Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Promo Novel Baru


__ADS_3

Mafia Merindukan Surga


Malam itu Markas Tengkorak Hitam sudah dikepung musuh. Anak buah sang mafia telah tumbang. Dia hanya bisa melihat kerusuhan yang tak terelakkan. Berdiri di dalam persembunyiaannya, bukan karena dia pengecut melainkan nyawanya terancam, musuhnya bukan tandingannya untuk saat ini. Melawan berarti mati. Sang mafia yang terkenal kejam dan sadis kini hanya bisa berdiam menunggu orang kepercayaannya datang memberi kabar.


Di dalam ruangan rahasia dia hanya bisa diam. Tak lama orang kepercayaannya datang menghampirinya.


"Bos semua anak buah kita lenyap, keadaan di luar sudah tak bisa dikendalikan lagi, tinggal menunggu mereka masuk atau kita melarikan diri."


"Melarikan diri? Kau pikir aku pengecut?" Emosi sang mafia naik, seakan dia diragukan kekuatannya. Padahal dia sudah membunuh banyak orang, tak pernah mengampuni siapapun yang melawannya. Sekarang harus kabur seperti pecundang yang takut kematian.


"Tidak Bos, tapi hanya ini yang bisa kita lakukan."


Sang mafia terdiam. Dia bukan orang bodoh, musuh di luar bisa saja membunuhnya dengan mudah. Dia harus mempertahankan kekuasaannya tapi tidak sekarang, dia butuh kekuatan untuk melawan.


"Ada jalan bawah tanah yang bisa Bos lalui, terhubung dengan saluran bawah tanah, Bos akan ke luar di atas penutup saluran dekat jalan raya."


Sang mafia masih terdiam. Kali ini dia benar-benar tak bisa melakukan apapun.


"Segera Bos! Mereka sudah dekat."


Sang mafia mengambil pistol, memasukkannya di dalam jasnya. Dia ke luar melalui jalan bawah tanah. Mengikuti petunjuk yang tadi diberitahu oleh anak buahnya. Sementara itu anak buahnya menghadang para musuh agar sang mafia bisa kabur.


Setelah perjalanan panjang di bawah tanah, sampai juga di penutup saluran. Sang mafia membuka tutup saluran itu. Ke luar dari dalam, kemudian berjalan di tepi jalan. Tiba-tiba beberapa anggota musuhnya mengepungnya. Dia harus melawan mereka. Terjadi baku hantam yang sengit. Sang mafia menggunakan pistolnya untuk melawan begitupun musuh, mereka saling menembak hingga sang mafia terkena peluru dibagian lengannya.


Sang mafia bergegas mencari tempat aman, dia bersembunyi di belakang pohon untuk bertahan dan melawan. Jumlah musuh tak sebanding dengannya, apalagi dia terluka sekarang.


"Aku harus kabur, tak ada pilihan."


Sang mafia terpaksa berlari, sejauh mungkin mengamankan diri dari kejaran musuh sambil tembak menembaki tak terelakkan.


Di sisi lain seorang pembunuh bayaran sedang menjalankan misinya untuk membunuh seorang. Pembunuh bayaran itu seorang wanita cantik yang kejam dan sadis. Selama hampir 5 tahun ini sudah membunuh puluhan orang tanpa belas kasih. Terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Sang pembunuh sudah berdiri di depan mangsa, bersiap membunuhnya. Pedang yang runcing selalu jadi senjata kesayangannya untuk mengakhiri semuanya. Namun saat tebasan itu hendak ditebaskan, suara mobil polisi mendatangi rumah besar itu. Konsentrasinya buyar.

__ADS_1


"Sial polisi!"


Sang pembunuh bayaran tak mungkin melanjutkan aksinya padahal pedang sudah ada di depan leher sang mangsa yang ketakutan.


Sang pembunuh berpikir untuk melarikan diri, itu cara satu-satunya saat ini. Dia melompat dari jendela. Naik ke pagar menggunakan alat khusus. Sampai di luar pagar, dia masih dibuntuti polisi, tak ada cara aman selain berlari sekuat tenaga, polisi terus mengejarnya dari belakang. Sang pembunuh tak sedikitpun menoleh ke belakang, nafasnya berpacu dengan langkah kakinya yang begitu cepat. Untuk saat ini dia sangat tenang meskipun ini pertama kalinya dikejar polisi. Semua benar-benar di luar rencananya.


Sang pembunuh mulai ditembaki polisi. Dia membalas serangan polisi dengan pistol miliknya. Namun lama-kelamaan pelurunya habis. Sang pembunuh harus berlari secepat mungkin atau tertembak dan tertangkap polisi. Dia melompat ke dalam pembatas berduri, lengannya sempat tergores hingga berdarah. Dia tak peduli, berlari di antara ilalang yang tinggi setinggi tubuhnya. Polisi mulai kehilangan jejaknya. Mereka berpencar, mencari keberadaannya.


