
Evander keluar ke halaman depan, ada dua orang menemui Evander. Mereka melaporkan pekerjaan mereka sudah beres. Semua yang dipesan Evander sudah diletakkan di tempat yang diinginkan Evander.
"Bos tugas kami sudah selesai, semua sudah tertata dengan rapi dan benar," ucap Iman.
"Bagus, ini upah untuk kalian dan pembayaran untuk semua yang aku pesan," ucap Evander sambil memberikan amplop berisi uang.
"Makasih Bos," sahut Iman.
"Iya," jawab Evander.
Kedua orang itu meninggalkan rumah besar. Evander kembali masuk ke dalam rumah. Dia menuju ke dalam dapur, melihat Almira yang sibuk memasak bersama Bi Siti. Evander mengeluarkan handphone-nya lalu memfoto Almira tanpa diketahuinya. Evander menjadikan foto yang diambilnya itu menjadi wallpaper handphonenya. Dia duduk di meja menunggu Almira memasak dengan Bi Siti. Tak lama Almira menghidangkan gurame asam manis di meja makan.
"Baunya harum," puji Evander.
"Kau suka gurame asam manis?" tanya Almira.
"Iya, asal tidak ada benda yang tadi," jawab Evander sambil melihat hidangan di depannya.
"Wortel maksudnya?" tanya Almira. Dia mulai tau hal yang membuat Evander trauma. Meski buat orang lain wortel itu makanan bergizi tapi untuk Evander, wortel mengingatkannya pada peristiwa kelam di masa kecilnya.
"Iya," jawab Evander.
Almira kembali membawa berbagai lauk pauk ke meja. Banyak jenis makanan yang dia masak. Kebetulan Almira memang suka masak. Selain itu dia terampil urusan dapur. Beberapa hidangan sudah berjejer di atas meja. Melihat itu Evander ingin membantu Almira.
"Almira ada yang bisa ku bantu?" tanya Evander.
"Ada, bantu aku meletakkan lauk pauknya di meja makan," jawab Almira.
"Oke, itu mudah," sahut Evander. Dia menuju dapur, mengikuti Almira mengambil lauk pauk untuk diletakkan di meja makan itu. Dia begitu kaku saat membawa lauk pauk. Selama ini dia tak pernah menginjakkan kaki di dapur apalagi ikut membantu memasak atau membantu meletakkan lauk pauk.
Setelah semua hidangan disajikan, Evander menawari Almira untuk mandi.
"Almira kau mau mandi?" tanya Evander.
"Iya, tapi aku tidak membawa baju ganti," jawab Almira.
"Baju lamamu masih ada di kamar kita," ujar Evander.
Almira terkejut mendengar ucapan Evander, dia pikir setelah bercerai Evander akan membuang semua barangnya yang tertinggal tapi ternyata masih menyimpannya.
"Maksudku bajumu ada di kamar yang dulu kita tempati saat menikah," ucap Evander.
"Oh oke, aku mau mandi kebetulan sudah berkeringat setelah memasak tadi," sahut Almira.
"Ayo ku antarkan ke atas," ajak Evander.
Almira mengangguk. Dia mengikuti Evander naik ke atas, menuju kamar mereka yang dulu ditempati bersama. Kamar itu masih di tempati Evander sampai sekarang.
__ADS_1
Evander membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Almira masuk ke dalam kamar, Dia berjalan tepat di belakangnya. Almira melihat semua hal yang ada di kamar itu. Foto pernikahan mereka dulu yang terpajang di dinding, beberapa barang milik Almira yang masih tertata rapi di kamar itu. Almira sedikit malu melihat semua itu, dia merasa seperti sedang bernostalgia.
"Almira aku tinggal dulu keluar, semua barang yang kau butuhkan masih ada di tempat yang sama seperti dulu," ucap Evander. Dia berbalik, melihat ke arah Evander yang berdiri di depannya.
"Iya, makasih Evan," ucap Almira.
Evander meninggalkan Almira di kamarnya. Setelah menutup pintu, Almira berjalan menuju lemari yang dulu menjadi lemarinya saat masih tinggal di kamar itu. Almira membuka lemari, beberapa baju milik Almira masih ada, tertata dengan rapi. Baju-baju itu dulu pemberian Evander saat mereka masih menikah. Evander pernah membelikan Almira beberapa baju yang dipilihnya sendiri untuk Almira saat itu.
Almira mengambil handuk lalu dia berjalan masuk ke toilet. Selesai mandi, Almira memakai dress panjang terbuat dari bahan brukat berwarna pink. Baju itu dibeli Evander saat dia pergi keluar kota sebagai oleh-olehnya untuk Almira. Bajunya masih muat ditubuh Almira.
"Ternyata masih sama seperti dulu," ucap Almira saat bercermin. Dress yang dipakainya dulu sempat membuat Almira memandangnya walau sekian detik. Kenangan itu masih diingatnya.
