Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Penyebab Trauma


__ADS_3

Almira dan Taka pergi ke cafe didepan rumah sakit itu. Mereka masuk ke cafe itu dan duduk dikursi yang telah dipilih. Taka memesan kopi hitam dan Almira memesan jus jeruk. Setelah pesanan datang, mereka meminum pesanan itu lalu Taka mulai berbicara pada Almira.


"Almira, namaku Taka Handika seorang Dokter Psikiater," ucap Taka.


Almira hanya diam.


"Evander adalah pasien ayahku sebelumnya. Setelah ayahku meninggal, aku menangani Evander. Evander mengalami trauma berat yang disebabkan oleh ibunya sejak dari kecil. Dia mendapatkan kekerasan psikis maupun fisik dari ibunya," ucap Taka.


Almira hanya diam mendengarkan.


"Sebenarnya akulah yang telah menyarankan Evander untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita untuk menyembuhkan traumanya terhadap ibunya.Karena ibunya, Evander begitu membenci wanita bahkan tidak ingin berhubungan dengan wanita sedikitpun," ucap Taka.


Almira hanya diam.


"Saat berkencan denganmu saat itu, akulah yang merencanakannya dan memilihmu sebagai pasangan kencan Evander. Aku senang saat itu Evander setuju berkencan denganmu sampai tiga kali bahkan kalian sampai menikah. Aku pikir Evander akan berubah dan bisa melupakan traumanya tapi dia malah melukaimu," ucap Taka.


Almira hanya diam.


"Evander sangat tersiksa selama ini karena traumanya,bahkan dia sering minum obat penenang setiap dia mengingat apa yang dilakukan ibunya padanya saat dia masih kecil," ucap Taka.


"Apa yang dilakukan ibunya pada Evander, Taka?"


tanya Almira.


"Begini ..." Taka menceritakan semuanya dari awal. Sesuai dengan cerita yang dia ketahui dari ayahnya tentang apa yang sudah dialami terus kan jauh sebelumnya.


Flash Back


Pagi itu Pak Antony sedang sarapan dengan Ibu Safira, dan Evander kecil. Saat itu Evander berusia 1 tahun. Di meja itu hanya tersedia lauk sederhana seperti sayur bayam dan tahu goreng. Mereka tinggal dirumah sederhana, hanya ada satu kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu. Rumahnya berukuran kecil dan terbuat dari tembok batako yang belum diplester. Ibu Safira bicara pada suaminya mengenai hidup mereka.


"Pak, tetangga pada punya motor, belum lagi Bu Indah beli perhiasan baru lagi, mereka kok kayanya gampang banget dapat duitnya. Kita gini-gini aja, susah mulu. Sampai bosan aku ngutang diwarung cuma buat ngambil tempe, tahu dan sayuran doang," ucap Ibu Safira.

__ADS_1


"Bu yang sabar nanti kalau bapak dapat kerja, bapak beliin Ibu perhiasan dan hidup kita akan lebih baik dari ini," sahut Pak Antony.


"Aku capek ya Pak hidup susah terus sama kamu. Padahal dulu aku ini banyak yang melamar. Sekarang lihat nasibku sengsara begini. Kalau bertemu dengan teman, malu banget, aku dekil dan kumel. Sementara mereka modis dan bergaya. Makanya Pak, cari kerja yang ngasilin duit banyak dong," ucap Ibu Safira.


"Iya Bu, kemarin Bapak dapat tawaran pekerjaan, jadi kuli bangunan di luar kota. Bayarannya lumayan dan bisa lembur sesuka hati asal mampu. Gimana Bu? apa bapak kerja ke luar kota saja?" tanya Pak Antony.


"Terserah yang penting kamu harus dapat uang banyak, kalau perlu jangan pulang kalau belum banyak duitnya. Kamu tinggal tranfer aja gak perlu pulang. Kerja yang rajin biar aku cepet bisa beli perhiasan dan motor," jawab Ibu Safira.


"Iya Bu, tapi jaga Evan dengan baik, dia masih kecil," ucap Pak Antony.


"Gampang, pokoknya cepetan berangkat ke luar kota Pak!" titah Ibu Safira.


Setelah Pak Antony pergi ke luar kota, Ibu Safira hanya berfoya-foya dengan uang yang dikirimkan Pak Antony. Sementara Evander kecil sering terlantar.


