Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Harus Lebih Perhatian


__ADS_3

Devan bersiap mengantarkan Queenza berangkat sekolah hari pertama di minggu ini. Queenza sudah selesai mempersiapkan semua pelengkapannya. Dia masuk ke mobil Devan, memilih duduk di kursi belakang. Devan heran kenapa Queenza duduk di kursi belakang padahal biasanya dia duduk di kursi depan.


"Queenza kok duduk di kursi belakang?"


"Iya, aku ingin duduk bersama Mama Almira. Papa kita berangkat bersama Mama Almira yah?"


"Tapi hari ini Mama Almira mulai bekerja."


"Iya Queenza tau, jadi kita antarin Mama Almira dulu baru antar Queenza ke sekolah. Inikan masih pagi sekali Pa."


"Baik tuan putri kecil."


Devan setuju dengan permintaan Queenza untuk mengantar Almira bekerja. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah Almira. Disepanjang perjalanan menuju rumah Almira, Queenza terus bercerita tentang Almira.


"Papa, Queenza ingin Mama Almira tinggal lagi bersama kita."


Devan terkejut dengan penuturan putri kecilnya. Dia terlihat ingin sekali Almira kembali jadi ibunya seperti dulu. Selama merawat Queenza, Almira memang memperlakukan Queenza seperti anaknya sendiri itu sebabnya Queenza begitu menyayangi Almira.


"Doain ya nak, semoga Mama Almira bisa bersama kita lagi."


"Amin, nanti Queenza berdoa sama Allah biar Mama Almira tinggal bersama kita lagi Pa."


"Iya sayang."


"Ya Allah mudahkan jalanku untuk bersama Almira, Queenza sangat membutuhkannya. Aku tidak akan menyia-nyiakan Almira lagi jika Engkau memberiku kesempatan bersama Almira lagi" batin Devan. Dia sadar, dulu dia sudah membuang Almira padahal putrinya sangat membutuhkannya. Dia hanyut dalam dukanya karena kematian Kiara. Dia lupa kalau kebahagiaan putrinya jauh lebih berharga dari pada keinginannya sendiri.


***


Evander sudah bangun pagi-pagi sekali, dia sholat subuh dan mengaji. Wajahnya berseri-seri, di dalam pikirannya dipenuhi Almira. Dia seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta. Evander memang belum pernah jatuh cinta atau menyukai seorang wanita. Selama ini dia menutup dirinya dari yang berbau wanita. Itu membuatnya trauma dan benci pada wanita. Di matanya wanita sama saja seperti ibunya. Tapi kini hidupnya menghangat, seolah dia merasa hidup kembali. Almira menjadi tujuan hidupnya sekarang. Evander melihat ke atas dinding, waktu menunjukkan pukul 6 pagi, hari ini dia berencana mau mengantarkan Almira berangkat bekerja. Evander turun dari kamarnya untuk sarapan bersama ayahnya.


"Evan tumben kamu bangun pagi-pagi?" tanya Antony. Heran melihat Evander sudah rapi sepagi itu.

__ADS_1


"Iya Pa, aku mau mengantar Almira bekerja, kitakan satu perusahaan sekarang."


"Bagus kalau begitu, kamu akan sering bertemu Almira. Peluangmu kembali bersama Almira masih ada."


Antony senang sekali saat tahu Evander akan mengantar Almira, ini sebuah perkembangan baru dihidup Evander. Dia yang dulu dingin dan menutup diri dari wanita kini menghangat dan membuka hatinya untuk Almira mantan istrinya.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin demi Papa."


"Jika nanti kau kembali lagi dengan Almira jangan pernah sia-siakan dia lagi Evan. Almira wanita yang baik, bahagiakanlah dia!"


"Baik Pa."


"Oya, bawa sesuatu. Seperti bunga, bekal atau camilan untuknya, itu sebagai bentuk perhatian. Wanita biasanya suka diperhatikan dengan hal-hal kecil seperti itu."


"Papa benar, sekarang bukan saatnya bersantai seperti dulu, apalagi rivalku ada tiga. Aku tidak boleh kalah. Demi mendapatkan Almira kembali aku harus berusaha lebih keras lagi walaupun sebelumnya aku tak pernah melakukan hal itu," batin Evander.