Suara nafas tersengal-sengal, kaki yang terluka karena peluru dan lengan yang tergores membuatnya merasa sakit. Langkahnya mulai melamban. Dia terpaksa duduk di bawah semak-semak belukar. Mengatur nafasnya dan memegang kakinya yang terluka.


Tak disangka di dekatnya terdengar nafas yang juga tersengal-sengal dan suara rintihan yang sama dengannya. Dia menoleh ke samping. Sesosok lelaki mengenakan kemeja putih yang koyak, dengan luka peluru di lengannya dan beberapa luka sayat benda tajam di dadanya.


"Kau!" Sang pembunuh terkejut. Pikirannya kalut, rasa takut tertangkap membuatnya berpikir sang mafia adalah anggota kepolisian.


"Kau!" Sang mafia juga terkejut. Dia berpikir sang pembunuh salah seorang musuh yang mengejarnya.


Mereka mengambil senjata masing-masing. Berdiri, bersiap melawan satu sama lain. Sang pembunuh mengacungkan pedang sedangkan sang mafia mengacungkan pistol.


Sang mafia mulai menembak tapi ternyata pelurunya habis. Keadaan ini dimanfaatkan sang pembunuh untuk melawan dengan pedang panjangnya. Mereka baku hantam. Sang mafia masih memiliki sisa-sisa kehormatannya, dia mengerahkan kekuatannya untuk melawan sang pembunuh. Di titik lelah, mereka berdua sama-sama terjatuh di tanah. Mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga, keduanya sama-sama kuat.


"Sepertinya ada di sana." Suara dari kejauhan terdengar menggema. Mereka waspada, mungkin saja itu suara para pengejar. Mereka berlari ke arah yang sama.


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Wanita, kaulah yang mengikutiku, kau musuhkukan?"


"Enak saja, kau yang polisikan?"


Mereka berlari hingga sampai di sebuah jalan. Tepat di tepi jalan ada mobil pick up yang berhenti. Sang pengemudi sedang buang air kecil di dekat pohon. Keduanya masuk ke dalam bak mobil pick up yang tertutup terpal. Mobil pick up itu biasanya membawa sayuran dari desa ke kota. Setelah sayuran selesai dikirim, mereka bersiap kembali ke desa.


Di dalam keduanya hening. Tak mau berdebat apalagi saling melawan. Mereka sama-sama harus melarikan diri. Meskipun sama-sama curiga satu sama lain. Selang beberapa menit, mobil pick up melaju. Mereka hanya duduk dan beristirahat, mengikat luka peluru dengan menyobek kain baju mereka untuk menahan darah yang mengalir. Setelah 6 jam perjalanan, mobil sampai juga di desa. Segera mereka turun sebelum pengemudi mengetahui keberadaan mereka.

__ADS_1


"Kau mengikutiku lagikan."


"Aku takkan mengikutimu."


Mereka berdua mengambil jalan yang berbeda arah. Berjalan mencari tempat yang aman. Namun ternyata mereka bertemu kembali di sebuah kebun singkong yang luas.


"Kau!"


"Kau!"


Mereka berdebat, tapi tak melawan seperti sebelumnya. Tenaga keduanya sudah habis. Mereka memilih berdebat sepanjang jalan mencari tempat bersembunyi. Tanpa disadari mereka berjalan bersama hingga sampai di rumah kecil yang cukup jauh dari rumah penduduk sekitar. Rumah itu berada di tengah kebun dan sawah. Mereka berdiri di depan pintu rumah. Tak tahu harus berbuat apa.


"Ketuk pintunya!" perintah sang mafia.


"Aku pembunuh anti cara halus, habisi semua yang di dalam," ujar sang pembunuh.


"Kejam! Aku lebih suka menyiksa mereka sampai merengek minta mati," balas sang mafia.


Keduanya tersenyum sinis. Sama-sama kejam dan sadis.


"Ketuk pintunya! Aku tebas mereka!"


Sang mafia hanya menatap tajam sekilas ke arah sang pembunuh kemudian mengetuk pintu.


Tok!tok!tok!


Sang pembunuh bersiap dengan pedangnya hendak menebas pemilik rumah yang membuka pintu. Tak lama pintu terbuka. Baru sang pembunuh bersiap menebas, suara kecil menyejukkan hati terdengar ditelinganya.


"Assalamu'alaikum Abi, Umi," sapa anak lelaki kecil.


"Abi, Umi?" ucap sang mafia dan sang pembunuh.

__ADS_1



__ADS_2