Empat Tahun Kemudian


Evander berusia 5 tahun setelah ayahnya pergi merantau dan belum pernah pulang. Ibu Safira tidak memperbolehkan Pak Antony pulang kalau belum kaya. Evander sangat kesepian dan sendirian, ibunya hanya sibuk shopping dan kumpul bersama teman-temannya. Bahkan dia tak pernah memasak untuk Evander, jika Evander minta makan selalu diberi wortel mentah. Hampir setiap hari Evander disiksa ibunya cuma karena gak punya uang untuk shopping dan mentraktir teman-temannya. Evander selalu ketakutan bila ibunya ada di rumah.


"Iya Bu," sahut Evander kecil.


"Pijat Ibu!" titah Ibu Safira.


"Ya Bu," jawab Evander kecil.


Evander memijat Ibunya dengan tangan kecilnya, karena lapar dia tidak punya tenaga untuk memijat Ibunya.


"Anak Tolol kamu bisa mijat gak sih?" tanya Ibu Safira.


"Bisa Bu," jawab Evander.


"Kamu ya mijatnya kok lemes gini, sini ikut Ibu!" ucap Ibu Safira.

__ADS_1


Ibu Safira menyeret Evander ke kamar mandi lalu menyuruhnya berendam bak mandi yang berisi air sampai sore.


"Diam di situ sampai sore! Jangan berani keluar dari bak mandi itu!" titah Ibu Safira.


"Iya Bu," jawab Evander. Dia masih kecil dihukum sampai sore, sampai bibirnya biru dan kedinginan.


Hari besoknya Evander membersihkan rumahnya atas perintah Ibunya. Evander kecil sudah seperti pembantu yang mengerjakan semua pekerjaan Ibunya seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika dan pekerjaan lainnya. Evander jarang diberi makan, ibunya hanya menyediakan wortel mentah untuknya. Terkadang jika ada tetangga yang kasihan, mereka memberi makanan untuk Evander kecil.


Suatu hari Evander kecil sedang menggosok baju Ibunya, tapi setrikanya terlalu panas hingga baju Ibunya gosong. Ibu Safira langsung marah dan menghukum Evander kecil dengan cambukan 20 kali. Tidak hanya itu terkadang Evander dipukul kayu, dicubit, ditendang, dijewer, dikurung di kandang ayam dari malam sampai pagi, bahkan 


setrika yang panas itu pernah ditempelkan ke pundak Evander oleh ibunya. Evander tidak hanya mendapat kekerasan fisik tapi dia juga mendapat kekerasan psikis, ibunya tak jarang bicara kasar pada Evander hingga melukai hatinya.


Pada suatu hari, Ibu Safira dijemput seorang laki-laki yang membawa mobil. Dia ikut bersama lelaki itu dan meninggalkan Evander. Evander berlari mengikuti ibunya.


"Ibu jangan tinggalkan Evan sendirian!" teriak Evander.


"Minggir anak tolol!" sahut Safira.


"Siapa sayang?" tanya Lelaki itu.


"Biasa pembantu, tunggu sebentar ya sayang! Aku bereskan dia dulu," jawab Ibu Safira. Dia menarik lengan Evander dan membawanya masuk ke dalam rumah. Evander dimasukkan ke dalam kamar lalu pintu kamar itu dikunci oleh Ibu Safira. Setelah itu dia mengunci pintu rumah itu dan meninggalkan Evander.


Satu Minggu Kemudian


Pak Antony pulang ke rumahnya,dia melihat rumahnya sepi. Lalu dia mengetuk pintu rumahnya.


Tuk....tuk....tuk...


"Bu, bapak pulang," ucap Pak Antony.


Berkali-kali memanggil tapi tak ada jawaban, akhirnya Pak Antony membuka pintu rumah itu dengan kunci yang dibawanya. Saat masuk rumah itu sepi, kotor dan penuh debu. Dia mencari istri dan anaknya. Lalu dia membuka pintu kamarnya, dia melihat Evander tertidur lemas di lantai. Pak Antony langsung menghampiri Evander dan memeluknya.

__ADS_1


"Evan, maafkan Bapak nak," ucap Pak Antony. Dia menyesal telah meninggalkan Evander selama bertahun-tahun. Ternyata istrinya tidak menjaga Evander dengan baik bahkan menelantarkannya dan menyiksanya. Sejak saat itu Evander mengalami trauma berat. Pak Antony membawanya ke Dokter Psikiater.


__ADS_2