"Iya Pa, makasih atas nasehatnya."


"Sama-sama, semangat Evan! Insya Allah Almira akan berkumpul lagi bersama kita."


Selesai sarapan Evander pamitan pada ayahnya, lalu dia menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Evander sengaja mengendarai mobilnya tanpa supir. Dia menuju ke rumah Almira.


***


Devan dan Queenza sudah sampai di depan rumah Almira. Queenza langsung turun dari mobil Devan Dia lari menuju rumah Almira, Devan turun dari mobil lalu mengejarnya. Kebetulan Almira juga membuka pintu rumahnya untuk berangkat kerja.


"Queenza kok pagi-pagi ada disini?" tanya Almira.


"Iya, Mama Almira ayo berangkat bersama Papa dan Queenza," jawab Queenza.


"Almira maaf, tadi Queenza minta berangkat bareng Almira," ucap Devan.

__ADS_1


Almira terdiam. Dia memikirkan tawaran Devan.


Di sisi lain Evander sampai di jalan gang rumah Almira, Evander melihat ada mobil Devan tepat di depan rumah Almira. Evander langsung menghentikan mobilnya, tidak jadi menuju ke depan rumah Almira. Dia memperhatikan Almira, Queenza dan Devan yang sedang berada di jalan depan rumah Almira.


"Aku kehilangan kesempatan lagi, sial!"


Evander begitu kecewa saat mendapati Almira terlihat bersama Devan dan anaknya. Dia merasa kehilangan kesempatan lagi karena kurang cepat.


"Sepertinya aku harus lebih intents, kalau tidak rival-rivalku yang lainnya lebih duluan. Gimana kalau sampai Almira suka salah satunya? tidak, aku harus menghentikan semua itu. Semangat Evan! Insya Allah Almira milikmu," batin Evander.


Dia mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Dia pergi ke perusahaan miliknya.


"Maaf Mas Devan, sepertinya aku naik bus saja. Terimakasih atas tawarannya." Almira berusaha menolak tawaran Devan dengan sopan.


"Mama Almira, Queenza maunya berangkat sama Mama Almira." Queenza merengek. Dia ingin sekali bisa berangkat bersama Almira.


"Maaf ya sayang, lain kali ya." Almira tersenyum pada Queenza.


"Ya udah, kami berangkat dulu Almira!" ucap Devan.


Almira mengangguk. Devan dan Queenza masuk ke mobil. Almira melambai dari kejauhan. Mobil Irfan keluar dari gang itu, kemudian Almira pergi ke halte bus.


Sampai di perusahaan, Almira berjalan masuk ke dalam perusahaan. Dia segera masuk ke ruang tempat dia bekerja. Pagi itu baru beberapa staf yang ada di ruangan akunting itu. Jam kerja pun dimulai Manajer Akunting mulai mengajari Almira pekerjaan barunya. Almira mulai mengerjakan pekerjaannya setelah diajarkan oleh Manager Akunting itu.


Almira terus bekerja sesuai bagiannya. Sementara itu Evander masuk ke ruangan akunting untuk menemui Manager Akunting. Evander menanyakan ini itu pada Manajer Akunting. Tak lama dia pergi dari ruang akunting, Evander balik lagi dan menanyakan ini itu pada Manajer akunting. Terhitung sudah tiga kali Evander keluar masuk ruangan akunting. Sampai beberapa staf akunting merasa aneh padanya.


"Kau lihat tadi Presdir bolak balik ruangan kita, padahal dari zaman dulu mana pernah dia masuk ruang akunting."


"Iya, paling dia minta sekretarisnya memanggil Manajer Akunting atau menelpon Manager Akunting minta ke ruangannya."


"Iya Tumben dia bolak balik keruangan kita, apa ada masalah ya ma akunting?"

__ADS_1


"Gak ah, semua benar dan terkendali, gak tau Presdir nanyain apaan?"


Evander bolak balik ke ruang akunting hanya untuk melihat Almira. Padahal sepanjang sejarah dia tidak pernah mau masuk ruang akunting kalau bukan sedang ada audit atau hal yang sangat penting. Evander mencari alasan ini itu supaya bisa masuk ke ruang akunting.Sambil bicara dengan Manajer Akunting, matanya sesekali memperhatikan Almira..


__ADS_2