal ditinggalkan Devan saat sedang berbicara. Dia langsung ke kamarnya untuk menelpon anak perempuannya yang di luar kota, adik kandung Kiara, namanya Monalisa.
"Hallo Mona," ucap Ibu Siska.
"Hallo Bu, ada apa kok nelpon malam-malam? "
tanya Mona.
"Kamu harus segera pulang, kalau tidak Devan akan jatuh ke tangan Almira lagi," ucap Ibu Siska.
"Apa?" Mona terkejut.
"Devan itu anak yang baik, setia, penyayang dan pekerja keras sayang kalau menikah sama orang lain Mona. Susah nyari laki-laki seperti Devan di zaman sekarang. Kamu tahu sendiri sekarang banyak pelakor. Kamu harus menikah dengan laki-laki seperti Devan yang setia dan anti pelakor," ucap Ibu Siska.
"Baik Bu, akhir pekan aku akan pulang," sahut Mona.
__ADS_1
"Kabari Ibu kalau mau pulang ya, biar Devan ada di rumah," ucap Ibu Siska.
"Iya Bu, selamat malam," ucap Mona.
"Malam," sahut Ibu Siska.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Mona. Ibu Siska menutup telponnya.
"Pokoknya Devan harus bisa menikah dengan Mona, jangan sampai kembali lagi dengan Almira," ucap Ibu Siska. Dia tidak rela Devan rujuk dengan Almira. Ibu Siska ingin menjodohkan Irfan dengan Mona adik kandung Kiara, supaya anak gadisnya memiliki suami yang baik dan masa depan yang cerah.
\*\*\*
Evander mengantarkan Almira sampai rumahnya. Dia turun dari mobil dengan Almira. Berjalan bersama menuju teras rumahnya. Mereka berdua berdiri di depan pintu sambil berbincang sebentar.
"Evander, mau masuk ke dalam dulu biar ku buatkan kopi," ucap Almira.
"Tidak usah Almira, sudah malam nanti kamu kelelahan, besokkan harus bekerja lagi. Aku titip salam untuk ibu dan Sakira ya," ucap Evander.
"Iya," jawab Almira.
"Malam, hati-hati Evab," ucap Almira.
"Ya, kamu masuk duluan nanti aku pulang setelah kamu masuk rumah," pinta Evander.
"Oke," jawab Almira. Dia masuk ke rumahnya, menutup pintu perlahan, menatap Evander yang masih berdiri di depan pintu menunggunya, pintu tertutup, Evander yang masih berdiri, berbalik lalu berjalan menuju mobilnya, dia mengendarai mobilnya pulang ke rumah besarnya.
Almira berjalan masuk ke kamar, dari belakang Sakira membuntutinya lalu ikut masuk ke kamar Almira. Rasa keponya membuat Sakira ingin tahu perkembangan hubungan kakaknya dengan ketiga mantan suaminya.
"Kak sepertinya kakak jalan lagi dengan Kak Evan, jangan-jangan kakak mulai suka ya ma Kak Evan?" ucap Sakira meledek Almira.
"Apa sih kamu Dek? tadi itu Evan mengantarku ke rumah Devan untuk menjenguk Queenza yang lagi sakit." Almira menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Sakira.
"Apa? mantan suami kedua mengantar mantan istri ke rumah mantan suami ketiga. Gak salah Kak?" tanya Sakira sambil tertawa.
"Memangnya kenapa?" tanya Almira.
"Memang mereka gak bersitegang gitu, tonjok-tonjokan atau berdebat memperebutkan kakak," jawab Sakira. Dia membayangkan kedua mantan suami kakaknya bersaing ketat memperebutkan Almira.
__ADS_1
"Kamu berlebihan ah," ucap Almira.
"Ya habis, kemarin Kak Sultan dan Kak Rey, sekarang Kak Evan dan Kak Devan. Sepertinya persaingan semakin menarik dan sengit," ungkap Sakira.
"Udah ah, kakak mau tidur besok harus pergi bekerja," ucap Almira.
"Huh, kakak kalau aku lagi kepo berat alasannya selalu mengantuk, gak asyik nih," keluh Sakira.
Almira tak memperdulikan keluhan adiknya yang kepo, dia mandi dan berganti pakaian lalu pergi tidur. Tubuhnya sudah lelah, malas harus mengobrol lagi dengan Sakira.
\*\*\*
Maya sedang murung di kamarnya, dia kesal dengan Almira yang terus mendapatkan perhatian dari Evander. Padahal dari zaman kuliah di luar negeri dulu, Maya udah suka dan mengincar Evander, tapi malah Almira yang mendapatkan Evander. Ibunya masuk ke dalam kamar Maya dan mengajaknya berbicara.
"Maya kamu kenapa sih kok cemberut?" tanya Ibu Meli.
"Aku sebel Ma, Evan ternyata udah pernah nikah sama seorang wanita bernama Almira," jawab Maya dengan wajah cemberut.
"Apa? Evan pernah nikah? jadi dia duda?" tanya Ibu Meli.
"Ya begitulah Ma," jawab Maya terlihat malas menjawab pertanyaan ibunya.
"Terus kamu menyerah mengejar Evan?" tanya Ibu Meli.
"Gak juga, cuma gimana ya caranya supaya Evan jatuh ke pelukanku?" tanya Maya.
"Kamu pakai kecantikanmu aja buat menggodanya," saran Ibu Meli.
"Maksudnya gimana Ma?" tanya Maya.
"Laki-laki itu paling gak tahan dengan keseksian para wanita, khususnya belahan dada, mereka pasti klepek-klepek. Apalagi Evan duda pasti kesepian butuh kasih sayang dan belaian," saran Ibu Meli.
"Benar juga kata Mama, besok aku mau pakai baju yang seksi ke kantor biar Evan klepek-klepek," ucap Maya.
"Ya betul," ucap Ibu Meli.
Maya berencana untuk menggoda Evander, besok saat bekerja. Dia tak mau kalah dengan Almira mantan istri Evander, apapun akan dilakukan untuk membuat Evander jatuh ke pelukannya.
__ADS_1