Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Ada Mantan Lain


__ADS_3

"Evander." Almira semakin terkejut bertemu ketiga mantan suaminya sekaligus.


"Perkenalkan saya Sultan suami pertama Almira." Sultan mengulurkan tangannya pada Evander.


"Apa? mantan suami pertama Almira," batin Evander.


"Saya Evander mantan suami kedua Almira," sahut Evander sambil mengulurkan tangannya pada Sultan.


"Kenapa saat aku mau mendekati Almira mantan suami kedua dan mantan suami ketiganya terlihat mau mendekati Almira juga?" batin Sultan.


"Ini ngapain lagi mantan suami pertama ada di sini? apa dia mau pedekate juga?" batin Evander. Tak hanya Sultan, Evander juga merasa tidak suka dengan adanya Sultan. Membuat persaingan untuk mendapatkan Almira memanas.


Setelah berkenalan satu sama lain kemudian Evander melihat ke arah Devan. Dia ingin tahu siapa lagi laki-laki di samping Almira itu.


"Anda siapa?" tanya Evander.


"Perkenalkan saya Devan mantan suami ketiga Almira." Devan mengulurkan tangannya pada Evander.


"Apa? mantan suami ketiga Almira? gak salah nih kenapa jadi reonian gini?" batin Evander. Mereka harus reonian sebagai para mantan. Mantan satu, mantan dua dan mantan tiga.


"Saya Evander mantan suami kedua Almira, senang bertemu dengan anda." Evander mengulurkan tangannya pada Devan.


"Hari ini aku bertemu dua mantan suami Almira sekaligus, sepertinya langkahku tak akan mudah," batin Devan. Dia merasa takkan mudah mendapatkan Almira kembali dengan dua rival yang sama berpengaruh sepertinya.


Almira hanya diam tak berkutik. Membiarkan para mantan suaminya berkenalan dan berbincang.


"Ya Allah ketiga mantan suamiku ada disini, aku harus bicara apa?" batin Almira bingung. Bertemu satu mantan suami saja sudah membuatnya canggung, ini tiga sekaligus.


"Oya maaf saya undur diri, anak saya menunggu di mobil. Saya harus segera pulang, senang bertemu dan berkenalan dengan kalian. Almira saya pulang dulu, terimakasih ya," ucap Devan berpamitan. Bukan tidak ingin berlama-lama tapi suasana tak kondusif lagi pula percuma pedekate kalau ada kedua rival lainnya.


"Iya, sama-sama."


Devan meninggalkan mereka bertiga. Ini menjadi pertama kali Devan bertemu kedua mantan suami Almira sebelumnya. Devan merasa bukan hanya dia yang akan berusaha mendekati kembali Almira tapi mungkin kedua mantan suaminya juga, bahkan mereka terang-terangan pedekate. Terlihat dari mata Sultan dan Evander yang memperhatikan Almira. Devan miliki dua rival sekaligus.


Sultan dan Evander masih berada di antara Almira. Almira hanya diam, bingung ingin bicara apa. Suasana begitu canggung ini membuat Almira mati kutu. Sementara itu Sultan dan Evander masih berbincang.


"Anda kesini untuk apa?" Evander bertanya dengan sinis.


"Maksud kedatangan saya ke sini untuk mengundang Almira makan malam bersama, ini permintaan ibu saya, bagaimana Almira?"


Sesaat Almira berpikir sejenak. Undangan makan itu dari Ibu Nita tidak mungkin dia menolaknya, biarbagaimanapun Almira sangat menghormatinya.


"Baik saya bersedia karena ini permintaan Ibunya Kak Sultan."


Evander diam. Dia merasa sudah keduluan Sultan. Dia kesal mantan suami pertamanya menggunakan ibunya sebagai trik untuk mendekati Almira.


"Oya, Anda sendiri mau apa ke sini?" Sultan bertanya balik pada Evander sebagai pembalasan.


"Saya ... saya ..., saya mau mengingatkan Almira kalau besok sudah mulai bekerja di perusahaan saya." Evander mencari alasan lain.