Almira keluar dari kamar, ternyata Evander sudah menunggunya di luar kamar dari tadi. Melihat Almira mengenakan dress yang dibelinya, Evander tercengang, Almira begitu cantik dan anggun.
"Almira kau cantik memakai baju itu," puji Evander.
"Terimakasih, aku memakai baju yang dulu kau belikan untukku," jawab Almira.
"Kau masih ingat itu?" tanya Evander.
Almira mengangguk. Evander bahagia, ternyata mantan istrinya masih mengingat kenangan saat bersamanya.
"Ayo ke bawah Papa sudah menunggu di meja makan!" ajak Evander.
"Iya Tristan," sahut Almira.
"Ayo kita mulai makan! Dari tadi Papa sudah tidak sabar makan masakan Almira," ucap Antony.
"Mari Pa! biar Almira ambilkan," sahut Almira.
"Iya nak," jawab Antony.
Almira mengambilkan Antony makanan untuknya, lalu Almira kembali duduk di kursinya.
"Evan, ambilkan Almira piring!" perintah Antony.
"Iya Pa," jawab Evander.
"Tidak usah, biar aku yang mengambilkan piringnya untukmu," ucap Almira.
Evander mengangguk. Dia memperhatikan Almira yang mengambil piring untuknya. Almira juga menaruh nasi dan lauk pauk di piring Evander.
"Almira banyakin sayurannya, sekalian gurame asam manis sama udang goreng tepungnya," ucap Evander
"Iya, kau mau juga ayam gorengnya?" tanya Almira.
"Boleh," jawab Evander.
__ADS_1
Almira menaruh semua lauk pauk dan sayuran di piring Evander kemudian menaruh gantian di piringnya. Pemandangan ini membuat Antony senang, dia berharap ke depan pemandangan seperti ini akan sering dilihatnya.
Mereka bertiga mulai makan. Antony begitu menikmati hidangan yang dimasak Almira.
"Almira memang juara kalau masak, ini yang Papa selalu rindukan," puji Antony.
"Terimakasih Pa," jawab Almira.
"Evan, cari istri itu harus yang baik hati dan pintar masak seperti Almira," ucap Antony menyindir Evander.
"Ya Pa," jawab Evander malu dengan pertanyaan spontan Papanya.
Almira hanya diam, dia begitu malu saat Antony berkata seperti itu. Begitupun dengan Evander, walaupun malu dia memang ingin sekali rujuk dengan Almira, meskipun harus bersaing ketat dengan tiga rivalnya.
Selesai makan malam, Evander mengajak Almira ke halaman di samping rumah besar itu. Evander mau memberi kejutan untuk Almira yang dari tadi sudah dipersiapkannya.
"Kita mau kemana Evan?" tanya Almira.
"Ke rumah kaca dekat taman bunga," jawab Evander.
Dekat taman bunga, ada rumah kaca yang ditanami berbagai bunga. Dulu Almira yang menanam bunga di rumah kaca itu. Semua jenis bunga di tanam Almira, saat mengisi waktu luangnya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah kaca, baru masuk ke pintu, tiba-tiba lampu menyala kelap kelip begitu terang, burung-burung merpati berterbangan di dalam rumah kaca itu dan banyak kupu-kupu hinggap dan berterbangan di atas bunga-bunga.
"Indah sekali," ucap Almira.
"Kau suka Almira?" tanya Evander.
"Ya aku suka," jawab Almira.
"Aku tahu dari dulu kau suka kupu-kupu dan burung merpati, jadi aku mempersiapkan semua ini untukmu," ucap Evander.
"Terimakasih Evan," sahut Almira.
Evander mengangguk. Dia senang Almira suka dengan surprise yang diberikannya.
"Ayo kita lihat ke dalam!" ajak Evander.
"Iya," jawab Almira.
Keduanya masuk ke dalam rumah kaca. Almira masih tercengang melihat semua itu. Dia tak menyangka seorang Evander yang tertutup dan dingin menyiapkan semua itu untuknya. Semua telah berlalu, meski pernah terluka tapi Almira merasa Evander yang sekarang sudah berubah, apalagi trauma yang dialaminya membuat Almira mulai mengenalnya dan ingin tahu lebih banyak tentang Evander.
Burung-burung merpati hinggap di ranting pohon, Evander menangkap satu ekor burung merpati dan diberikan pada Almira. Merpati putih yang lucu, membuat Almira gemas, tangannya memegang dan mengelus merpati itu dengan lembut.
"Almira bolehkah aku memfotomu?" tanya Evander.
Almira mengangguk. Segera Evander memfoto Almira yang sedang memegang burung merpati itu. Mereka menikmati keindahan malam bersama. Almira tidak tahu kalau Evander bisa seromantis itu. Padahal dulu dia begitu acuh, cuek dan tidak peduli dengan Almira. Kini Evander yang berdiri di sampingnya ini seperti seseorang yang baru dikenal Almira.
__ADS_1