Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Ketemu Mantan Dan Mantan


__ADS_3

Devan dan Sakira pergi menuju ke kedai soto di daerah Hayammuruk. Mereka turun dari bus lalu berjalan masuk ke kedai soto. Kedai itu cukup ramai apalagi di musim hujan seperti ini orang-orang ingin makan-makanan yang hangat. Devan dan Sakira duduk dan memesan soto itu. Tak lama pelayan mengantarkan dua mangkuk soto, kemudian pergi. Aroma soto begitu enak menggugah rasa lapar mereka berdua. Segera Sakira dan Devan mengambil sendok secara bersamaan hingga tangan mereka saling memegang.


Deg ...


Jantung Sakira berdebar tak karuan saat tangannya bersentuhan dengan tangan Devan sedangkan Devan sendiri juga hanya merasakan hal yang sama. Mereka terpaku lalu melepas tangan secara bersamaan.


"Kak Devan duluan aja ngambil sendoknya," usul Sakira mempersilahkan Devan.


"Sakira saja duluan," timbal Devan yang meminta Sakira duluan.


"Kalau begitu aku ambil sendok untuk Kak Devan juga ya?" tanya Sakira.


"Iya," jawab Devan.


Sakira mengambil sendok untuknya dan untuk Devan. Dia terus memandang wajah Devan. Laki-laki polos itu terlihat tampan dan kalem, meskipun Devan jauh lebih tua dari Sakira tapi Devan tetap terlihat tampan dan muda.


"Kak Devan sering makan disini ya?" tanya Sakira.


"Kadang kalau pulang malam," jawab Devan.


"Kak Devan belum lama ya mengajar di kampusku?" tanya Sakira. Setahunya Devan belum lama mengajar di kampusnya. Apalagi sekarang mengajar di kelasnya.


"Baru satu tahun ini, sebelumnya aku mengajar di kampus lain. Sakira sendiri udah semester akhir ya?" tanya Devan.


"Ya, tinggal skripsi aja," jawab Sakira.


"Kalau udah lulus mau kerja?" tanya Devan.


"Kalau ada yang ngajak nikah, orangnya baik, Sakira mau nikah aja," ucap Sakira memberi kode keras.


"Gimana kalau cowoknya lebih tua dari usiamu?" tanya Devan. Dia ingin memastikan cowok seperti apa yang disukai Sakira.


"Tidak masalah, yang penting dia mau menerima Sakira apa adanya," jawab Sakira.


"Kalau dia sudah punya anak, apa Sakira tidak masalah?" tanya Devan. Dia sadar betul status duda anak satu, wanita yang nanti akan dinikahinya harus bisa menerima anaknya juga.


"Gak papa, lagian Sakira suka sama anak kecil jadi ada temennya," jawab Sakira.


Mereka terus berbincang berbagai topik. Baru beberapa menit, Evander dan Almira masuk ke kedai soto itu juga. Mereka berdiri di depan kasir, langsung memesan soto kemudian mereka mencari tempat duduk, Sakira yang melihat kedatangan Almira langsung memanggilnya.


"Kak Almira di sini aja duduknya!" panggil Sakira.


Mendengar panggilan Sakira, Almira melihat ke arahnya, dia memberi respon dengan mengangguk, kemudian berbicara pada Evander untuk duduk bersama Sakira.


"Evan, duduk bersama Sakira saja gimana?" tanya Almira.


"Ya boleh juga," jawab Evander.


Mereka berdua berjalan mendekati meja Sakira dan Devan. Saat sudah dekat, Almira baru tahu yang duduk dengan Sakira adalah Devan, mantan suami ketiganya.


"Mas Devan," ucap Almira.


"Almira, Evan," sahut Devan menatap kedua orang di depan mejanya.


"Senang bisa bertemu di sini lagi Devan," kata Evander.


"Iya," sahut Devan.


"Ayo Kak Almira dan Kak Evan duduk di sini!" ajak Sakira.


"Iya," jawab Evander dan Almira bersamaan.


Evander duduk bersampingan dengan Almira sedangkan Devan dan Sakira di depannya. Mereka cukup canggung satu sama lain kecuali Sakira.


"Kak Evan dan Kak Almira udah pesan sotonya?" tanya Sakira.

__ADS_1


"Udah tadi saat baru masuk ke sini," jawab Almira.


"Ooo ..., kalian baru pulang kerja ya?" tanya Sakira.


"Iya," jawab Evander dan Almira bersamaan.


Pesanan soto Almira dan Evander datang, Evander berinisiatif mengambilkan Almira sendok, kecap dan sambal. Dia berusaha memberi perhatian kecil untuk Almira.


"Terimakasih Evan," ucap Almira.


Evander mengangguk dan tersenyum pada Almira.


.


"Sepertinya Kak Evan sudah lebih jauh dari para rivalnya, Kak Almira juga terlihat happy," batin Sakira.


Mereka berempat makan bersama walaupun ada rasa canggung. Setelah makan, Devan mengawali pembicaraan.


"Almira, Evan saya duluan, soalnya ada tamu di rumah," pamit Devan.


"Iya," sahut Almira dan Evander bersamaan.


"Ayo Sakira!" ajak Devan.


Sakira mengangguk. Mengambil tas di kursi, mencangklongkan di bahunya lalu berdiri.


"Kak, aku pulang dulu sama Kak Devan ya," pamit Sakira.


"Ya, hati-hati di jalan," ucap Almira.


.


Setelah itu Devan dan Sakira ke luar dari kedai soto. Tinggal Evander dan Almira yang masih ada di kedai soto.


"Almira besok hari minggu, mau pergi ke taman hiburan bersamaku?" tanya Evander.


"Boleh, justru rame-rame lebih seru," jawab Evander.