"Ooo ... begitu."


"Evan terimakasih sudah mengingatkan, besok saya akan berangkat tepat waktu."

__ADS_1


"Baik kalau begitu saya undur diri, senang bertemu dengan anda Sultan, terimakasih Almira." Evander pamit untuk pergi.


"Iya," jawab Sultan dan Almira bersamaan.


Evander pun meninggalkan Almira dan Sultan. Dia tidak jadi memberikan bunga mawar merah pada Almira. Evander sangat kecewa dengan dirinya sendiri yang belum punya keberanian untuk memberikan langsung bunga mawar merah itu pada Almira. Dia merasa memiliki dua rival sekaligus dalam satu waktu. Dan setiap posisi mereka memiliki peluang yang sama. Evander harus berusaha keras untuk mendapatkan Almira kembali.


"Bunga mawarnya tidak jadi ku berikan pada Almira, momennya belum pas, kenapa ada kedua mantan suami Almira?" batin Evander.


***


Setelah Evander pergi, Almira mengajak Sultan untuk masuk ke rumahnya dulu untuk menunggu Almira mandi dan berganti pakaian. Sultan masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Ibu Nawang yang sedang berada di ruang tamu. Dia menyalami Nawang, duduk di sofa dan mengobrol dengannya sambil menunggu Almira.


"Nak Sultan sudah lama tidak bersilaturrahmi seperti ini."


"Iya Bu, maaf kemarin-kemarin saya sibuk. Ibu bagaimana kabarnya?"


"Baik, semenjak check up terakhir saya lumayan enakkan."


"Yang terpenting ibu tidak boleh kecapean, stress, jaga pola makan, olahraga ringan dan istirahat yang cukup. Kalau ada keluhan bisa telpon saya langsung. Nomor telpon saya masih sama."


"Terimakasih nak Sultan."


Mereka terus berbincang-bincang hingga Almira keluar dari kamarnya. Almira terlihat cantik dan anggun mengenakan dress berwarna peach dengan hijab yang senada. Sultan melihat Almira yang berjalan ke arahnya. Dia yang dulu tak pernah memperhatikan seperti apa Almira, kini pandangan fokus pada Almira. Matanya yang dulu tertutup hanya untuk pacarnya kini mulai melihat Almira sebagai seseorang yang baru dan mulai spesial dihidup Sultan yang baru dimulai.


"Almira cantik sekali, selama ini mataku buta. Mungkin karena aku hanya memikirkan Yulia. Aku sungguh menyia-nyiakan wanita yang baik dan cantik," batin Sultan.


Penyesalan itu baru dirasakan olehnya. Seharusnya dulu dia membuka mata dan hatinya. Tentunya kini hidupnya sudah bahagia bersama Almira, tapi semua itu hanya penyesalan yang tak ada gunanya, sekarang waktunya untuk Sultan kembali mengejar Almira diantara persaingannya dengan dua mantan suami lainnya.


Sultan pamit pada Nawang untuk mengajak Almira ke rumahnya. Dengan izin dari Nawang, Sultan mantap mengajak sang mantan istri pergi bersamanya. Mereka berdua berjalan keluar dari rumah. Sultan membukakan pintu mobil depan untuk Almira. Dia berusaha memperbaiki kesalahannya dari hal yang terkecil, memberi perhatian salah satu cara memperbaiki kesalahan di masa lalu dan merajut kembali kedekatan diantara mereka berdua.


Sambil menyetir sesekali Sultan melirik ke spion depan, Almira terlihat duduk di belakang dengan tenang. Almira hanya diam tak berkata apapun, membuat Sultan berpikir harus mencairkan suasana, dia ingin dekat kembali jadi harus ada yang dimulai olehnya.


"Almira, apa AC mobilnya kurang dingin?"


"Cukup dingin kok Kak Sultan."


"Oke."


Sultan bingung harus tanya apa lagi, dia ingin suasana diantara mereka jadi hangat.


"Ngomong apa lagi?" batin Sultan.


"Sakira sekarang udah kuliah ya?" tanya Sultan.


