Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Promo Novel Baru


__ADS_3

Mafia Merindukan Surga



"Hafidz tehnya terbuat dari apa? Enak, Abi suka." Sang mafia begitu menyukai teh itu. Dia tak menyangka teh bisa seenak itu beda dari teh yang biasa dia minum.


Sang pembunuh menutup mulutnya menahan tertawanya mendengar ucapan sopan dan manis dari sang mafia sangar.


"Ini teh khusus racikan Umi, Abi paling suka minum teh hangat ini," jawab Hafidz.


"Masih ada?" tanya sang mafia. Dia masih ingin meneguk teh hangat itu satu atau dua gelas lagi. Rasa teh itu enak dan membuat dia ketagihan.


"Habis Abi, sisanya yang diminum Abi dan Umi sekarang," jawab Hafidz.


"Umi sayangku, buat lagi ya racikan tehnya!" Sang mafia sengaja membalas tertawa sang pembunuh dengan cara itu. Mana mungkin Sang pembunuh bisa membuat teh seenak itu. Paling dia hanya pintar melenyapkan orang.


"Oh dia mulai, menyerang dengan cara halus," batin sang pembunuh. Dia tidak akan kalah. Ketika api mulai dinyalakan makan bersiaplah akan membakar kayu yang nakal.


"Iya Abi. Nanti Umi buatkan, itu yang bikin enak ada cacing tanah di dalamnya," jawab sang pembunuh. Sengaja membalas sang mafia yang sudah berani mengusiknya.


"Ugh ... ugh ... ugh ...." Sang mafia terbatuk ketika mendengar kata cacing tanah, sedangkan sang pembunuh tertawa puas melihatnya terbatuk.


Usai terbatuk sang mafia melotot ke arah sang pembunuh. Dia kesal dengan serangan halus yang dilontarkan sang pembunuh.


"Abi minum tehnya lagi, selagi hangat." Sang pembunuh membujuk sang mafia agar damai kembali. Hentikan perang dingin di antara mereka berdua.


Sang mafia kembali meneguk tehnya. Menurunkan emosinya yang sempat naik. Tegukan demi tegukan membuatnya teringat masa kecilnya saat bersama ibunya. Setiap pagi rutin minum teh hangat bersama keluarganya. Teh memang warisan leluhur yang sering diminum di pagi hari bersama singkong atau pisang rebus. Semua ingatan itu seakan diputar ulang. Lupa sesaat akan siapa dirinya yang sekarang seorang bos mafia yang kejam dan sadis.


"Hei, kau bengong? jangan berpikir jorok, itu teh bukan obat mujarab." Sang pembunuh meledek sang mafia yang bengong dari tadi.


Lamunannya terpecah saat sang pembunuh berbisik padanya.


"Kau itu baru minum teh otakmu udah ke mana-mana," kata sang pembunuh.


"Bukan urusanmu," sahut sang mafia. Sedang enak-enak mengingat masa lampau malah diganggu. Sang pembunuh tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, membuat sang mafia kesal padanya.


Hafidz terlihat tersenyum melihat perdebatan keduanya. Tak lama suara tangis terdengar keras.


"Hafidz di sini suka ada hantu ya?" tanya sang pembunuh. Dia mengira suara tangisan itu dari kuntilanak.


"Pembunuh mental tempe." Sang mafia berbisik pelan. Tak disangka gayanya yang garang ternyata penakut.


"Suara itu bikin merinding," sahut sang pembunuh pelan.


"Umi, itu suara Aisyah," kata Hafidz.

__ADS_1


"Suara Aisyah? siapa?" tanya sang pembunuh. Dia tidak tahu siapa yang dimaksud Hafidz. Apakah Aisyah itu kakaknya, bibinya ataupun adiknya?


"Umi lupa, Abi dan Umi punya dua anak. Hafidz dan Aisyah," jawab Hafidz.


"Dua anak?" Keduanya terkejut. Mereka kira masalahnya di sini hanya Hafidz yang buta tapi ada masalah lain. Baru datang ke rumah itu sudah memiliki dua anak sekaligus.


"Iya, Aisyah dari kemarin menangis, Abi dan Umi pergi tak kunjung pulang," jawab Hafidz.


Keduanya menelan ludah. Menikah saja belum. Sudah ada dua anak yang menganggap mereka abi dan uminya. Bayangan menjadi orangtua terlintas. Membuat mereka menggeleng.


