Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Hal Yang Menakutkan


__ADS_3

Almira masih diam, ini membuat Evander penasaran. Dia coba memanggil Almira. Mungkin saja Almira sedang memikirkan jawabannya.


"Almira! Almira!" Evander memanggil.


"Ya, apa?" tanya Almira.


"Pertanyaanku yang tadi." Evander menjawab. Berharap Almira menjawab iya.


"Pertanyaan apa?"


Sepertinya Almira tidak mendengar pertanyaan yang tadi dilontarkan Evander.


"Bukan, gak penting kok."


"Oh ...."


"Sabar Evander, pasti momennya belum pas," batin Evander.


Akhirnya mereka sampai di rumah Evander. Segera Evander langsung turun duluan dan membukakan pintu mobil untuk Almira. Hal yang dulu tak pernah dilakukan Evander. Perubahan ini sangat dirasakan Almira, Evander yang sekarang lebih terbuka dan perhatian. Almira keluar dari mobil, Evander mempersilahkan Almira jalan bersamanya. Mereka masuk ke dalam rumah, di ruang tamu Antony sudah menunggu mereka dari tadi.


"Assalamu'alaikum," sapa Almira dan Evander.


"Wa'alaikumsallam," sahut Antony.


"Almira apa kabar?" tanya Antony.


"Baik Papa," jawab Almira.


"Evander ajak masuk Almira, Papa mau ke kamar sebentar," ucap Antony.


"Iya Pa, mau aku antarkan dulu ke atas Pa?" tanya Evander.


"Gak usah nak, nanti Papa minta Jono mengantar Papa ke kamar, kamu ajak Almira ke dalam," jawab Evander.


"Ya Pa," jawab Evander.


Mereka berdua masuk ke dalam ruang keluarga yang berdekatan dengan ruang makan. Almira melihat semua ruangan itu masih sama interiornya seperti saat Almira masih tinggal di rumah itu. Semua hiasan, pajangan, dan foto-foto masih di tempat yang sama.


"Almira kamu mau makan apa? biar Bi Siti memasak makanan yang kamu mau," ucap Evander.


"Tidak usah repot-repot, bagaimana kalau aku yang masak?" tanya Almira.


"Ya boleh, sudah lama Papa kangen masakanmu," jawab Evander.


"Baiklah aku ke dapur dulu," kata Almira.


"Aku mau ke atas sebentar," ucap Evander.


"Iya," sahut Almira.


Evander berjalan menuju tangga, dia naik ke lantai atas sedangkan Almira masuk ke dapur untuk memasak, Bi Siti ada di dapur sedang cuci piring. Melihat Almira, Bi Siti langsung menghentikan aktifitasnya dan berjalan mendekati Almira.

__ADS_1


"Nyonya Almira," sapa Bi Siti. Dia senang sekali bisa bertemu Almira. Sudah lama Bi Siti tak bertemu dengan mantan istri majikannya.


"Bi Siti, apa kabar?" tanya Almira.


"Baik Nyonya, wah Tuan besar pasti senang sekali anda datang ke sini. Beliau selalu menanyakan kapan Nyonya bisa datang ke sini. Beliau sangat menyayangi Nyonya sebagai menantunya," ujar Bibi Siti.


"Iya, aku juga rindu pada Papa dan Bibi Si, sejak berpisah dengan Evan, aku tak pernah lagi bertemu kalian," jawab Almira.


"Saya juga rindu dengan Nyonya Almira," sahut Bi Siti.


Almira tersenyum manis. Dia selalu baik dan ramah pada siapapun, sifat itulah yang membuat orang di sekelilingnya selalu mengingatnya.


"Tuan muda tidak pernah membawa perempuan manapun selain Nyonya Almira ke rumah ini," ucap Bibi Siti. Dia ingin sekali Almira bisa rujuk dengan Tuan mudanya. Selama ini hanya Almira satu-satunya wanita yang Evander bawa ke rumah. Bagi Bi Siti kembali Almira akan membuat rumah ini menghangat lagi.


"Oya Bi, aku mau masak untuk makan malam," ucap Almira mengalihkan pembicaraan.


"Kalau begitu biar Bibi bantu," ucap Bi Siti.


"Oke, makasih Bi," ucap Almira.


"Iya Nyonya Almira," sahut Bi Siti.


Almira mulai memasak ditemani Bi Siti, sementara itu Evander mandi dan berganti pakaian, dia bolak balik mengganti pakaiannya sampai merasa cocok. Dia ingin memberi kesan baik pada Almira. Setelah memilih baju yang cocok, barulah Evander keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju tangga dari belakang Antony memanggilnya.


"Evan! Evan!" panggil Antony.


Evander membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Ya Pa," jawab Evander.


"Begitu ya Pa?" tanya Evander. Dia belum berpengalaman soal pendekatan pada wanita.


"Makanya jadi cowok peka sedikit, kalau gak kamu akan kehilangan Almira. Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Buat Almira membuka hatinya kembali untukmu," jawab Antony.