"Oke," ucap Almira.


"Aku jemput hari minggu pagi ya?" tanya Evander.


Almira mengangguk.


Setelah berbincang, mereka melanjutkan makan soto. Tak sengaja baju Evander terkena kuah soto itu. Almira langsung mengelap baju Evander dengan tisu. Spontan Evander menatap wajah Almira. Dia begitu menginginkan mantan istrinya.


Deg


Jantung mereka berdebar tak karuan. Kalau bukan tempat umum mungkin Evander sudah mengatakan cinta dan memuji kecantikan alami Almira yang tanpa make up. Bibirnya merah, hidung mancung pipi merona, mata yang indah dan kulit putihnya membuat Evander tak sabar ingin memilikinya, dia menyesal kenapa dulu tidak menghabiskan malam sebagai suami istri dengan Almira, kenapa dia melewatkannya. Mungkin saat ini dia bisa merasakan setiap malam yang indah dan romantis bersama Almira. Hanya penyesalan yang tersisa, Evander akan berusaha untuk mendapatkan Almira sebagai miliknya seperti dulu. Mereka masih terpaku membayangkan masa lalu, dan berandai, membuat pelayan yang datang menegurnya.


"Mas, Mba makannya sudah belum? mau dibereskan, sudah mau tutup soalnya," ujar pelayan.


"Oo ..., iya sudah," ucap Evander dan Almira bersamaan.


Mereka segera mengambil tas, berdiri dan berjalan keluar dari kedai soto. Evander mengantarkan Almira pulang ke rumahnya.


***


Almira berbaring di kamarnya. Seperti biasa Sakira masuk ke kamar kakaknya. Sakira berbaring di samping Almira. Ada hal yang ingin dia bicarakan pada kakaknya. Raisa memulai pembicaraan itu duluan.


"Kak, kelihatannya kakak mulai dekat dengan Kak Evan?" tanya Sakira.


.


"Kamu kepo ya Sakira," jawab Almira.

__ADS_1


"Habis akhir-akhir ini kakak sering jalan berdua dengan Kak Evann," ucap Sakira.


.


"Udah ah, jangan bicara itu dulu. Oya kamu sama Mas Devan kok bisa di kedai soto itu?" tanya Almirra.


"Tadi aku bertemu Kak Devan di kampus, terus dia mengantarkanku dan mengajak makan soto," jawab Sakira.


"Oh gitu," ucap Almira.


"Kak kalau seandainya aku dekat sama salah satu mantan suami kakak gimana?" tanya Sakira.


"Oo ..., kakak tahu, kamu naksir Mas Devan ya?" tanya Almira. Dia sudah mencurigai gerak-gerik Sakira sejak di kedai soto.


"Sebenarnya sih cuma kagum aja waktu Kak Devan mengajar di kelasku, tapi tadi saat aku berdekatan dengannya, entah apa? aku grogi banget," jawab Sakira.


"Kakak tidak masalah kamu mau dekat dengan Mas Devan, cuma pastikan dulu Devan suka padamu, agar kau tidak sakit hati nantinya," saran Almira.


"Beres, makasih ya Kak," ucap Sakira.


.


"Oya Sakiea besok hari minggu Iya jak, mengajak kakak ke taman hiburan, kamu ikut ya?" tanya Almira.


"Oke, aku juga dah lama gak ke taman hiburan kak," jawab Sakira.


Setelah berbincang-bincang, Sakira kembali ke kamarnya dengan hati yang senang telah mendapat izin dari kakaknya untuk mendekati Devan, mantan suami ketiga kakaknya.


\*\*\*


Devan sampai di rumahnya, Ibu Siska sudah menunggunya di ruang tamu bersama Mona. Devan langsung menyapa Ibu Siska dan Mona yang duduk di sofa ruang tamu itu.


"Selamat malam Bu, Mona," sapa Devan.


"Malam," sahut Ibu Siska dan Mona bersamaan.


"Apa kabar Mona?" tanya Devan.


"Baik Kak Devan," jawab Mona.


"Nyampai sini jam berapa?" tanya Devan.


"Tadi jam 5 sore Kak," jawab Mona.


"Devan, besok minggu ajak Mona dan Queenza jalan-jalan ke taman hiburan ya?" pinta Ibu Siska. Dia sengaja ingin mendekatkan Devan dengan Mona.


"Iya Bu," jawab Devan.


Ibu Siska tersenyum. Dia senang Devan masuk ke dalam rencananya. Tak lama lagi Devan akan menjadi suami Mona.


"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan saya ke kamar dulu untuk istirahat," ucap Devan.


"Ya," sahut Ibu Siska.


Devan pergi ke kamarnya, sementara itu Ibu Siska dan Mona masih duduk di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan Devan.


"Mona ini kesempatanmu untuk mendekati Devan," ucap Ibu Siska.


"Ya Bu, aku akan berusaha mendekati Kak Devan," kata Mona.


"Gimana pun caranya Devan harus jatuh ke tanganmu. Devan itu kerjaannya sudah mapan, baik, pinter lagi, yang paling penting dia itu kalau sudah cinta sama satu orang setia banget. Jadi kamu harus bisa mendapatkan hatinya," ujar Ibu Siska.


"Tentu Bu, siapa yang akan menolak kecantikan dan keseksian Mona. Selama ini banyak lelaki yang mengincar Mona tadi tidak akan sulit untuk mendapatkan hati Kak Devan," ungkap Mona.


"Bagus, kamu memang harus begitu," ucap Ibu Siska.

__ADS_1


Mereka terus berbincang tentang rencana untuk mendapatkan Devan. Mona bahkan berencana untuk menggoda Devan yang sudah lama kesepian dan sendirian.


__ADS_2