"Abi, Umi, Ayo temui Aisyah! Dia rindu pada Abi dan Umi," ujar Hafidz. Dia ingin sekali sang mafia dan sang pembunuh menemui Aisyah adiknya.


"Iya." Keduanya menjawab bersamaan. Meski mereka sedikit aneh dan bingung.


"Gimana ini? Kalau adiknya tidak buta?" tanya sang pembunuh.


"Kita bunuh saja mereka! Untuk apa repot-repot mengurus anak kecil," bisik sang mafia.


Sang pembunuh mengangguk.


"Ayo Abi, Umi!" ajak Hafidz. Dia berjalan menuju kamar Aisyah.


Terpaksa mereka berdua mengikuti Hafidz masuk ke dalam kamar. Aisyah terlihat mengigau. Keringat di sekujur tubuhnya mengucur. Dia memanggil abi dan uminya.


"Abi, Umi, Aisyah rindu," ucap Aisyah.


"Aisyah ini kakak, Abi dan Umi sudah kembali," ujar Hafidz.


Aisyah terbangun. Matanya menyapu ke sekeliling ruangan. Menatap kedua orang di depan pintu kemudian menoleh ke samping.


"Aisyah, itu Abi dan Umi," ucap Hafidz.


Aisyah kembali melihat ke arah depan. Menatap beberapa menit. Tak ada ekspresi senang atau sedih. Hanya terpaku dengan wajah datar.


"Anak itu tidak buta, jangan-jangan dia tahu kita bukan Abi dan Uminya," bisik sang pembunuh.


"Ayo kita lenyapkan keduanya!" titah sang mafia.


Sang pembunuh mencubit tangan sang mafia.


"Aw ..., kau! belum jadi suamimu saja sudah teraniaya, kau tau aku ini siapa?" bisik sang mafia pelan.


"Bisa tidak jangan membahas lenyap-melenyapkan saat ini," bisik sang pembunuh.


Mereka berdua menatap Aisyah yang menatap ke arah mereka. Aisyah tidak buta, kemungkinan tahu siapa mereka. Hanya menunggu Aisyah berteriak dan mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Abi, Umi," ucap Aisyah.


"Apa?" Kedua orang itu terkejut ketika Aisyah juga memanggil mereka abi dan umi. Panggilan yang tadi Hafidz ucapkan.


"Sepertinya kita masuk alam lain," bisik sang mafia.


"Maksudmu, kita berada di alam ghaib?" tanya sang pembunuh pelan.


"Mungkin," bisik sang mafia.


"Kita jadi orangtua kedua makhluk ghaib ini," bisik sang pembunuh.


Sang mafia hanya menggeleng.


Mereka berdua terheran-heran kenapa kedua anak yang diperkirakan usianya 9 tahun dan 6 tahun ini menganggap mereka orangtuanya.


Aisyah beranjak dari ranjang. Menghampiri kedua orang itu dan memeluk erat keduanya.


"Abi, Umi, Aisyah rindu," ujar Aisyah.


Sang mafia menatap sang pembunuh, mereka sama-sama tak tahu harus bagaimana.


"Gimana?" bisik sang mafia.


Sang pembunuh menggeleng. Mereka berdua mau tak mau membalas pelukan Aisyah. Begitupun dengan Hafidz yang menghampiri keduanya. Ikut memeluk mereka berdua, seakan mereka memang orangtuanya.


"Abi, Umi, kami rindu," ujar Hafidz sambil menangis.


"Jangan tinggalkan kami lagi Abi, Umi," ucap Aisyah yang juga menangis.


"Abi dan Umi tidak akan meninggalkan kalian lagi," kata sang pembunuh.


"Iya," tambah sang mafia.


Malam itu mereka menemani Hafidz dan Aisyah tidur di ranjang hingga tertidur. Mereka tidur di tepi kanan dan kiri ranjang. Setelah kedua anak itu tidur, sang mafia membangunkan sang pembunuh.


"Wanita bangun!" Sang mafia menepuk lengan sang pembunuh sambil berbisik pelan.


Sang pembunuh terbangun, menatap sang mafia yang sudah ada di sampingnya.


"Ada apa?" tanya sang pembunuh pelan.


"Kita bicara di luar," jawab sang mafia.


Sang pembunuh mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan ke luar dari kamar. Masuk ke dalam dapur. Sang mafia menyalakan perapian di tungku yang terbuat dari tanah liat. Mereka berdua duduk di depan perapian.


__ADS_2