"Iya, sudah semester 8," jawab Almira.


Sultan memikirkan wacana apalagi yang bisa membuat mereka dekat. Tidak mungkin membahas perasaan atau sedang dekat dengan siapa, terlalu terburu-buru untuk saat ini.


"Almira ...," ucap Sultan.


"Iya," sahut Almira.


"Katakan enggak ya? tapi perempuan suka dipuji," batin Sultan.

__ADS_1


"Kau cantik," puji Sultan pada Almira.


Almira menunduk malu mendapat pujian dari Sultan. Ini pertama kali dia mendengar mantan suaminya berkata seperti itu. Almira tambah canggung.


"Gombal sekali ucapanku tadi, Almira akan berpikir aku cowok playboy gak ya?" batin Sultan.


Mereka berdua sama-sama canggung dan terdiam, apalagi kata-kata pujian tadi membuat suasanya semakin canggung.


Sampai di rumah Sultan, Almira turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Ibu Nita sudah menunggu mereka di ruang makan. Almira mencium tangan mantan ibu mertuanya. Ibu Nita senang sekali bisa bertemu Almira kembali.


Harapannya untuk menjodohkan Almira dan Sultan kembali sepertinya baru dimulai dari makan malam bersama ini.


"Ayo Almira duduk, ibu sudah masak banyak makanan. Ibu juga masak makanan kesukaan Almira," ucap Ibu Nita mengajak Almira duduk.


"Terimakasih Bu," ucap Almira sambil duduk.


"Iya sama-sama nak. Bagaimana kabar ibu dan adikmu?" tanya Nita.


"Alhamdulillah baik," ucap Almira.


Nita melihat ke arah putra semata wayangnya. Dia harus mendekatkan anak dan mantan menantunya agar bisa kembali dekat lagi.


"Sultan ambilkan Almira piringnya!" perintah Nawang.


"Baik Bu," jawab Sultan lalu mengambilkan Almira piring.


Mereka makan bersama, suasana canggung mulai mencair karena hadirnya Nawang. Mereka bertiga makan bersama. Sesekali Sultan memperhatikan Almira, Nita menyadari hal itu, dia tahu anaknya sudah mulai membuka hatinya untuk Almira. Tinggal menunggu Almira membuka hati untuk anaknya.


"Bagus, ada kemajuan. Sultan memang harus melihat betapa baiknya Almira," batin Nita.


Selesai makan Sultan membantu Almira merapikan meja makan dan mencuci piring di dapur. Nita membiarkan Sultan melakukan pendekatan pada Almira.


"Almira beginikan?" tanya Sultan yang membilas piring yang baru saja dicuci memakai sabun cuci piring oleh Almira.


"Iya, dibilas sampai busanya hilang," jawab Almira yang merapikan piring ke rak piring.


Sultan membilas semua piring. Dia membantu Almira sampai sampai selesai, kemudian mereka berjalan keluar dari dapur.


"Almira aku masih ingat saat kau memasak opor ayam untukku, rasanya enak. Aku belum pernah menjumpai opor ayam yang seenak buatanmu," ucap Sultan menceritakan masa lalu mereka.


Mungkin dengan sedikit nostalgia akan membuat kemistri diantara mereka terjalin kembali.


Almira hanya membalas dengan senyuman tipis tanpa berkata apapun.


"Dulu aku sudah membuatmu sedih, maafkan aku," ucap Sultan.


"Aku sudah memaafkanmu Kak Sultan, semua sudah berlalu," ucap Almira.


"Kalau aku nembak sekarang? tapi gimana kalau Almira jadi ilfeel, gak, nunggu dulu sampai momen yang pas," batin Sultan.


Sultan dan Almira menuju ke ruang tengah menyusul Nita yang duduk di sofa. Almira duduk di samping Nita sedangkan Eric duduk di seberangnya.


"Almira apa kau sudah punya seseorang yang spesial?" tanya Nita.

__ADS_1


Almira terdiam sesaat. Dia bingung harus menjawab apa.


__ADS_2