"Baik Pa, aku turun ke dapur," sahut Evander.


Kemudian Evander menuruni tangga menuju dapur, di sana ada Almira dan Bi Siti sedang memotong sayuran. Saat Evander masuk ke dapur, Bi Siti langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Dia ingin membiarkan keduanya melakukan pendekatan.


"Almira ada yang bisa ku bantu?" tanya Evander.


"Boleh, kau bisa mencuci sayur bayamnya," jawab Almira.


"Baik aku akan mencuci sayur bayamnya," kata Evander. Dia mengambil sayur bayam di atas meja dapur, dia mencuci sayur bayam itu sembari sesekali melirik wajah Almira. Sebelumnya dia tak pernah sedekat ini dengan Almira waktu mereka menikah dulu.


"Almira sayur bayamnya sudah dicuci lalu apa lagi?" tanya Evander.


"Sepertinya kalau sayur bayamnya ditambah wortel lebih bergizi," ucap Almira.


"Yang mana wortel biar aku cuci?" tanya Evander.


Almira mengeluarkan wortel dari kulkas lalu memberikannya pada Evander.

__ADS_1


"Ini," ucap Almira.


Evander hanya diam, memegang wortel itu. Tatapan matanya fokus ke arah wortel yang dipegangnya.


"Evan kenapa?" tanya Almira.


Tiba-tiba Evander melempar wortel itu hingga terjatuh di lantai.


"Jauhkan itu dariku Almira! jauhkan!"ucap Evander menjerit.


"Evander ada apa memangnya?" tanya Almira.


Evander langsung menjauh dari wortel itu dan duduk di dekat meja dapur sambil memegangi telinganya dengan kedua tangannya. Melihat itu Almira mendekati Evander.


"Evan ada apa?" tanya Almira. Dia duduk di depan Evander.


"Buang benda itu Almira!" perintah Evander.


"Kau tidak suka wortel ya? aku tidak akan masak wortel," ujar Almira. Dia mencoba menenangkan kedua Evander.


Evander mengangguk. Dia mulai membuka kedua tangan yang menutupi kedua telinganya dan memandang wajah Evander yang menunduk ke bawah.


"Evan, aku di sini, kau tidak apa-apa?" tanya Almira.


Evander menaikkan kembali kepalanya lalu memandang wajah Almira. Matanya berkaca-kaca, ada sesuatu yang mengusik hatinya.


"Aku benci benda itu Almira, jangan pernah memberinya padaku," ucap Evander.


"Tidak, aku tidak akan memberikan wortel itu padamu lagi," sahut Almira.


Emosi Evander mulai stabil, akhirnya Almira duduk di samping Evander meski berjarak, lalu mengajak Evander untuk menceritakan kenapa dia menbenci wortel.


"Evan, kenapa kau membenci wortel padahal wortel sayuran yang sehat?" tanya Almira.


"Dulu saat aku masih kecil, aku lapar, ibuku tak pernah masak, dia selalu memberiku wortel mentah dan memaksaku makan wortel mentah itu sampai habis hampir setiap hari bahkan tak jarang dia memasukkan ke mulutku dengan paksa," jawab Evander.


Almira hanya diam mendengarkan Evander bercerita. Hatinya begitu miris mendengar cerita masa kecil Evander yang begitu menyedihkan.


"Aku selalu takut minta makan pada ibuku, aku takut dia akan menyuruhku makan wortel mentah itu lagi," ucap Evander.


Saat Almira menikah dengan Evander dulu, dia tidak diperbolehkan masak untuk Evander, bahkan Evander tidak mau makan masakan Almira jika Almira tetap memasak. Almira hanya masak untuk Antony. Itu sebabnya Almira tidak tahu kalau Evander takut dan benci wortel.


"Evan, sekarang kau tidak perlu takut, aku tidak akan memaksamu makan wortel bila kau tak suka wortel," ucap Almira.


"Maafkan sikapku tadi Almira, aku tidak bermaksud menakutimu," sahut Evander.


"Iya aku tahu," jawab Almira.


Evander memandang wajah Almira yang tersenyum padanya. Evander mendekati wajah cantik Almira perlahan dan perlahan semakin dekat. Jantungnya tak beraturan begitupun jantung Almira. Wajah mereka begitu dekat.


"Maaf Tuan muda ada yang mencari anda," ucap Bi Siti yang berdiri di dekat meja dapur.

__ADS_1


"Astagfirullah," ucap Evander dan Almira hampir saja kelepasan. Mereka termakan suasana. Lupa kalau mereka sudah bukan suami istri seperti dulu. Itulah sebabnya kenapa jangan menjomblo terlalu lama. Apalagi ini sepasang duda janda kesepian.


Tadinya Evander ingin mencium Almira, tapi belum waktunya.Evander dan Almira begitu canggung saat Bi Siti datang. Almira langsung berdiri dan mulai memotong sayur, sedangkan Evander langsung berdiri dan menuju ke halaman depan.


__ADS_2